Esa

Membahas Tuhan tidak akan habis seperti sifatnya. Bagaimana kita memahami Tuhan pun saya meyakini ada berbagai cara, kita bisa berusaha mencarinya atau bahkan secara tiba-tiba Dia datang kepada kita tanpa kita cari.

Dia bisa datang saat kita mengetuk pintu-pintu di kegelapan malam yang sunyi atau tiba-tiba muncul di sudut meja bar yang sedang riuhnya dengan tawa. Dia, ada di mana-mana.

Tapi saya hendak menceritakan bagaimana kita perlu menafsir ulang makna Tuhan yang sesungguhnya, khususnya dalam sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Pemilihan penggunaan kata Esa menjadi cara untuk kita untuk memahami keberadaan Tuhan dalam dimensi yang baru dan bisa jadi, melegakan bagi siapapun termasuk saya sendiri.

Esa dalam sila pertama pancasila selalu ditafsirkan dengan Tuhan Yang Maha Satu. Tuhan itu satu tidak peduli siapa Anda dan apa kepercayaan Anda, Tuhan kita itu satu ya satu.

Akibatnya, kita sering salah menjelaskan kepada mereka yang memiliki konsep Ketuhanan yang sedikit berbeda, namun bisakah kita menafsirkan Esa dengan cara lain?

Awalnya dari suatu diskusi yang panjang di kelas soal sila pertama ini, tapi saya malah googling dan menemukan hal lain, soal Esa dalam bahasa Sansekerta bukanlah berarti “Satu” ataupun “tunggal” seperti penjelasan dalam suatu forum di Kaskus:

Lalu saya menanyakan kepada Ivan Lanin dalam salah satu sambaran, dan terjadilah sahut pendapat yang panjang dan penuh perenungan.

Sahutan dari Bli Made, jika boleh disebut sebagai ahli Sansekerta menjadi perenungan yang dalam, Esa bukanlah Eka, akan tetapi juga bukan deklanasi (penyimpangan bahasa) dari Etad seperti dijelaskan dalam thread di Kaskus tadi.

Menurut Bli Made, kata Esa berasal dari kata Ish yang maknanya sama dengan makna Wish dalam bahasa Inggris.

Maha Esa, juga bukan dari kata Mahesa.

Sila pertama kita menyebut kata “Ketuhanan” bukan “Tuhan”

Makna Ketuhanan tentu akan berbeda dengan makna Tuhan. Ketuhanan berarti hal-hal yang bersifat Tuhan, sedangkan Tuhan bermakna Dia yang memang kita sembah.

Contoh penggunaan kata:

  • Tuhan kita satu, Allah
  • Aspek Ketuhanan harus ada dalam setiap peraturan yang diundang-undangkan.

Mari merenung kembali…