Menanti MACAN Mengaung

Museum MACAN pada First Sight Agustus 2017

Mengikuti jejak para taipan yang memiliki galeri sendiri, konglongmerat Haryanto Adiekoesomo akan menampilkan koleksi karya seninya kepada publik. Apa menariknya?

Menikmati beragam sajian seni adalah hal terbaik yang bisa ditemui di Jakarta. Konser, museum, pasar seni, festival dan galeri adalah tempat meneduhkan jiwa dan memanjakan mata di tengah kegilaan kota yang masih mencoba untuk menjadi metropolitan ini.

Maka saat terdengar akan ada pembukaan museum baru, pencinta seni mana yang tak terusik keingintahuannya? Namanya Museum MACAN, Museum of Modern and Contemporary Art. Gaungnya sudah terdengar sejak 2016 dan baru Juli 2017 memperoleh undangan untuk mengencingi toiletnya yang bertajuk First Sight, upaya debut Museum MACAN sebelum dibuka untuk umum di bulan Novemeber 2017.

 

Museum MACAN
Salah Satu sudut Museum Macan, Frist Sight 2017, Dokumen Pribadi

Jika mendengar kepanjangan MACAN yang mengandung unsur Modern and Contemporary Art, maka terbayang di angan kita seperti museum modern kontemporer MoMA di NY yang termasyur. Bayangan itu diperkuat dengan kesan pada lokasinya yang lega, seolah memberi sebuah gairah baru di tengah ketidakruntutan kesadaran seni di Jakarta, khususnya karya seni bernilai tinggi yang eksklusif.

Tak bisa dipungkiri, benda seni bagi sebagian kelas elit Jakarta seringnya hanya dijadikan sebagai instrumen investasi dan pelengkap gairah eksbisionisme pemiliknya. Nilai lebih yang ditawarkan bagi publik biasanya masih jarang dirasakan.

Keraguan muncul saat mendengar bahwa MACAN dimiliki oleh taipan, bukan dibangun organisasi, para pencinta seni atau bahkan pemerintah. MACAN sepertinya bakal dikelola sebagai museum pribadi tempat pajangan koleksi seperti yang dilakukan para taipan yang sudah-sudah. Namun pada kenyataannya, Haryanto Adiekoesomo ingin menunjukkan keseriusannya sebagai penikmat seni kelas dunia.

Menelusuri latar belakangnya, Museum MACAN sepertinya memang akan dikembangkan dengan serius. Penunjukkan direkturnya, Aaron Seeto, yang pernah menjadi manajer kurator di Asian and Pacific Art di Queensland Art Gallery Australia, seketika melenyapkan kegelisahan bahwa MACAN hanya akan menjadi bagian dari hasrat eksebisionis pemiliknya.

Pun ternyata kiprah Adiekoesomo di bidang kesenian sudah terdengar harum di dunia internasional. Dia masuk dalam daftar TOP 200 Kolektor Benda Seni dunia versi ARTNEWS di tahun 2016 dan 2017. Dia juga ditunjuk sebagai salah satu wali museum di Hirshhorn Museum and Sculpture Garden di Washington, Amerika Serikat.

Dari pengelolaan, museum MACAN dikelola sebagi sebuah organisasi yang serius dibawah naungan PT Galleri Museum MACAN, ini memperkuat dugaan bahwa museum yang menyatu dengan apartemen ini akan menjadi sebuah organisasi profit. MACAN bahkan punya program keanggotaan dengan penawaran tertentu yang dipungut biaya tahunan. Selain itu, informasi apakah Museum MACAN akan menjadi pusat jual beli atau pelelangan benda seni masih belum diketahui.

Yayoi
Kini tak perlu jauh ke National Gallery of Singapura untuk berswafoto dengan karya Yayoi Kusuma ini, Dokumen Pribadi,

Momen First Sight bulan Agustus 2017 lalu menunjukkan bahwa MACAN akan memenuhi selera pergaulan pencinta seni dalam spektrum luas. Meskipun belum nampak koleksi pribadi disuguhkan, MACAN justru menyuguhkan seni kontemporer seperti Infinity Mirrored Room-Brilliance of the Souls karya Yayoi Kusuma yang karya serupanya selama ini bisa dinikmati di National Gallery of Singapura. Selain itu disuguhkan pula seni pertunjukan yang bahkan membutuhkan partisipasi audiens seperti karya Tisna Sanjaya, FX Harsono, Melati Suryodarmo hingga karya Yin Xiuzhen dari Tiongkok.

Museum MACAN baru akan dibuka secara resmi pada tanggal 7 November 2017, momen yang sangat tepat karena awal bulan tersebut bertepatan dengan perhelatan akbar tahunan Jakarta dan Yogya Biennale. Konon akan ada 90 koleksi benda seni pribadi (dari sekitar 800 koleksi Adiekoesomo) dari artis nasional dan internasional yang akan ditampilkan, termasuk di dalamnya karya Affandi hingga Basquiat!

Ini menarik, tidak sabar untuk menunggu MACAN mengaung!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *