Lorong Gelap

Pada suatu masa,
Aku mencoba masuk dalam sebuah lorong
Yang gelapnya membutakan mata
Dan tutupi jalan pulang kepadaNya

Entah Lucifer apa yang menghasutku
Hingga aku berani mencoba memasukinya
Yang membuat jiwaku bahagia dalam kesemuan
Mengusir kebosanan untuk mencari kebahagiaan

Kebahagiaan adalah kamuflase dari kegelapan
Yang membuatku ingin terus masuk dan masuk lebih dalam
Menjelajahi jiwa yang kesepian
Yang membuat aku ketagihan

Persimpangan demi persimpangan
Kulalui dengan kenikmatan sesaat
Hingga puncak dosa mendera jiwa
Lelah,bosan, berdosa, dan terlanjur

Dan suatu ketika aku ingin pulang
Dari gelapnya lorong yang membutakan mataku ini
Aku terjatuh dan terluka
Hingga cacat mendera jiwa

Aku sudah terlalu jauh di dalam lorong gelap
Dan jiwaku sudah cacat
Sukmaku tak lagi suci
Namun aku mencoba menanti
Akan setitik cahayaMu
menuntunku kembali pulang

Biar

Biar kata mereka
Biar tingkah mereka
Tentangku!

Biar mereka bilang
Biar mereka anggap
Diri mereka tiada dosa

Biar saja mereka jatuh
Biar lobang dosa yang mereka gali
Biar mereka jatuh ke dalamnya

Bukan tugasku meneriakkinya
Biar jadi pelajaran mereka
Biar mereka belajar!

Biar saja
Biar mereka tahu atau tidak
Kan kubiarkan!

Plat Merah

Hari yang indah adalah hari yang berlalu dengan meninggalkan memori, apapun bentuknya memori itu, tentang keburukan, kebaikan, menyenangkan, menyengsarakan, memusingkan, penuh tantangan, bahagia, sedih, duka, yang pasti semua itu berakhir dengan masih adanya waktu untuk mengingat kejadian hari itu. Dan hari yang buruk, menurutku adalah hari dimana aku tak bisa mengingat apapun tentang hari itu, jadi berakhir tanpa memori, tak membekas sedikitpun.

 

Hari itu, aku duduk di beranda rumahku, memandang manjanya dedaunan yang diguyur rintik hujan, dan hiruk pikuk jalanan ibukota yang selalu penuh dengan kendaraan dan manusia yang beraneka rupa. Kadang aku tersenyum, kadang pula aku mengutuk, tapi seringnya aku bersedih.

 

Aku tersenyum karena memandang beberapa mobil mewah yang melintas di Avenue itu, aku mengutuk jika memandang begitu banyak mobil plat merah yang terlalu sering lewat, dan aku bersedih bila memandang beberapa pengemis yang anehnya juga sering lewat di depan rumahku. Dan aku bersedih lagi jika sadar bahwa sebuah mobil berplat merah itu bisa merubah hidup banyak pengemis yang sering lewat di depan rumahku, dan aku bersedih lagi bahwa bukan hanya mobil plat merah saja yang kami miliki, bahkan tanah dan rumah yang kami tempati ini juga sama derajatnya. Milik kantor Papi, Beliau yang saat ini sedang Study Banding di Amerika sana, mengenai “dampak kemerosotan ekonomi global pada Migas di dunia”.

 

Meskipun terkesan konyol dan dibuat-buat, toh Papi juga berangkat dengan senangnya. Mana masuk akal coba, sudah tentu kemrosotan ekonomi berimbas pada penjualan produk Migas, kok juga masih di study bandingkan? Tapi tak apa lah, setelahnya aku pasti dapat oleh-oleh yang bagus-bagus! Dan lagi Mami, dia pasti senang karena kemarin Mami titip oleh-oleh beberapa produk fasien yang ternama, asli dari negeri Paman Sam itu.

 

Lalu aku kembali bersedih setelah melihat seorang pemulung yang kehujanan lewat, Entah apa yang aku sedihkan, aku hidup enak bahkan mewah, aku selalu dimanja, meskipun aku tak memakai mobil plat merah ayah itu. Aku selalu dibelikan ayah mobil yang sesuai dengan perkembangan pasar, Mami juga, kami hidup enak dari kantor Papi yang memfasilitasi ayah mobil plat jinngga itu, makan kami, sekolahku, rumah ini, bahkan nyawa kami ini sebetulnya berasal dari kantor mobil plat merah itu.

 

Kok bisa? Tentu, karena asuransi kami juga berasal dari sana, sehat kami usai sakit juga berkat obat dari kantor ayah yang memfasilitasi mobil plat merah itu. Namun Mami lebih senang jika Papi mendapatkan jatah dalam bentuk uang, karena dengan begitu, Mami bisa membeli beberapa benda nan indah juga mewah, yang sering Beliau pertontonkan pada teman-teman arisan Beliau. Padahal aku tahu, itu sama derajatnya dengan mobil plat merah Papi. Tapi kukira semua orang juga tahu, Mamiku pun aku kira tahu darimana asal uang perhiasan itu.

 

Mobil plat merah ayah bernomor BU 5 UK, bermerk Kancil, mobil yang dipakai Papi itu terkenal akan kemewahannya dan kelincahannya di jalan, padahal jarak rumah ke kantor tempat Papi mendapatkan mobil plat merah itu tak lebih dari sekilo, tak ayal jika badan Papi jadi gemuk, terutama di bagian perutnya, sangat menonjol, adikku yang masih TK pernah bilang, “Perut Papi gemuk kayak gambar di baju Papi itu!” begitu ejeknya sambil menunjuk-nunjuk sebguah lambang yang tertempel di seragam dinas kantor Papi. Dan beberapa bulan setelah itu, lambang kantor Papi berubah, hingga kini diganti dengan lambang tiga coretan warna-warni yang malah sangat disukai adikku, karena warnanya mirip coretan-coretannya di kelas TK Nol Besar Maju Selangkah, tempat ia sekolah.

 

Meskipun pergantian lambang kantor papi itu menuai kontroversi karena biaya pergantian lambang itu mencapai beberapa miliar rupiah, toh terjadi juga. Anggota dewan yang tadinya bersuara lantang menolak perubahan lambang kantor Papi itu, hanya beberapa hari sesudahnya juga diam seperti yang lain. Entah karena apa, yang pasti setelah rapat tertutup dengan perusahaan Papi semua nampak damai, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Aku berhenti berfikir, dan memandang ke arah Avenue yang masih ramai oleh kendaraan, namun tak lagi diguyur gerimis. Aku tersenyum geli, entah kenapa yang pasti aku kembali bahagia. Buat apa aku bersedih saat ini, toh hidupku sudah menyenangkan, damai, dan bahagia, buat apa mengkritik Papi, toh aku bahagia dengan jatah yang lebih dari cukup, kalau hendak ku kritik yang pasti ukuran badannya yang super itu! Yah, sudahlah, biarkan hidup ini berlalu…

 

“Ijah…Ijah…!” Teriakku saat aku teringat kopi.

“Iya, Non.” Jawab Bi Ijah sambil mendekat.

“Kopi saya mana, Ijah?” tanyaku sedikit lirih.

“Maaf, Non, lupa.” Jawab Ijah sedikit takut

“Dasar Babu Bego!” dan hariku berubah menjadi buruk.

Per te

Kubuka sebuah kardus di gudang bawah rumahku, di dalamnya ada beberapa karya ilmiah dan sastra, serta kumpulan tesisku sewaktu di Indonesia yang belum sempat kupublikasikan. Tak sengaja terbaca olehku sebuah surat yang berisi sepenggal puisi , kembali kubaca dengan seksama penggalan puisi itu. Puisi tanpa judul itu malah mengingatkanku pada suatu mozaik di masa lalu yang sangat kusam, kiranya di buat oleh seseorang yang sempat membahagiakanku. Aku tersenyum rindu padanya, kini aku rindu sebagai sahabat, bukan yang terkasihnya lagi, pikirku.

“Kita ingin mencinta dan bersama

Namun tak bisa meskipun kita sama

Dan jika meskipun adalah karena

Maka kita tak bisa menentangnya

Karena takdir pisahkan kita

Selain kita,

Hanya Tuhanlah yang tahu”

XXX

Senja itu, dengan senyumnya yang khas dia datang lalu memeluk diriku yang masih merasakan rasa sakit di bagian pipi kiri, dia datang setelah ku kirimkan sebuah SMS padanya, karena hanya dialah yang bisa menyembuhkan luka dan sedihku selama ini, hanya dialah yang bisa menghidupkanku dari kematian dan keputus asaan ini. Hanya dengan datangnya dia, malakiat pencabut nyawa mungkin tak jadi mengambil ruhku yang telah merana ini.

“Kapankah kita bertemu pertama kali?” suaranya memecah suasana hening kamarku, dia berkata dengan nada serius sambil menyentuh luka di pipi kiriku dan mengoleskan sedikit obat merah.

“Saat aku memang mengharapkan dirimu hadir.” Seruku lirih padanya.

“Jadi, Tuhan kabulkan doamu.”

“Huh, ataukah setan yang memberi kesempatan ini?” tanyaku dengan nada tinggi.

“Mungkinkah?” jawabnya kembali bertanya padaku,“luakmu tak begitu parah, istirahatlah, matamu sayu, kau perlu tidur!”

“Maaf, Karena Tuhan tak mungkin berada dalam pihak kita.” Jawabku sambil tertunduk lesu, takut-takut melukai perasaanya, namun aku tak menghiraukan kata-katanya yang terakhir, tentang lukaku. Karena aku memang sudah tak peduli dengan lukaku ini, hanya dialah yang kukira masih peduli dengan luka yang terlalu sering hinggap di tubuhku ini. Lalu mengapa ku SMS dia, ah entahlah…

Selesai mengobatiku, dia duduk di sebuah kursi dekat jendela kamarku, memandang keluar jendela lalu mulai memetik gitarku dan menyanyikan sebuah lagu barat yang entah milik siapa, suaranya yang merdu terasa romantis di kamarku ini. Kupikir itu sebuah lagu Amerika latin yang sulit dihafal. Suaranya yang serak nan lembut membuatku sejenak merasa kedamaian hadir dalam hatiku. Lalu aku berbaring, mataku terasa berat dan sayup-sayup aku mendengar suara altonya yang merdu. Aku teringat Papah, lalu teringat luka di pipi kiriku, lalu aku pun tertidur.

Aku bangun dari tidur saat jam di dinding telah menunjukkan pukul 7.00 malam. Aku turun dari kamar, kudapati rumahku sudah tertutup, pintu, jendela, dan gordennya sudah ditutup. Lampu-lampu sudah dinyalakan, dalam benakku aku selalu berterima kasih padanya, atas segala bantuan, kasih, juga cinta tulusnya padaku. Dia begitu perhatian padaku, luka-lukaku selalu ia sembuhkan, dia selalu menghiburku saat aku sedih meratapi nasib, segala kebutuhanku ia yang cukupi, bahkan sekolah pun terkadang dia yang mencukupi. Entah dengan apa aku kan membalas budi baiknya, karena hanya dengan cintaku ini aku bisa membalasnya, itu pun hanya separuh hati, tak kan lebih.

Adzan Isya melantun lembut, segera aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya secara bersamaan. Menjamak Shalat memang kadang aku lakukan, mungkin karena aku itu pemalas, tapi kupikir ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Selesai Menjamak takhir Maghrib dan Isya, seperti biasa, setelah Shalat aku selalu berdoa pada Allah, aku memohon untuk kedua orang tuaku yang terpisah, untuk masa depanku yang aku risaukan, untuk kedamaaian hidup yang aku inginkan, untuk adikku yang aku rindukan, untuk dia yang mengasihiku, dan yang terakhir aku mohon ampun akan segala dosa-dosaku yang tak terampuni, mohon hidayah, dan agar aku tetap berada di jalan yang lurus, jalan yang diridhai, dan agar aku selalu ingat padaNya.

Aku berdoa tidak dengan bahasa Arab, hanya dalam bacaan Shalat. Dzikir, dan beberapa doa untuk orang tua dan kaum muslim dan muslimatlah aku berbahasa Arab. Untuk doa keluh kesahku, aku mengunakan bahasa Indonesia. Sehingga, ketika berdoa aku akan sangat lama, seolah-olah aku sedang berbincang-bincang dengan Allah secara langsung. Biasanya selesai Shalat aku, aku berdoa hingga 10an menit lamanya, namun jika aku sedang ada masalah, aku akan berdoa lebih lama sekali, aku akan berdzikir dan berdzikir, menyebut Asma Allah Yang Agung berulang-ulang baik dengan lisan maupun dalam hati.

Tepat selesai berdoa, Palm ku berdering mengalunkan lagu Star Light-nya Muse, tepat pukul 8.00 aku diingatkan untuk mengerjakan beberapa PR dari sekolah. Memang, aku sudah terbiasa mengatur alarm PDA untuk mengingatkanku beberapa hal yang penting, sepeti Shalat, mengerjakan PR, dan kegiatan-kegiatan lain. Namun, entah kenapa aku tadi tak mendengar Lantunan Adzan dari Masjid atau pun dari PDA, mungkin aku terlalu terlelap dalam tidur. Dan aku yakin, malam ini aku pasti terserang Insomnia, tak bisa tidur karena sorenya tidur terlalu lama.

Kubereskan perlengkapan Shalatku sambil mendengarkan lantunan alarm yang asyik, sengaja tak kumatikan karena lagunya memang merdu. “Star light… na na na na na….” aku lupa liriknya.

Kemudian aku mengerjakn PR yang tak terlalu banyak, Sastra Inggris dan Matematika yang tak terlalu sulit, hanya 20an menit saja. Setelah itu aku mencoba berbaring, Aku teringat akan adikku, Jasmine yang tinggaldengan Mamah di Bekasi. Kukirimkan sebuah SMS singkat padanya, ternyata dia juga belum tidur.

“Sdh tdr blm?”

“lom, np?”

“Kgen aja, kbr adk n ma2h gmn?”

“baek2 kuk”

“senin kk mo tanding lg, dtg ya!”

“ok, psti qt dtg ko”

“Ma2 diajk loh! dah y, met bo2, night!”

“yup, night”

Andai tiap hari aku bisa bertemu dengannya, namun inilah kehidupan yang kadang tak sempurna. Aku ingat kata-kata Mamah ‘Kesempurnaan terkadang lahir justru ketika manusia itu sendiri tidak sempurna’, katanya sambil membuka-buka majalah Fashion Weekly. Masih terngiang kata-kata Mamah itu, aku jadi sangat merindukannya. Sejak sepekan yang lalu aku memang tak berjumpa lagi dengannya. Aku ingin mengirim sebuah SMS selamat malam padanya. Tetapi…

Ah, biarkan saja, aku memang terkadang malas untuk menyapanya. Dulu, aku sangat sering mengirimkan ucapan selamat malam padanya meskipun tak pernah dibalas olehnya. Hingga aku jadi malas untuk buang-buang pulsa, untuk sesuatu yang tidak berguna, Jashmine pun kadang juga begitu. Dia jarang call atau bahkan SMS padaku. Kalau bukan aku yang SMS duluan. Mungkin watak Mamah memang sedikit menular padanya. Anak cewek yang innocence.

Aku merasa belum mengantuk, kuganti baju dengan Piyama lalu turun untuk membuat secangkir Java’s Tea, Tea kesukaan Papah yang tak pernah absen dari lemari dapur. Kupanaskan air dan kuracik sesendok kecil Java’s Tea dengan sesendok besar gula pasir. Lalu kudengar bunyi mobil menderu di halaman rumah. Aku yakin, itu mobil Papah yang baru pulang dari kantor.

Papah masuk rumah, dan langsung menuju dapur tempatku meracik tea, kusapa dia dengan penuh keikhlasan.

“Malam, Pah.” Sapaku dengan nada rendah seolah-olah sore tadi tak pernah terjadi apapun. “Mau Tea? Masih hangat, baru aku seduh.” Mencoba berbasa-basi.

Dia hanya menganguk dan mengambil secangkir Tea-ku yang baru aku buat.

“Buatkan aku satu lagi!” perintahnya sambil lalu, kemudian menuju ruang tamu.

Aku mengangguk, dan dengan sedikit kesal kubuat dua cangkir Tea lagi, satu untuknya dan satu untukku tentunya. Kusiapkan nampan lalu kuantar secangkir Tea ke depan, dan alangkah terkejutnya aku. Ada seorang wanita yang duduk bersanding dengan Papah. Wanita itu cantik dan muda, aku yakin, dia juga salah satu model Agency Papah. Wajah dan tubuhnya nampak asing untukku, kupikir dia adalah wanita Indo alias peranakan, yang pasti direkrut oleh Papah untuk jadi model baru. Kuhilangkan segala prasangka dalam benakku, kusuguhkan Tea padanya.

“Tea, Kak.” Sapaku.

“Siapa dia?” Tanya wanita itu pada Papah dengan nada heran. “Kau..”

“Dia, anakku, tahu kan? Roselean?.” Kata Papah menyela bicaranya dan menyebut nama Mamah.

“Oh, I think he life with his Mom, Hmm, Nice Guy.” Katanya sambil memandangku dengan pandangan menjijikkan.“Not like you Al, ha ha ha!” tawanya sendiri mengila.

Aku segera pergi ke atas menuju kamarku, aku tak tahu pembicaraan selanjutnya yang masih terdengar samar-samar. Yang kuingginkan hanya pergi dari ruang itu, untuk tak lagi mendengar kegilaan hidup. Aku berbaring dan menatap langit-langit kamar.

“Papah, tentu dia sudah lupa dengan Mamah!” Kataku lirih.”Tentu kesempatan untuk bersama sudah pupus, Papah tak akan pernah memaafkan kelakuan Mamah sampai kapanpun. Meskipun aku juga, aku masih mencoba berusaha mencari sela-sela kemungkinan untuk mereka bersatu kembali, aku menyerah, sudah habis kesempatanku untuk mereka.

Hidup-hidup, mengapakah kau serumit ini, Oh Allah…” seruku lirih.

Aku seperti ingin pergi dari sini, ingin berlari jauh dari dunia yang tak lagi pantas disebut sebagai dunia ini. Namun, aku tak ada daya, aku hanya lelaki kecil lemah yang selalu mencoba hal yang terbaik, meskipun sangat tak bisa aku melakukannya. Suara gelak tawa wanita itu terdengar hingga kamarku, kututup telinga dan mataku dengan bantal, aku mencoba untuk tidur dan melupakan semua, dan aku berhasil, aku tertidur pulas malam ini.

Subuh aku bangun untuk Shalat, saat melewati kamar Papah, kulihat kamarnya masih terkunci, mereka masih tertidur pulas pikirku. Aku Shalat Subuh tak terlalu lama, karena kurasa perutku melilit, aku merasa kelaparan karena semalam lupa makan. Akhirnya kuputuskan makan beberapa roti tawar di meja makan dengan lahap.

Kubuka Kulkas untuk mengambil air minum, dan kudapati Java’s Tea-ku yang kubuat semalam berada disana. Hmm, Papah, bagaimanapun kau tetap menyayangiku, meskipun dengan caranya sendiri. Aku tersenyum kecil…

Kuteruskan pagiku dengan jogging di sekitar komplek rumahku. Dari kejauhan kulihat sebuah Jaguar berhenti di depan rumahnya, kemudian menurunkan sesosok wanita cantik yang berpenampilan kacau. Dia pasti baru pulang dari Clubbing, setan wanita, bitch, tapi aku sapa juga dia ketika kumelewatinya.

“Pagi, Tante.” Sapaku mencoba beramah tamah.

“Oh, Boy, ganteng bener kau, pagi-pagi sudah berolahraga, pantas badanmu kekar seperti itu.” Katanya tersenyum nakal sambil membuka gerbang rumahnya. Artis murahan ini pasti masih terpengaruh alcohol, pikirku, kubiarkan kata-katanya meluncur tanpa ku jawab. Aku lihat sekeliling rumahnya, dan nampaknya dia masih tidur dengan kesendiriannya.

“Boy?” tanyanya padaku memperjelas.

“Ya, tante biar aku bisa berpikir normal.” Kataku sambil lalu, dan aku tak lihat ekspresi tante girang itu selanjutnya, karena aku terus melanjutkan jogingku.

XXX

Aku mencoba lagi menyatukan potongan-potongan peristiwa yang mungkin masih kuingat. Tentang kehidupan masa laluku yang sangat sulit di tanah air. Namun, memang antara ingin dan tak ingin aku mulai menghapusnya berlahan-lahan. Aku tak mau lagi mengingatnya, karena sungguh pedih untuk dikenang. Pikiranku buyar saat Stephanie memangilku dari atas.

“Daddy, are you there?” teriaknya di pintu gudang.

“Ya, honey, what’s going on?”

“Jasmine waits you on phone, Dad.”

“Your aunt, Jashmine?”

“Yes, I think!”

“Ya, wait a min!”

Segera ku bergegas ke atas dan kuangkat telepon dari Jashmine di Malaysia.

“Assalamu’alaikum, Jashmine?” sapaku.

“Wa’alaikum salam, ya ini aku Bang.”

“Ada apa tumben telephone?”

“Aku hanya mengabarkan padamu, jika tadi di infotaiment sini ada kabar kalau Dr.Sam, kau tahu?”

“Ya, Dr.Sam,” jantungku berdetak kencang mendengar namanya. “Ada apa?”

“Malam tadi beliau pulang ke Rahmatullah Bang. Berita itu juga ada di Malaysia, kau tahu kan, istrinya nan cantik itu orang Malaysia sini. Dan kupikir kau mau mengetahuinya? Dia kan akrab denganmu..”

Sejenak aku tak berucap apa-apa, aku memandang keluar jendela rumahku. Disana ada Jessica dan Stephanie. Dengan pakaian pantai, mereka bermandikan cahaya musim panas di halaman.

“Bang , kau masih di sana?” Tanya Jashmine.

“Oh, ya Jashmine, I am going to call you letter.”

“Ah, iya, Wasalamu’alaikum ya Bang.”

“Thank’s ya Jas, Wa’alaikumsalam.”

Kututup telepon dari Jashmine dengan sebuah perasaan yang tak mudah di ungkapkan.Kuputuskan untuk keluar menuju halaman dan bergabung dengan anak dan istriku untuk mandi cahaya. Kubuka bajuku dan saat itu Jessica bertanya padaku.

“Jashmine? is not Ied Mubarok, And?” tanyanya sedikit heran.

“Nope, Ied mubarok still three mounts again, she just say hello to me and you all.”

“Oh, not like ordinary days.”

“Humm…” kataku sambil tidur di samping Jessica.

Summer di California memang menyenangkan, tak akan kupikirkan lagi masa-masa lalu itu. Seperti artis-artis Indonesia yang bilang ‘hidup bagai air yang terus mengalir’. Aku tersenyum sendiri mengingat polah artis Indonesia di zamanku dulu. Hingga aku tak sadar jika Jess menatapku.

“And?” tanyanya dengan sedikit curiga.

“Nothing, Jess.” Kataku sambil mencium bibir manisnya. Lama sekali kucium bibir Jess, karena memang tak akan pernah puas aku mencium bibir wanita Columbia

ini. Lalu ciumanku berhenti saat Stephanie menyalakan radionya, dan radio itu menyanyikan sebuah tembang yang aku ingat.

“Per’te, per te vivro

L’amore vincera

Con’te, con’te avero

Mille giorni di felcita

…” *

Aku merinding mendengarkan lagu Amerika Latin itu, seolah dia sedang ada di sini sekarang. Memandang diriku dengan anak dan istriku, dan hampir aku bisa merasakan kesendiriannya di alam sana.

“Inna’ilaihi Wa Inna Ilaihi Raji’un.” seruku lirih.

“Dad, who die?” Tanya Jessy dan Stephy bersamaan.

*Per te (separate)

Marco Marinageli song.

Gadis

Langkahnya dipercepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi. Dia menyusuri sepanjang Jalan Nestville dengan terburu-buru. Dia sedang menuju ke ujung pertigaan Jalan Nestville yang letaknya masih jauh terlihat di depan, disana sesorang telah menunggunya untuk berjumpa. Dia melihat ke arah barat, matahari mulai kembali ke peraduannya. Sebuah senyum mengambang di bibir seksinya.

Saat pertigaan Nestville tampak jelas di depan matanya, dia tersenyum. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, karena dia terlihat bahagia sekaligus misterius. Padahal kekasihnya yang sedang menunggunya di seberang jalan itu terlihat bermuka masam.

Sekelompok preman dan pengamen jalanan bergerombol di sudut perempatan jalan. Salah seorang diantaranya adalah kekasih si gadis tadi, kekasihnya pun seorang preman. Kekasih yang baru dikenal sebulan itu memiliki badan gagah, tegap, dan bermuka tampan, namun preman tetaplah preman. Dengan dandanannya yang kumal dan tidak sedap dipandang mata itu. Sungguh sangat beruntung jika salah satu wanitanya adalah seorang gadis kelas 1 SMA, anak seorang pekerja tambang di Neoport.

Saat melihat kedatangan gadisnya, perasaan preman itu sangat campur aduk. Dia sangat marah karena sudah lebih dari seperempat jam dia telah menunggu di seberang jalan itu. Dan dengan muka yang cemberut ala preman, dia menyebrangi Jalan Nestville. Dia menyabrang tanpa memperhatikan jalan yang ramai. Sampai-sampai hampir saja dia tertabrak sebuah Baleno hitam yang melintas di pertigaan jalan dengan ngebut.

“Setan, punya mata ngak sih!” teriak pengemudi mobil itu ketika tepat merem mobilnya di depan tubuh si preman.

“Fuck!!!” jawab si preman tanpa ada rasa bersalah sambil mengacungkan jari tengahnya.

Si gadis yang melihat kekasihnya yang hampir tertabrak itu menjerit. Dia menjerit aneh, entah apa yang ia jeritkan. Karena saat dia sudah tersadar dari suatu hal yang lewat tadi. Kekasihnya sudah sampai di hadapannya. Bau alchohol bercampur rokok menusuk hidung gadis itu. Sebetulnya itulah yang amat dia sukai. Karena menurutnya, lelaki yang gagah itu ya seperti itu, suka minum-minum, merokok dan main… Yang itu dia paling membencinya.

Si Gadis langsung menciumnya dan tersenyum, dan bagai panas di musim kemarau yang diguyur gerimis. Kemarahan preman pun seolah-olah mereda dengan sendirinya. Gadis itu sangat pandai merayu, hanya dengan sebuah ciuman saja, seorang lelaki yang sangat ditakuti di Wall Nest takluk padanya.

“Kenapa kau terlambat?” Tanya si preman dengan nada tinggi.
“Ummm… Baby, sorry, lama yah? Aku tadi kesiangan, di sekolah banyak PR.” Rayu si gadis.
“Ya udah, sabtu depan kalau ga mau pulang malam. Pulang sekolah langsung kesini! Ga usah sliweran lagi”

“tenang Baby, besok khan minggu.” Jawab gadis sambil menggandeng si preman berjalan menuju ke utara.
“tunggu!” sela si preman.
“Apa bab?” Tanya si gadis.
Si preman melirik dan berkata “Apa kau lupa?”
“Oh iya.” Gadis itu ingat sesuatu. “Ini Baby.” Kata gadis itu sambil mengeluarkan sebungkus rokok Marlioboro dari tas punggungnya. “Dan aku juga bawa ini,” katanya sambil memperlihatkan sebotol Jack Daniel.

Kemudian mereka berdua berjalan ke utara menuju Nest Garden. Bergandengan tangan dan sesekali berciuman. Matahari malu-malu mulai kembali ke peraduannya. Langit sore Nest City terlihat indah sekaligus misterius untuk dipandang.

Malam hari di Imperium Apartement, 4’th Floor, 11.45 pm.

Si gadis membuka pintu apartemennya, lalu menghidupkan lampu ruang tamu.

“click” bunyi saklar memecah keheningan.
“Dari mana saja kau?” Tanya seseorang yang duduk di sebuah sofa.
Si gadis tersentak kaget, tetapi dengan sigap dia berteriak kegirangan.
“Daddy, kapan pulang?”
“Dari-Mana-Saja-Kau?” kata ayahnya dengan tegas.
“Umm, maaf, Dad,” Gadis itu berfikir mencari sebuah alasan. “Tadi sore aku pikir akan menginap di rumah Angeline, tapi hingga jam ini aku rindu untuk tidur di rumah sendiri.”
Ayahnya diam, namun tetap menatapnya dengan pandangan tajam.
“Mungkin aku sudah ada firasat kalau Dady pulang hari ini.” Katanya sambil tersenyum. “Aku mau tidur, Dad. Night.” Katanya sambil menuju ke kamar.

Ayahnya hanya diam, dia pikir kata-kata anaknya memang masuk akal. Lalu dia menuju ke minibarnya untuk menenagkan pikirannya, lalu dia mengambil sebotol Jack Daniel dan meneguknya. Di tegukan kedua, dia berhenti meneguk Birnya, lalu menghitung jumlah Jack Daniel di rak.

“Tujuh, kupikir kemarin ada sembilan. Satu dua… tujuh dan delapan dengan yang kuminum ini. Kemana yang satunya lagi?” Pikirnya dengan penuh prasangka.

“Apakah anakku? dia gadis Bung.” Pikirnya membantah prasangka. Dia lalu menuju kamar anak gadisnya untuk menannyakan minumannya, dan saat hendak mengetuk pintu kamar anaknya itu dia berhenti sejenak, dia mengurungkan niatnya setelah sadar kalau jam di dinding sudah menujukkan pukul 12 malam.

“Besok saja.” Pikirnya. Dan dia melanjutkan minum-minumnya di meja minibar.

Si gadis dengan dada berkecamuk berdiri di balik pintu kamarnya. Dia pikir ayahnya sadar jika sebotol minumannya lenyap dari rak minibar. Namun ia sedikit lega, karena ayahnya tak jadi mengetuk pintu kamarnya. Setidaknya untuk sementara, hingga ia bisa mencari alasan yang masuk akal untuk esoknya.

***

Esok paginya di meja makan, si ayah mencoba berbicara dengan anak gadisnya. Sambil makan mereka meyaksikan Nesty News di channel 7.

“Nat, aku tahu kamu merasa sendiri di sini.” Kata ayahnya bersaing dengan suara TV. “Apa kau betul-betul merasa sendirian di sini, Nat?” Tanya ayah si gadis. Namun tak dijawab oleh anaknya itu.

“Pemirsa.” Suara wanita penyiar berita memecah keheningan mereka.”Sesosok mayat ditemukan di Nest Garden pagi ini. Mayat seorang pria ini diduga mati karena diracuni oleh seseoarang, malam tadi. Mayat pria yang diduga preman dari pertigaan Nestville St ini kemungkinan besar mati diracun, karena tubuhnya membiru dan mulutnya berbusa, kemungkinan tersangka adalah salah satu pacarnya. Ya, preman ini, menurut masyarakat setempat adalah seorang playboy, kini tersangka.”

“Click…” TV dimatikan oleh ayah si gadis.

“Nat?” Tanya ayah si gadis.

“Iya ayah.” Si gadis terlihat menenangkan dirinya. “Yah, bila kau tanyakan itu, harus kujawab apa. Aku takut melukaimu jika aku berkata jujur.” Jawab si gadis dengan cepat.

“Itu, sudah menjawab, Nat?”

Tak berselang lama, Ketukan keras menghentak pintu apartemen mereka, memecah keheningan sarapan pagi yang tegang itu.

“Buka pintu, ini Polisi Nestville!” teriak seseorang dari luar.

“Ya, tunggu!” jawab si ayah sambil memandang anak gadisnya yang tiba-tiba berwajah ketakutan.

Semuanya berjalan dengan cepat, si gadis ditangkap oleh polisi dengan tuduhan sebuah pembunuhan berencana. Dengan korbannya seorang preman, malam tadi di Nest Garden. Ayah si gadis terlihat sangat syok berat, dia tak menyangka jika anak semata wayangnya dijadikan tersangka oleh polisi.

***

Hari demi hari telah berlalu, proses pemeriksaan, reka ulang, dan persidanggan berjalan dengan apa adanya. Pidana yang dituduhkan pada si gadis hanyalah pidana ringan, dengan motif cemburu buta, karena si gadis dianggap masih berada di bawah umur, si gadis tidak dimasukkan ke penjara. Si gadis hanya dimasukkan ke panti rehabilitasi khusus remaja selama beberapa bulan, setelah itu dikembalikan lagi ke orang tuanya, tepatnya ke ayahnya.

Si gadis nampak begitu murung, matanya sayu dan badannya kurus kering. Ayahnya berulang kali menyemangatinya untuk melupakan masa lalunya. Meeskipun begitu, kondisinya tidak banyak berubah, Si gadis malah sering diserang berbagai penyakit, badannya sangat tidak stabil. Dia yang dulu terlihat sebagai gadis cantik dan enerjik, kini terlihat seperti gadis berpenyakit yang lemah.

Suatu hari ayahnya membawa si gadis ke rumah sakit untuk diperiksa,

“Ny.Natalie Anderson.” Panggil seoarang suster.

Si gadis yang lemah itu kemudian masuk dan diperiksa oleh dokter. Setelah diperiksa, ayah si gadis diberitahu penyakit apa yang menimpa putri semata wayangnya itu. Namun entah kenapa, si gadis tidak pernah diberitajukan apa penyakit yang menimpanya. Yang ia tahu, setiap hari ia harus menelan banyak obat dan harus rutin check kesehatan tiap bulannya di rumah sakit.

Hingga saat ulang tahun ke-20 tahun, si gadis tidak pernah diberitahu, si gadis juga tak pernah bertanya pada ayahnya, prihal penyakit apa yang menyerangnya. Hari berlalu dan berganti, namun obat dan check ke dokter tak pernah berhenti. Si gadis menjadi gadis yang sangat pendiam, hingga suatu hari ayahnya telah siap memberitahukan prihal penyakit putrinya pada putri tercintanaya itu.

“Nat, kau telah dewasa, kini saatnya kau tahu apa penyakitmu itu.” Kata ayahnya lirih pada si gadis yang berbaring lesu di tempat tidurnya. “Kau siap?”
“Yah,” Kata si gadis pelan. “Aku sudah tahu, yah, tak perlu kau katakana padakau prihal penyakit ini,”
“Jadi kau sudah tahu, Nat? tabahlah anakku, aku ada di sini bersamamu.”
“Iya, Yah, itulah kenapa aku membunuh preman brengsek itu! Karena dialah yang menularkannya.” Kata si gadis dengan nada menggebu-gebu.

“Oh, anakku…” Kata ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Yah, aku sayang padamu yah, maafkan semua dosaku padamu, yah.” Kata si gadis sambil menangis.

Ayahnya tidak menjawab, karena menangis tersedu-sedu meratapi nasib anaknya. Kemudian tak ada suara percakapan diantara mereka, hanya suara tangis ayah si gadis yang terdengar di kamar itu. Kemudian semua terasa hening, lalu tiba-tiba si ayah berteriak sekeras-kerasnya sambil memeluk anak gadisnya, ayahnya berteriak dan berteriak hingga seluruh gedung apartemen bisa mendengar dan merasakan sakit hati yang dirasakannya, tangisan dan teriakkan begitu mengiris nurani, karena kini si gadis, putri tercintanya dan satu-satunya telah menyusul ibunya di suatu tempat yang jauh dari ayahnya itu.