Tuhan Tidak Butuh Kurban!

Kurban

Makna kurban secara konsep sangat beragam, mulanya hanya ritus sesaji panen dan ternak yang digunakan untuk berterimakasih, menghibur atau memohon sesuatu kepada tuhan, dewa atau sesembahan manusia lainnya. Kemudian ditemukan konsep kurban yang yang bahkan memerlukan nyawa manusia sebagai pelengkap ritus, seperti bangsa Maya yang tercatat mengorbankan manusia demi memohon hujan.

Al Qur’an mencatat definisi kurban awalnya sama seperti definisi kurban dalam agama lainnya. Yakni kurban untuk sesaji tuhan oleh anak-anak Adam, hal tersebut tersirat dalam surat Al Maidah, 27:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa kurban menjadi salah satu bentuk ucapan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Kurban Habil dan Qabil merupakan kurban berbentuk materi atau bisa disebut sesaji yang dipersembahkan untuk Tuhan. Sementara konteks Qabil ingin membunuh atau mengorbankan Habil untuk Tuhan juga bisa dipahami bahwa mengorbankan manusia sepertinya perkara jamak di masa mereka.

Konsep kurban seperti di atas terus berlaku hingga Ibrahim tiba. Kesediaan Ibrahim menerima mimpi Tuhan untuk mengorbankan nyawa anaknya, bisa jadi merupakan pertanda jika berkurban nyawa manusia memang merupakan sesuatu yang dapat diterima pada zaman Ibrahim.

Setelah tragedi Ismail (atau Ishak dalam konsep Kristen dan Yahudi) Tuhan benar-benar mengubah konsep kurban dari nyawa manusia atau sesaji-sesaji ke arah pemaknaan yang lebih logis bagi manusia. Proses mendidik tuhan kepada nenek moyang kita tentang hakikat berkurban, berketuhanan, dan bersosial pun dimulai ketika itu.

Sejak Ibrahim, Tuhan tak lagi meminta kurban untuk menguji iman secara langsung. Tuhan sejatinya seperti yang banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak membutuhkan nyawa kita sebagi kurban.

Kemunduran Makna Kurban

Dalih berkurban kepada Tuhan melalui tafsir Jihad merupakan transformasi pemaknaan Jihad yang justru jauh dari konteksnya. Banyak sekali yang menafsirkan jihad untuk pengorbanan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk ketaatan atau ketaqwaan, ini jelas keliru.

Penafsiran Jihad model ini adalah pemaknaan yang kembali ke zaman berketuhanan paling fundamentalis yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern. Pemaknaan yang disertai dengan pengorbanan diri yang ditujukan untuk membunuh kelompok lain yang tidak sepaham, merupakan penafsiran akan Jihad yang dibaurkan dengan makna kurban yang berbahaya.

Dalam Islam, Jihad yang paling dianjurkan adalah jihad pengembangan ilmu, sedangkan jihad yang paling berat adalah jihad melawan hawa nafsu sendiri.

Kurban Untuk Manusia

Aspek sosiallah yang lebih Tuhan utamakan dalam pemaknaan tingkat tinggi kurban khususnya dalam hari raya Iedul Adha. Ditambah sebagai aspek budaya untuk mengingat-ingat sejarah baik sejarah bapak tiga agama Ibrahim maupun Muhammad sendiri. Beberapa pesan Muhammad mengindikasikan bahwa kurban merupakan keutamaan kepada sesama manusia.

Konsep kurban dalam islam sejatinya berlaku universal dan bukan hanya untuk muslim saja. Sehingga mendorong non-muslim untuk turut merayakan kurban merupakan suatu kebaikan yang perlu disebarkan apalagi bagi masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Kurban di hari raya Iedul Adha harus menjadi sarana pemersatu dalam bingkai pesta bersama di masyarakat.

Kurban dalam agama Islam tidak sama dengan definisi kurban dalam keyakinan pagan atau ajaran agama pra-Ibrahim yang lampau. Dalam Islam, kurban bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk sesama manusia sebagai wujud nyata cinta kita kepada Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *