Adele, dan Alogaritma Doa

 Menurut logika Ibnu Rushd yang disandarkan pada cara pikir deduktif Aristoteles. Setiap doa-doa yang kita panjatkan pasti tidak akan dikabulkan oleh Tuhan. Kenapa demikian?

Ibnu Rushd bilang Tuhan tidak mungkin bergantung pada kehendak manusia. Tuhan adalah suatu maha dzat yang tidak dapat kita mengerti kecuali melalui perumpamaan saja. Tuhan tidak mungkin mengurusi hal-hal sepele seperti permintaan remeh temeh dalam hidup kita.

Jika dengan kita berdoa maka Tuhan mengabulkan, maka Dia tak lagi menjadi Tuhan Yang Maha yang hidup di alam ide. Karena tak mungkin Dia bisa bergantung dengan kehendak fana kita. Tuhan, dalam berbagai amsal disebutkan telah beristirahat seusai mencipta semesta raya.

“Istilah ‘doa’ disalah-tafsirkan sebagai mantra penolak bala atau pemberi berkah oleh banyak orang. Padahal doa tak lain hanyalah pemberian sugesti positif kepada otak untuk merangsang suatu tujuan yang mungkin susah dicapai.”

Manusia mengenal kepastian hidup kini-nanti dengan takdir, sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan sendiri sebelum yang ada dan disebut diciptakan. Kabar baiknya, Tuhan menciptakan keteraturan dalam alogaritma kehidupan yang bisa atau belum bisa kita pahami.

Ambil contoh bagaimana semesta raya bergerak mulai dari gerak gravitasi bumi hingga bebintangan yang dapat dijabarkan dalam rumus-rumus Newton hingga Einstein. Bisa jadi saya ambil kesimpulan, ini juga kehendak Tuhan yang tidak dapat dipungkiri.

Pun juga dalam kehidupan ada rumusannya, jika kita telah berusaha sungguh-sungguh maka besar kemungkinan kita akan meraih apa yang kita usahakan tadi, begitu juga sebaliknya, kita bisa gagal mendapatkan apa yang kita inginkan jika tanpa disertai usaha lebih.

Ini hanyalah prihal hitung-hitungan matematis dalam rumusan peluang belaka.  Mari belajar dari kegigihan para ilmuwan yang melakukan ratusan percobaan demi menemukan dan membuktikan suatu teori dan kebenaaran. 

Ingin kaya raya, maka kita wajib kerja keras jika bukan dari keturunan ningrat. Ingin tampil menawan nan menggoda maka berdandan hingga reparasi dibutuhkan jika memang tidak terlahir menawan. Ingin sehat maka gaya hidup ya harus sehat. Hingga ingin cepat mati pun ada banyak cara…

Namun, ada juga alogaritma Tuhan yang tidak kita pahami. Misalnya, kenapa Isa bisa lahir dari perawan suci Maria. Kenapa Musa yang gagap tak pandai bicara justru disuruh menceramahi Firaun. Atau mengapa yang tidak bisa baca dan tulis bahkan keturunan Arab yang dikenal bangsa terbelakang bisa terpilih menjadi Rasul pun merupakan sekian contoh dari alogaritma Tuhan yan tidak kita pahami.

Atau sebetulnya hanya dapat dipahami dengan keyakinan yang sering kita sebut sebagai iman.

“Kenapa disebut alogaritma karena segala sesuatu yang Tuhan ciptakan berimbang atau adil disertai dengan suatu fungsi atau rumusan. Bukan sekedar asal-asalan atau suka-suka Tuhan seperti penganut Chaostic tuduhkan”

Lantas buat apa kita hidup jika segala sesuatu telah digariskan, siapa yang gagal dan siapa yang menang. Siapa yang rupawan siapa yang karuan. Ini hanya sebuah prinsip dan motivasi dari segala pilihan-pilihan yang pada dasarnya telah melalui jutaan tahun kemungkinan dan evolusi. Beruntunglah kita yang mengenal Darwin dan Dawkins yang membantu menyelamatkan kita.

Mulai dari makhluk ber-sel tunggal hingga tergalau saat ini, kita dimotivasi untuk bertahan hidup atau survival. Juga apa yang paling sering kita senangi saat sekedar memperoleh peluang terbaik. Pada satu titik kita akan ketemu  dengan keberuntungan dan lebih seringnya adalaha kesialan.

Survival adalah kunci mengapa kita menjadi makhluk semaju ini. Penjelasan ini datang dari Carl Sagan dengan penyampaian fakta yang terhampar begitu jelasnya. Kenapa kita berkembang biak dan saling berkompetisi adalah bagian dari survival yang telah kita jalani semenjak Tuhan menciptakan makhluk bersel tunggal.

Bagaimana kita hewan yang dipanggil manusia, mamalia tepatnya, lahir dari pembuahan hanya dari satu sel sperma dan satu sel telur yang berlomba-lomba dari jutaan sperma dan telur, merupakan salah satu contoh  hasil rumusan survival dan keberuntungan acak yang tak terhindarkan.

 

Evolusi menciptakan kemajuan juga kemunduran karena ada keberuntungan dan kesialan di dalambya. Beruang cokelat tidak kita jumpai di antartika yang dingin karena yang bertahan adalah beruang putih yang bisa mengelabui mangsa dalam warna putih salju. Contoh ini hanya satu hal kecil daru milyaran lebih kemungkinan dalam keberuntungan dan kesialan yang dialami semesta kita.

Pada satu titik kita mulai berpikir, bisakah kita menisbikan segala jenis kesialan dalam kehidupan. Tentu sangat utopis dan tidak akan mungkin terjadi dalam waktu dekat. Tetapi yang pasti, kita si homo sapiens yang baru hadir baru 200 ribu tahun lalu ini ingin membalikkan kemungkinan, ketakutan, dan ketidakpastian dalam hidup.

Berbagai kemajuan telah dilakukan, dan satu yang pasti terus berkembang jika kita manusia tak sesial dinosaurus, adalah harapan pada perkembangan aneka rupa teknologi yang membantu kita mulai dari hidup lebih mudah hingga menemukan kembali definisi sebagai manusia.

Bisa dikatakan kita sedang mencari rumusan untuk melawan takdir Tuhan. Menisbikan segala kemungkinan akan kegagalan dan ketidakpastian dengan lompatan kuantum takdir. Apa yang sebetulnya para filsuf ribuan tahun lalu dan ilmuwan modern saat ini telah memberikan kuncinya, mungkin hanya sekedar membawa diri kita ke “alam ide” kata para filsuf atau “alam kode” kata para ilmuwan.

Sebuah narasi pembuka

Adele si kaki lincah, digadang-gadangkan akan menjadi penari termuda yang akan diterima di New York City Ballet. Muda, lentur, menawan, berambut pirang dan telah memperoleh banyak poin pujian di berbagai pertunjukan ballet kelas pemula di Amerika Serikat.

Pada suatu sore di musim dingin yang beku, suatu insiden kecil mengubah seketika cita-citanya. Dia tertabrak taksi  hingga kaki kirinya hancur, bersamaan dengan harapanya menjadi penari profesional.

Itu adalah suatu titik dimana suatu ketidakberuntungan yang sebenarnya bisa saja dihindari jika Adele sedikit berlama-lama mengikat tali sepatunya. Atau tidak pulang tepat waktu karena ingin belajar grand pas de deux lebih sempurna. Atau ngerumpi dulu dengan sobatnya sehingga ia tidak dengan riang keluar kelas hingga terpleset dan tertabrak taksi.

Kesialan yang sebetulnya juga bisa dihindari jika supir taksi  tidak ngopi sambil baca koran dulu. Atau beberapa detik berlama-lama di depan cermin. Atau memperoleh penumpang di blok lainnya.

Sejarah akhirnya mencatat, bukan Adele yang menjadi anggota termuda pertama New York City Ballet, melainkan Claire beberapa tahun kemudian.

Naas memang, namun itulah yang terjadi dengan Adele dan jutaan makhluk hidup yang sudah, telah dan akan kita semua hadapi di alam semesta ini.

Subjek seperti Adele, teman Adele, supir taksi dan Claire bisa saja menjadi saya, Anda, mereka atau yang lainnya. Rambut pirang bisa jadi hitam, perak atau ungu. Kejadian seperti tertabrak taksi bisa jadi cuma tertabrak mantan, tertabrak tukang bakso, atau tertabrak truk tronton. Kota New York bisa diubah menjadi New Delhi, Prabumulih atau Salatiga. New York City Ballet bisa jadi kampus, sekolah atau tempat kerja yang saat ini kita jalani.

Segala sesuatu soal pelik semesta kita ini pada dasarnya terus berulang dan berulang pada alogaritma yang sama. Mari berdoa!

2 Replies to “Adele, dan Alogaritma Doa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.