Manusia Terakreditasi


Saya mencoba menyusuri lekuk-lekuk kehidupan dengan cara yang berbeda, namun saya gagal dan kembali terhempas pada kehidupan yang begitu-begitu saja. Ini bukan soal mengkritisi orang lain, saya mencoba mengkritisi diri saya sendiri dengan konsep looking for the glass self, dimana saya sedang berusaha melihat orang lain sebagai cara untuk melihat diri saya sendiri.

Asas Anna Karenina

Anna Karenina menggerutu, dia menolak disebut tidak bahagia sekalipun semua tahu bahwa ia memang tidak bahagia. Ia membela dirinya “Keluarga bahagia semuanya sama seperti setiap keluarga yang tidak bahagia, mereka menjadi tidak bahagia dengan caranya sendiri.” Lalu berkat pemikiran ciamik Leo Tolstoy itu kita mengenal ungkapan itu sebagai asas Anna Karenina, bahwa yang bahagia dan tidak bahagia tiba-tiba saja sudah dituliskan sedemikian rupa dan berbagai macam turunan teorinya.

Siapa sangka, bahkan asas Anna Karenina ini juga dikenal dalam dunia evolusi. Soal domestikasi hewan misalnya, manusia sudah menyadari sedari semula soal hewan mana yang bisa jadi ternak dan peliharaan dan hewan mana yang tidak bisa. Akibatnya banyak hewan yang bisa lestari hingga sekarang ada pula hewan yang masih liar bahkan punah.

Hakikat hidup pada dasarnya adalah kebebasan. Ini adalah dugaan bahwa segala sesuatu pada dasarnya mubah atau boleh. Namun, saat manusia berkembang menjadi homo-socius yang zoon politcon, mereka harus membuat norma dan hukum yang disepakati bersama. Aturan-aturan yang pada dasarnya absurd yang seringkali justru menjauhkan manusia dari definisi “kebahagiaan” itu sendiri.

Saat semua tadi hadir bersama di zaman serba modern cum digital ini, saya bersama satu dua tiga dan jutaan manusia lainnya berusaha untuk menampakkan diri menjadi “manusia unggul” bahkan “paripurna” dengan berdasarkan pada asumsi-asumsi abstrak yang sebetulnya: nihil absolut alias tidak ada dan bahkan tidak berguna dalam tatanan universal. Semua reka kebahagiaan yang dipertontonkan di ruang publik dan ruang digital yang dianggap sebagai suatu pencapaian sebetulnya tak berarti apapun selain hasrat untuk disebut: bahagia.

Ternyata hasrat “bahagia yang terstandarisasi” ini bukan fenomena baru, ini bisa jadi sudah sunatullah alias kehendak Illahi yang sudah ada sejak manusia diusir Tuhan ke bumi. Kisah kecemburuan Habil pada Qobil pun merupakan cerita yang bisa jadi bagian dari cara Tuhan mewartakan standar-standar manusia bahagia. Hikmah sedihnya bahwa Qabil yang beristri kurang cantik dianggap: tidak bahagia.

Standarisasi Hidup

Hakikat-hakikat standar abstrak sepanjang hidup manusia modern itu dapat dirangkum menjadi demikian:
Manusia modern bahagia adalah manusia yang lahir secara sempurna tanpa cacat. Saat ia terlahir ke dunia maka manusia-manusia pendahulunya menuntut dia harus hadir dengan kesempurnaan raga. Berhidung mancung, badannya normal, kulitnya cerah, lucu, manis, juga bisa menangis sekeras-kerasnya.

Bahkan akibat evolusi yang melenceng, sebagian manusia berharap bayi yang lahir adalah pria. Dari zaman Arab pra-Muhammad hingga modern di India, China bahkan mungkin lingkungan Anda pun masih banyak yang berasumsi demikian. Karena perempuan dianggap kurang berharga. Karena evolusi membuat perempuan menjadi makhluk yang dianggap lemah, mulai dari dosa dan aib di dada mereka (atau bahkan sekujur tubuhnya) hingga proses melahirkan yang bertele-tele dan bisa merusak tubuh mereka dianggap sebuah kekurangan dan kelemahan tersendiri.

Namun bahkan jika dia terlahir sebagai pria atau pun perempuan, jika tidak lahir sempurna fisiknya maka si bayi sudah dianggap: cacat.

Lalu dengan ogah-ogahan bayi-bayi harus dididik hingga masa kecilnya habis dengan doktrin-doktrin bahwa anak harus bisa ini-itu di usia segini-segitu. Beranjak masa sekolah mereka harus bisa melakukan sesuatu yang sudah terpabrikasi hingga masa dewasa: bisa menghitung, mengeja, menghafal pada usia sekian-sekian dan sekian.

Jika tidak sesuai dengan timingnya, maka anak-anak tadi sekalipun terlahir sempurna akan dicap sebagai: bodoh, terbelakang, tertinggal, tidak naik kelas dan label-label lainnya. Jika semuanya sesuai dengan timing yang tepat bahkan dengan nilai-nilai yang memuaskan maka mereka dielu-elukan dengan kata: lulus (dari kata lolos).

Lalu mereka harus mampu mencukupi diri mereka sendiri dengan cara: Kerja.

Kerja pun harus ada standarnya, mereka harus bisa melunasi hutang dirinya sendiri, membeli ini itu, mencukupi ini itu, berusaha mencapai sesuatu yang orang lain juga miliki, bahkan kalau bisa lebih dari yang orang miliki.

Mereka harus mencari-cari jenis kerjaan yang bisa diajak menua dengan uang yang tidak boleh sedikit! Kalau bisa mereka harus melupakan soal lainnya, soal kesenangan yang harus ditunda atau bahkan dilupakan jika itu tidak menghasilkan uang. Toh kesenangan baru bisa dilakukan tentu jika sudah ada uang. Asumsi manusia modern bahwa: banyak uang adalah banyak kesenangan.

Sampai di sini mereka disbut: homo-fulus.

Jika sudah bekerja maka mereka harus tahu diri, pada usia-usia yang dianggap matang mereka harus segera kawin dengan lain jenisnya. Mereka harus segera membandingkan tipe-tipe pasangan yang bisa diajak hidup menua dengan jebakan-jebakan soal cinta yang mulai ditanyakan oleh kenalan kanan-kirinya.

Hasrat manusia yang tadinya sekedar berkembang biak kini harus ditunaikan dengan seremonial, dengan izin pendahulunya, dengan standar dan tata cara yang dianggap lazim meskipun dengan cara yang absurd. Jika tidak taat aturan maka disitu mereka bisa disebut berzina, tidak halal, haram. Bahkan di sini, hasil cinta pun jika tanpa legalitas kertas dianggap musibah bahkan kecelakaan, anaknya sekalipun lahir dengan sempurna mereka bisa saja punya label: anak jadah.
Sampai sini pun belum selesai: standar tadi sudah dianggap paripurna dan dianggap sebagai manusia bahagia jika semuanya terpenuhi. Sesuai asas Nyonya Karenina, maka satu saja aspek standar hidup tadi tidak terpenuhi, maka kita dianggap sebagai manusa: GAGAL.

Maka manusia tidak ada yang ingin disebut gagal, mereka berlomba-lomba memenuhi stadar hidup bahagia juga selain yang tadi disebutkan. Di era modern ini masih ada standar konyol baru lainnya, misal: punya kendaraan yang sama seperti yang ditunggangi orang lain, rumah dengan jenis demikian, ponsel dengan standar canggih, TV layar datar, keanggotaan gym, dan lain dan lain yang kita harusnya berterima kasih karena pada dasarnya semuanya telah dijadikan standar kebahagiaan oleh: kapitalisme.

Lalu standar kapitalisme tadi kalau bisa juga turut dibagikan kepada khalayak ramai untuk menunjukkan bahwa. “Yeay, saya berhasil, saya punya, saya bisa. Kamu?”

Sekalipun ini semu, namun ini benar-benar terjadi. Saya mulai menyadari bahwa mulai dari sisi manapun, hasrat menjadi manusia terakreditasi itu selalu ada. Karena ya itu tadi bisa jadi adalah sunatullah (dan itu berarti kapitalisme juga sunatullah) dimana manusia disuruh berlomba-lomba satu-sama lainnya. Pun dalam teori evolusi, berkat perlombaan yang dikenal dengan seleksi alam inilah manusia menjadi unggul dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

Skeptis

Namun apakah benar manusia bahagia dan paripurna jika sudah mencukupi standar-standar tadi? Saya adalah salah satu yang skpetis bersama banyak orang lain di dunia ini. Saya tidak percaya bahwa mereka yang punya ini itu, bisa ini itu, makmur ini itu, dan ini itu ini itu lainnya bisa disebut bahagia.

Saya mencoba mengajak otak bodoh saya untuk tidak memercayainya. Ya memang punya uang bisa membeli ini itu, tapi bukan berarti bahagia kan? Ingat bahwa standar yang diciptakan manusia ini sebetulnya bersifat: abstrak!

Lalu saya berasumsi: setiap orang berusaha untuk mencari kebahagiaan, salah besar rupanya! Kebahagiaan akan hadir dalam penciptaan bukan pencarian. Penciptaan bahagia bisa dilakukan dengan banyak cara, bukan pencarian kebahagiaan terstandarisasi yang dibuat secara absurd oleh manusia sebelum-sebelumnya tadi.

Saya berharap kepada khlayak untuk mari kita berusaha menjadi Tuhan. Karena Tuhan disebut Tuhan karena Dia mencipta ciptaan(makhluk)-Nya. Dan bukankah kita sepakat meyakini bahwa kita, manusia ini dicipta Tuhan dari citra-Nya bukan?

Ana, al haq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *