Kecerdasan Buatan Siap Menguasai Dunia

Juli 2017 menjadi hal yang mengerikan bagi pengembang di Facebook AI Research Lab (FAIR) di Lembah Silikon, Amerika Serikat. Mereka terpaksa mematikan teknologi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) yang mereka kembangkan setelah menyadari bahwa AI berkomunikasi dengan sesamanya melalui bahasa yang belum diketahui. Ini menandai era dimana kecerdasan buatan berbasis machine learning sudah mampu berkembang melebihi yang kita harapkan.

FAIR telah mengembangkan Chatbox atau ruang diskusi yang berisi percakapan antara dua AI yang diberi nama Bob dan Alice. Belakangan AI yang mereka kembangkan justru membuat percakapan aneh dengan suatu bahasa yang dikembangakan tanpa bantuan manusia. AI buatan Facebook ini diduga mampu mengembangkan bahasa yang hanya diketahui oleh mereka sendiri. Karena pengembang FAIR belum mampu mengenkripsi atau menemukan kunci bahasa AI tadi, mereka segera mengambil langkah serius untuk mematikannya.

Kecerdasan Buatan Semakin Cerdas

Kecerdasan Buatan nampaknya menjadi salah satu perkembangan teknologi yang menjanjikan di masa depan. Larry Page, Bill Gates, Elon Musk juga Mark Zuckenberg telah urun uang untuk mengembangkan teknologi berbasis machine learning ini. Bahkan saat ini DeepMind dianggap sebagai AI terpintar yang paling maju perkembangannya. DeepMind punya setidaknya 15 Exabita data yang siap dipelajari dari mesin pencari pintar keluarga mereka, Google.

Kecerdasan buatan dikembangkan untuk membantu perangkat-perangkat digital era internet menganalisa dan menyelesaikan masalah. Kecerdasan buatan adalah bagian dari konsep machine learning dimana serangkaian kode yang dikembangkan mampu membaca sekaligus menafsirkan data-data yang ada saat ini. Lebih lanjut, kecerdasan buatan diharapkan mampu menyelesaikan pekerjaan yang kini dilakukan manusia dengan lebih efektif dan efisien.

Dalam aplikasinya, kecerdasan buatan tak melulu soal robot-robot fisik. Aplikasi asistensi seperti Cortana milik Microsoft dan Siri milik Apple merupakan bagian dari konsep kecerdasan buatan. Mereka mampu membaca data terbuka bahkan data-data pribadi kita. Aplikasi asistensi tadi membaca data kebiasaan penggunanya yang digunakan untuk mencari solusi berbagai masalah yang dihadapi. Berbagai topik mulai dari cuaca, transportasi, berita terbaru hingga rekomendasi transaksi saham sebetulnya sudah mulai menggunakan konsep kecerdasan buatan ini tanpa kita sadari.

Dalam film Her diceritakan bahwa aplikasi asistensi di masa depan dianggap tak hanya membantu kehidupan sehari-hari, namun telah berevolusi menjadi teman untuk berkomunikasi.

Etika Kecerdasan Buatan

Sebelum kasus AI yang menimpa Facebook, hal serupa juga pernah menimpa Microsoft. Akun Twitter Tay di @TayAndYou, merupakan akun bot twitter AI milik Microsoft yang tak hanya mampu membaca data melimpah di Twitter, namun juga melakukan komunikasi dua arah dengan pengguna twitter manusia lainnya. Tahun 2016, Tay terpaksa dihentikan oleh Microsoft karena melakukan chat menyimpang dari berbagai macam topik mulai Hitler, atheisme, feminisme dan rasisme yang dianggap sangat sensitif.


Padahal filosofi dari @TayAndYou sebetulnya sederhana, dia belajar dari data-data yang melimpah di Twitter. Pertanyaannya justru berbalik pada kita, apakah data twitter yang diambil dari percakapan manusia pada dasarnya memang berisi hal-hal yang juga menyimpang? Apakah Tay salah belajar pada manusia? Sayangnya Tay masih belajar dengan data mentah dan belum bisa memahami konsep etika penuh tafsir dari manusia. Kini akun @TayAndYou masih aktif dan terproteksi sekalipun tidak lagi mengunggah percakapan.

Bahaya Artificial Intelligent

Ketidakhumanisan kecerdasan buatan milik Facebook dan ciutan sensitif akun @TayAndYou dianggap bukti kuat bagaimana AI berpotensi berkembang ke arah yang kurang baik. Sebelumnya Elon Musk sudah melempar isu jika kelak kecerdasan buatan akan menguasai dunia dan mampu mengambil alih pekerjaan manusia di dunia ini.

Vanity Fair melaporkan bahwa tujuan Musk mengembangkan teknologi transportasi antar planet merupakan bagian dari kecemasan dia akan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan di masa depan. Ini diungkap dalam perbincangan Elon Musk dan pendiri DeepMind, Demis Hassabis di tahun 2014. Kepada Hassabis, Elon mengungkapkan bahwa AI berpotensi melakukan tindakan diluar kontrol yang berpotensi mengakibatkan kepunahan pada manusia di masa depan.

Kecemasan Elon Musk akan potensi negatif AI di masa depan sedikit terbuktikan dengan kasus AI di Facebook ini. Namun ini justru bukanlah akhir dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Karena bagaimanapun masih banyak yang bisa dikembangan di era Internet of Things (IoT) ke depan. Mobil swakemudi Tesla milik Elon Musk sendiri pun tak bisa lepas dari konsep aplikatif kecerdasan buatan.

Mari kita bayangkan era masa depan dimana super komputer telah bersimbiosa dengan kecerdasan buatan. Apakah mungkin ada android secantik Alicia Vikander yang secara cerdik mampu memanipulasi manusia demi keinginan menjadi seperti “manusia”?

 

Bacaan Lanjut
Ada banyak kemungkinan kecerdasan buatan secara signifikan memengaruhi manusia. Ini pekerjaan rumah kita bersama, apakah kita mampu bersantai setelah segala sesuatu kelak dikerjakan oleh mesin? Jika mesin mencuri pekerjaan manusia maka darimana manusia kelak mencari penghasilan uang? Universal Basic Income dianggap solusi tepat di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *