Akankah Manusia Super Segera Diciptakan?

Sekelompok peneliti di Oregon, Amerika serikat mengklaim telah berhasil melakukan rekayasa DNA embrio manusia dengan teknik CRISPR. Akankah ini menandakan babak baru lahirnya manusia super? manusia yang diklaim sebagai setengah dewa ke dunia ini.

Perdebatan Rekayasa Genetika

Metode rekayasa DNA telah efektif dilakukan menggunakan teknik CRISPR yang belum lama ini ditemukan. Masih terdapat banyak perdebatan apakah teknik ini etis untuk digunakan pada manusia. Mengingat rekyasa genetika pada hewan dan tumbuhan masih menuai berbagai kontroversi di penjuru dunia.

Kita mengenal rekayasa genetika dengan banyak cerita. Makanan seperti jagung yang kita konsumsi saat ini kemungkinan besar telah melalui tahapan rekayasa genetika. Jagung yang telah dimodifikasi genetikanya dibuat menjadi lebih manis, berbiji besar dan tahan terhadap perubahan iklim juga hama. Produk tumbuhan dan hewan rekayasa genetika ini tentunya sangat menguntungkan untuk skala industri besar.

Namun, sebagian kelompok masyarakat menentang rekayasa genetika ini. Pendapatnya didasarkan bahwa belum adanya penelitian jangka panjang apakah produk-produk rekayasa genetika ini baik bagi manusia dan lingkungan sekitar. Pendapat yang lebih konservatif mengklaim bahwa produk rekayasa genetika adalah contoh nyata manusia melawan hukum alam atau bahkan Tuhan.

Okja merupakan film tentang babi super hasil rekayasa genetika.

CRISPR

Selangkah lebih maju, kini sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Shoukhrat Mitalipov dari Oregon Health and Science University mengumumkan keberhasilannya dalam melakukan koreksi genetika pada embrio manusia. Mereka mengklaim berhasil menghapus DNA yang diduga membawa penyakit jantung pada manusia menggunakan teknik yang sering disebut sebagai “gunting molekuler” ini.

Dalam keterangan yang diberikan kepada MIT, setidaknya ada dua poin keberhasilan yang telah memecahkan rekor baru. Pertama bahwa mereka adalah yang pertama melakukan teknik CRISPR ini pada embrio manusia. Sementara yang kedua adalah secara tidak langsung mereka telah mampu secara aman dan efektif melakukan koreksi pada gen manusia yang menyebabkan penyakit bawaan.

CRISPR merupakan teknik baru rekaya genetika yang diklaim paling aman juga dengan tingkat keakuratan tinggi. CRISPR mampu melakukan editing DNA seperti halnya kita melakukan cut, copy dan paste dalam suatu file tanpa merusak keberadaan DNA lainnya. Singkatnya, kita bisa menghapus DNA yang merugikan atau menambah DNA baru pada suatu susunan DNA organisme hidup.

Keberhasilan ini tentunya membuat tanda tanya besar, apakah manusia kini mampu menciptakan generasi setengah dewa yang tahan penyakit dan mampu hidup lebih lama? Untungnya saat ini para ilmuwan di AS tadi belum diperbolehkan untuk mengembangkan embrio hingga menjadi janin manusia. Kongres Amerika masih melarang uji coba pengembangan embrio manusia menjadi janin atau bahkan menjadi bayi manusia.

Setidaknya dalam uji coba ini berhasil diketahui bahwa rekayasa genetika menggunakan teknik CRISPR pada manusia sejatinya bisa dilakukan. Harapan untuk mengurangi tumbuhnya penyakit turunan seperti HIV, kanker, diabetes bahkan pengganti antibiotik sudah jelas di depan mata.

Islam Sebagai Konsep Agama Open Source

Era milenium dimana kita berbaur dalam globalisasi seperti sekarang membuat paham konservatif-radikal cukup mudah menyebar dan memengaruhi banyak orang. Elemen berbahaya paham ini adalah sifatnya yang eksklusif, menutup diri serta penolakan keras eksistensi kebenaran di luar pemahaman mereka. Kemenangan Donald Trump merupakan contoh nyata gejala konservatisme kulit putih yang menguat di Amerika Serikat. Konservatisme dan radikalisme sesungguhnya tak melulu soal agama.

Isu soal ISIS bisa dijadiakan ulasan lebih dalam soal konservatisme-radikalisme dalam Islam. ISIS kini tak hanya menjadi fokus di wilayah Irak, Suriah atau Timur Tengah, namun telah menjadi isu global yang berdampak pada propaganda negara Islam ke seluruh dunia. Di Indonesia, suka tidak suka bahwa demam negara khilafah adalah bagian dari euphoria ide-ide negara Islam seperti yang digaungkan ISIS. Sekalipun pengusung Khilafah berkilah bahwa ide mereka lebih benar, otentik dan original dibanding ISIS, konsep mereka sejatinya sama.

Ideologi agama, bagaimanapun tidak bisa dilarang. Termasuk mereka yang menginginkan negara makmur dengan jalan ideologi agama. Tetapi ada pertanyaan besar yang bergelayut untuk mereka yang berfikir bahwa hanya dengan menjadikan bumi bulat ini menjadi negara agama, maka dunia akan makmur. Pertanyaan yang justru belum menyentuh pokok negara agama, melainkan soal definisi mendasar dari “agama” itu sendiri.

Memahami Antropologi Lahirnya Agama Islam

Tidak bisa dipungkiri bahwa agama adalah sebuah produk peradaban manusia. Tidak ada hewan yang memiliki agama atau kepercayaan dengan ritual-ritual tertentu. Jika agama merupakan produk peradaban manusia maka sudah dipastikan agama memiliki sejarah atau akar tumbuhnya. Untuk itu sangat penting bagi kita membaca berbagai rujukan tentang sejarah agama

Agama Islam tumbuh dalam lingkungan mayoritas pagan atau penyembah berhala. Pun pada masanya ummat beragama seperti Yahudi dan Kristen sudah ada sekalipun lingkup sosial mereka di masyarakat Mekah terhitung minoritas. Muhammad, pada awalnya mengenalkan Islam kepada masyarakat Mekah dengan penjelasan bahwa agama Islam bukan merupakan agama baru, melainkan warisan dari Ibrahim.

Kabah yang tadinya merupakan titik pusat peribadatan kaum pagan, dijelaskan oleh Muhammad sebagai warisan Ibrahim dan sang putra Ismail yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Mekah. Muhammad menekankan bahwa Ibrahim adalah penyembah satu Tuhan, bukan banyak tuhan atau banyak berhala. Konsep yang tentunya menaikkan harkat masyarakat Mekah yang tadinya penyembah berhala dan berkelakuan jahiliyah-barbar, menjadi konsep identitas yang tinggi, maju dan setara dengan konsep penganut Kristen dan Yahudi.

Muhammad pada dasarnya tidak mengubah konsep identitas warga Mekah. Dia hanya menyatukan kembali suku-suku yang menjadi momok perpecahan bangsa Arab menjadi satu kesatuan identitas yang kelak disebut sebagai Islam. Muhammad terbukti mampu membuat pondasi kokoh untuk menyatukan masyarakat gurun Arab yang gemar bertikai karena kesukuan menjadi masyarakat yang satu dalam identitas Islam. Konsep Islam dalam banyak rujukan, terbukti diterima oleh banyak golongan di Arab bahkan oleh Kristen dan Yahudi pada massanya.

Sayangnya sejarah membuktikan bahwa bangsa Arab memang tidak gemar dengan kebhinekaan dan condong pada pola pikir kesukuan yang tinggi. Boleh dibilang pun agama Islam dianggap gagal menyatukan bangsa Arab modern. Paska runtuhnya Ottoman dan penjajahan barat, Arab kembali terpecah ke dalam konsep negara, kesukuan bahkan ada perpecahan yang lebih modern yang konon sudah diperkirakan oleh Muhammad sendiri. Perpecahan tersebut mencakup pola tafsir yang kini kita kenal dengan madzhab atau aliran-aliran. Mengembalikan bangsa Arab ke zaman jahiliyah-barbar yang saling bermusuhan.

Islam Sebagai Agama Open Source

Memahami kesuksesan Muhammad yang mampu menyatukan Arab harus dilihat kembali secara rasional. Muhammad pada awalnya menekankan bahwa Islam bukanlah agama baru. Islam adalah agama penyembah satu Tuhan yang bahkan sudah ada sejak zaman Ibrahim. Konsep mengambil jalan agama Ibrahim merupakan konsep yang brilian karena Ibrahim sendiri juga diakui sebagai pendahulu oleh Yahudi dan Kristen. Konsep Islam yang menggunakan jalan Ibrahim sesungguhnya konsep terbuka atau meminjam istilah dunia teknologi bisa disebut open source. Muhammad tak hanya ingin merangkul golongan pagan di Mekah. Islam ingin menjadi agama universal, agama yang diterima seluruh manusia bahkan oleh Yahudi dan Kristen.

Konsep Islam sebagai Open Source memang agak naif, mengingat mungkin seluruh agama di dunia menganut konsep universal. Poin tambahan yang sering luput dipahami bahwa sejak awal Muhammad memberi nama agama warisan Ibrahim sebagai agama Islam, kata Islam selain merujuk pada padanan kata berserah diri juga merujuk pada makna kedamaian. Jadi banyak perlu dicermati bahwa Muslim yang menggunakan jalan-jalan kekerasan untuk mewujudkan impian dunia Islam (damai) adalah Muslim yang justru belum menjumpai akar Islam sendiri.

Menyadari bahwa konsep Islam sebagai open source sebetulnya menandakan Islam yang terbuka dan dinamis, Islam yang menerima dan mampu mengembangkan kritik dan modernitas dunia saat ini. Belajar dari cara dakwah Muhammad, Islam diajarkan untuk terbuka, menjalin silaturahmi hingga mencari titik temu agar menerima golongan lain. Islam dengan tafsir eksklusif adalah kemunduran ke zaman jahiliyah-barbar. Isu-isu seperti pandangan demokrasi yang ternyata bisa sangat Islami, konsep eknomi kapitalis yang bisa disyariahkan, hukum modern yang selaras taqiyyah, hingga pandangan-pandangan soal kesadaran gender hanya akan hadir dalam Islam yang Open Source, yang terbuka, runtut dan ilmiah.

Seorang yang mendaku diri sebagai Muslim seharusnya tidak menutup diri pada konsep persatuan dalam kebhinekaan. Jika seorang Muslim merasa resah tidak diterima atau memiliki pemikiran negatif pada unsur kebhinekaan, ia harus berkaca diri bahwa jangan-jangan justru dalam praktek kesehariannya, ia menjauhi konsep persatuan seperti yang Muhammad ajarkan. Banyak rujukan yang bisa disandarkan bahwa Muhammad sukses menjembatani perbedaan pendapat dan golongan di lingkungannya dengan cara-cara yang demokratis.

Konsep keterbukaan dalam kebhinekaan dalam diri Muslim Indonesia seharusnya mencontoh konsep Raden Said atau Sunan Kalijaga yang mampu membaurkan selaras antara identitas budaya Jawa dan konsep Open Source Islam. Hasilnya, Islam Demak-Mataram dapat diterima dengan baik hampir tanpa perlu banyak revolusi paska runtuhnya Majapahit. Islam yang berkemang di Jawa bahkan konon memiliki konsep sendiri yang disebut Islam Kejawen.

Satu hal yang kontras dari kemunduran Islam Kejawen bisa kita cermati bersama dalam konsep penampilan perempuan muslim. Dahulu sangat tidak masalah seorang perempuan muslim memakai sanggul dan kebaya terbuka dalam acara-acara publik. Namun dalam tempo singkat saat tafsir konserfatisme Islam menyeruak. Mayoritas muslim menilai bahwa hanya perempuan muslim yang menutup rambut dan tubuh dalam segala acara adalah perempuan muslim yang taat.

Uniknya, jiwa kebinekaan dan keterbukaan sebetulnya telah mengalir di dalam nadi kita. Kita tak pernah mau benar-benar menelan konsep konserfatisme Islam yang menyebar. Kita mampu memahami konsep Islam yang Open Source tadi untuk diselaraskan kemudian memodifikasinya sesuai identitas kita sendiri. Kini perempuan muslim masih bisa berkebaya dan bersanggul dengan tetap menjaga standar menutup rambut. Modifikasi baju-baju muslim yang tetap Jawa bahkan modern terus berkembang menyeimbangkan konsep konserfatif-radikal Islam.

Muslim sejatinya harus memahami pokok-pokok keterbukaan dan kesuksesan Islam merangkul golongan lain. Bahwa Muhammad tak hanya sekedar ingin mengenalkan konsep Tuhan Yang Satu. Tapi juga konsep bahwa persatuan hanya dapat diwujudkan dengan konsep Islam (damai) bukan dengan kekerasan. Di Indonesia, kesadaran akan konsep open source Islam dan menjaga identitas lokal harus selalu dipupuk kuat melawan konserfatisme.

Satu kesimpulan lebih maju dan bisa kita raih ke masa depan dari konsep Open Source Islam adalah harapan bahwa siapapun Anda baik kelahiran Jawa, China, Batak, Ethiophia, Eropa dsb; penganut Budhis, Yahudi, Kristen, Kong Hu Chu dsb; pemikiran Sosialisme, Komunisme, Liberalisme dsb; Jika Anda memahami makna perdamaian dalam persatuan dan kebhinekaan. Selamat, Anda adalah seorang Muslim.