Kunci Feminis dan Kemana Selanjutnya

A post shared by Shiradd al Mustaqiim (@museuz) on

Saya menyadarinya dari dulu, tumbuh di lingkungan yang didominasi oleh perempuan. Ibu, saudara kandung dan kebanyakan teman saya adalah perempuan. Ini membuat saya memiliki pegalaman yang berbeda sebagai sosok yang lahir sebagai pria.  Apa yang ada di pikiran saya, yang saya pahami soal gender adalah pengalaman yang layak saya bagi, karena dunia memang telah bermetamorfosa ke tingkat yang lebih baik.

Saya menemui bahwa disekitar kita, ketimpangan antara feminis dan maskulin begitu sangat kentara. Bagaimana kita bersikap pada satu hal yang umum bisa begitu mudah ditebak. Tayangan televisi, seni, sastra, politik, hukum atau bagaimana cara Ibu Bapak mendidik saya membuat saya sedikit terhenyak. Bahwa sejak semula saya tidak pernah dididik dan mendidik diri secara seimbang antara perspektif feminis dan maskulin. Realitanya memang sangat timpang, lingkungan saya adalah patriakhis. Ini tidak melulu salah, namun bisakah kita hidup pada lingkungan yang lebih baik?

Feminis

Yang harus Anda pahami, feminis tak harus perempuan, maskulin pun tak melulu negatif dan ada hanya pada diri lelaki. Apapun gender dan kesadaran gender Anda, Anda harus memahami feminisme. Feminisme bukan sekedar memberi peluang wanita serata pria. Feminisme adalah kunci, gerakan pertama yang menggoyang pemahaman dunia pada umumnya. Perempuan yang dulu dikenal sebagai makhluk nomer dua setelah pria, bisa disejajarkan dengan pria. Sekali lagi, ini adalah kunci untuk membuka tabir kesetaraan manusia. Jika kita bisa memahaminya, maka mata kita akan celak pada hal-hal lainnya.

Saya mencoba mengurai perspektif saya, feminis tentu bukan ditafsirkan pada perempuan bertato dan merokok yang minum bir. Atau pintar main judo, tek won do, bisa mengalahkan lelaki, berkuasa sebagi bos, kuat, tangguh lagi keras. Sifat-sifat tadi bahkan tidak mendekati definisi feminis sama sekali. Sifat tadi tak lebih dari mengubah persepektif perempuan ke perspektif maskulin lelaki, dan ini tentu kurang tepat jika disebut sebagai definisi feminis.

Feminis ada dalam bagaimana tindakan kita mencoba menyelesaikan dan menghadapi kehidupan. Ada dalam bagaimana seorang Ibu yang menyayangi anaknya, ada dalam naskah agama dalam mengurai hakikat feminis Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ada juga dalam hukum di bangsa-bangsa yang kini telah mapan dan adil.

Satu contoh kecil saat Anda sedang dalam tertekan menghadapi masalah, orang yang dididik maskulin akan lebih cinderung menghadapinya secara emosional, yang bisa dan seringnya berujung pada kekerasan. Sementara feminis menghadapinya dengan lebih elegan, mampu menahan perasaan, mencoba menghadapi tekanan dan tentunya tidak terbeslit sedikitpun menggunakan kekerasan (fisik maupun verbal).

Dalam hukum, Anda akan melihat bagaimana sebuah kitab undang-undang lebih condong untuk menghukum dan memberi efek jera kepada para pelaku kejahatan. Sedangkan di negara yang maju, lebih feminis dan manusiawi lebih fokus pada menghindari, mendidik, memahami dan menyembuhkan kejahatan beserta pelakunya.

Dalam agama, bisa dilihat bagaimana sesungguhnya Tuhan adalah Feminis, bagaimana dia lebih banyak meminta kita menyebut Asma-Nya yang Pengasih, Penyayang, Pengampun dan Asma-asma lembut lainnya. Tidak seperti saat ini, kita menafsirkannya kitab Tuhan menjadi terlalu maskulin yang penuh dengan kekerasan, kebencian dan hukuman. Feminis bisa menjadi cara pandang kita melihat Agama lebih celak lagi.

Dalam politik, Anda bisa melihat bagaimana dunia lebih sering menyelesaikan masalah dan konflik dengan cara kekerasan, cara maskulin. Dengan perang, saling membunuh sang liyan yang tak seideologi, tak sesuku, tak sedarah, tak separtai, tak sependapat dan tak- tak- lainnya. Padahal jika ada banyak sentuhan feminis, segala masalah politik dapat diselesaikan dengan diplomasi, jalan damai, proses kreatif politik dan proses lembut lainnya.

Mari membuka kunci

Lalu bagaimana kita bisa mengubah dunia lebih baik lagi? Menyeimbangkan antara feminis dan maskulin adalah sikap yang perlu sedikit kita pelajari. Sekarang, di usia dunia yang kini didominasi generasi milenial merupakan momen yang tepat. Generasi sebelumnya telah selesai mensejajarkan peran perempuan, mayoritas bangsa telah memberi ruang pada perempuan dalam pendidikan. Tapi itu ternyata belum cukup, ruang perempuan masih menjadi minoritas di banyak bidang, khususnya dalam kepemimpinan politik dan imam dalam agama.

Ini adalah pekerjaan rumah bagi semua orang yang kini mulai kita kerjakan. Di Kanada, PM Justin Trudeau mengangkat separuh anggota kabinetnya dengan perempuan.  Ini adalah upaya untuk menunjukkan kepada dunia makna adil yang sebenar-benarnya. Pemahaman feminis seperti Trudeau lakukan layak dicontoh banyak negara sebagai upaya utama memerangi dominasi maskulin.

Tantangan

Tantangan dalam membuka kunci feminis ada banyak sekali tentunya. Lelaki masih banyak yang tidak rela jika perempuan menjadi kepala rumah tangga. Kesenjangan gaji dan jenjang karir antara pria dan perempuan yang timpang dalam lingkungan kerja. Juga agama mayoritas menjadikan perempuan adalah nomer kesekian. Semua itu bersumber pada minimnya kesadaran dan pengalaman dalam memahami makna feminis.

Mari berusaha menyelesaikannya dengan mengembalikan ke rumah, memberikan peran yang adil antara lelaki dan perempuan, antara pasangan tradisional Ayah dan Ibu dalam hal cuci piring bisa jadi langkah awal. Ketimpangan feminis-maskulin terjadi karena ada hal-hal seksisme yang telah mengakar di benak semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Salah satu contoh soal pekerjaan rumah tadi, membersihkan rumah, menyapu, mencuci piring dsb sering dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Sementara hal kasar dan kotor seperti membenahi listrik dan pertukangan adalah peran pria. Padahal itu terjadi bukan secara alami, melainkan karena budaya yang mengganggap pekerjaan demikian hanya dilakukan oleh lelaki atau perempuan saja.

Kenyataannya, tantangan utama dalam praktik feminis juga kemajuan lainnya melulu terhambat pada satu aspek yang mengakar, pendidikan. Pendidikan pluralis hanya berkembang pada dunia yang telah maju ekonominya. Kanada maju karena dalam segi ekonomi juga sudah mapan sehingga isu feminis bisa menjadi sorotan. Sedangkan di Indonesia, isu ini terhambat karena masih terlalu banyak isu lain yang lebih penting terkait politik dan ekonomi. Kabar baiknya, banyak diantara kita yang sudah memahami makna feminis ini. Mereka, perempuan yang melampaui zamannya, juga pria seperti saya yang hidup dalam lingkungan feminis. Kami adalah bibit untuk masa depan yang lebih baik.

Setelah kunci feminsime dipahami, apa yang bisa dibuka?

Dunia yang lebih baik, keseimbangan alam seperti Yin dan Yang menjadi tujuan jika kita telah membuka dunia dengan pemahaman feminis. Dunia yang tidak hanya diselesaikan dengan kekerasan, dunia yang lembut dan penuh kasih sayang. Dunia yang lebih kreatif. Anda bisa membayangkan dunia modern yang tumbuh dengan cara pandang baru, kesdaran baru. Dunia yang celak dan penuh dengan kemungkinan.

Selain itu, memaknai feminis akan membawa kita ke kesadaran akan pemahaman gender yang lebih terbuka. Memahami bahwa dunia ini masih banyak yang bisa kita perjuangkan untuk kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kesadaran ini mencakup pentingnya pemahaman hak-hak mereka yang tidak mau dibatasi dalam sekat perempuan dan pria, mereka yang memiliki ekspresi gender dalam bingkai yang lebih luas.

Ini adalah awal baru, perjuangan baru. Kita sudah memiliki para filsuf, Yesus, Muhammad, Martin Luther, Malcolm X juga Kartini yang berani memperjuangkan apa yang mereka pikir baik untuk dunianya. Saatnya kita juga berjuang untuk dunia yang lebih baik. Dengan cara kita dan pemahaman kita, ide soal feminisme bisa jadi kuncinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *