Confession as a Truth Seeker

Relung

Saya berusaha untuk tidak menghakimi orang lain. Karena saya sadar bahwa kita diciptakan dengan takdir yang berbeda-beda. Jadi, mengapa harus segala sesuatu menjadi sama?

Premis tadi menjadi andalan saya untuk menjawab berbagai pertanyaan kepada saya? Kamu percaya tuhan? Nama kamu kan Muslim? Sholatnya? Baju kamu pink, celana kamu sobek-sobek? Kurus banget sih? Kapan kawin? Kamu normal kan? Lah kok ga suka makan-makan? Aneh, ulang tahun kok ga suka dirayain? Kok suka sendirian sih? Kamu kok temennya cewek-cewek sih? Dan lain sebagainya.

Awalnya saya menelusuri diri saya dari tahun ke tahun dengan pemahaman, bahwa saya harus hidup normal seperti yang lain. Sebagai cowok, harus berusaha tampil maskulin. Sebagai Muslim harus mengamalkan ajaran sesempurna mungkin. Sebagai anak harus taat kepada orang tua. Sebagai makhluk sosial harus mengikuti segala standar masyarakat yang berlaku. Serta standar-standar lain yang sering saya ikuti tanpa kadang saya pahami maksudnya.

Pada satu titik saya memaksa diri saya seperti itu. Namun pada akhirnya, saya berani menanyakan pada diri saya. Apakah dengan seperti itu saya bahagia?

Masa keemasan saya adalah ketika berada di bangku kuliah, rambut gondrong, celana jeans belel, suka mengikuti berbagai acara, wira-wiri sana sini, moderator, punya banyak ide, banyak teman, tak kenal lelah dan selalu menjadi diri saya sendiri. Meskipun secara finansial saya kekurangan, terbukti batin saya sangat terpenuhi.

Beranjak ke lingkungan kerja saya semakin tertekan kembali. Saya semakin menutup diri. Saya selalu dihantui pada ketakutan-ketakutan yang tidak berarti. Apakah bisa menikah? Berinvestasi? Mengurus orang tua? Menjadi maskulin? Cukup beriman? Dan saya terjebak pada pilihan yang seringkali berat dan terus melakukan denial terhadap diri saya sendiri. Masa itulah saya mengubur siapa saya sesungguhnya.

Mencari kebenaran?

Saat ini saya dalam masa yang dibilang, do something to myself. Ini adalah masa-masa babak pertengahan film dimana saya sepenuhnya menjadi in-frame. Berkuasa atas diri saya sendiri dan bebas melakukan apa yang saya inginkan dan mau. Saya dalam tahap pencarian yang berani untuk memulai mencari tahu. Siapa sebetulnya saya ini?

Bila dianggap bahwa apa yang saya lakukan adalah semacam pelarian atas kegagalan selama ini, boleh jadi demikian. Tapi saya yakin, selama saya tidak berusaha menyakiti dan tidak membenci orang lain. Saya masih dalam tahap koridor yang benar.

Dalam tahap ini saya berani menanyakan pada diri saya sendiri pertanyaan yang paling mengerikan.

Apakah saya percaya tuhan? Ini pertanyaan penting, masyarakat kita dikenal sangat agamis, sekalipun juga dikenal sangat koruptif. Namun sikap agamisah yang selalu menjadi tolok ukur benar-tidaknya perilaku seseorang. Banyak kita selalu saja menolak ada hubungan antara sikap agamis dan koruptifnya.

Jadi saya menjawab dengan keragu-raguan. Begini, saya tidak mau hidup dengan sia-sia, saya tidak mau mati begitu saja menjadi bangkai. Saya ingin juga percaya, bahwa setelah kematian akan datang alam yang menenangkan bagi kita semua. Dan itu hanya akan ada jika kita berlaku baik. Namun versi paska-kehidupan saya berbeda. Kematian adalah hal organis, sesuatu yang pasti dan tak bisa disangkal. Namun bagi saya, transisinya adalah seumpama sepucuk kedamaian seperti yang digambarkan oleh Goethe di sajak Uber Allen Gipfeln.

“Di atas puncak-puncak pohon, kau menemukan kedamaian…”

Kalimat itu semacam mantra yang menyihir saya, kematian bukanlah soal harapan bidadari-bidadara, tapi kedamaian serasa di ujung senja menikmati waktu sembari melihat pucuk-pucuk pohon yang bergoyang diterpa angin. Keteduhan yang hakiki.

Kenapa bertanya dengan Tuhan ada hubungannya dengan kematian? Ya, karena kita bertuhan pada dasarnya karena kita percaya bahwa segala sesuatu yang kita unggah di dunia ini, akan kita unduh kelak di akhirat.

Saya percaya tuhan, namun saya percaya bukan karena semua orang di sekitar saya percaya. Saya percaya karena saya mencarinya. Sejauh mana pencarian itu saya pun sulit mengungkapkannya. Jujur keraguan saya akan tuhan yang kita sembah justru karena premis awal tadi, penyangkalan bahwa agama dianggap tidak ada korelasinya dengan kebobrokan moral (koruptif).

Saya marah, tapi marah pada diri saya. Maka saya menolak sikap-sikap kita yang seringkali ingin menjangkau keilahian tanpa mau bersusah payah menaiki tangga pemahaman ketuhanan. Mata kita tertuju ke atas, tanpa mau melihat ke diri dan sekitar kita. Pemahaman keilahian kita sejujurnya, sungguh sangat munafik. Penuh keingkaran dan hanya pelarian pada hal-hal gagal yang ada di sekitar kita seperti kemiskinan dan ketidakmampuan kita menggunakan akal dengan maksimal.

Akibatnya sungguh mengerikan, surga sering dianggap hanya barang dagangan yang ditukar dengan ibadah versi masing-masing, dengan kata lain kebanyakan dari kita menganggap ibadah sebagai mata uang untuk membeli surga. Sangat murah bukan? Karena penilaian ibadah yang justru sangat personal dan individualis membuat kita abai pada kenyataan bahwa ibadah personal tak memberi dampak nyata bagi lingkungan.

Keraguan adalah kunci

Saya bayangkan, misal. Tenaga kecenderungan kita beribadah digunakan untuk memikirkan hal-hal lain sehingga kita bisa menjadi insan yang lebih baik dari saat ini. Tentulah kita akan segera menjadi bangsa maju. Tapi saya tidak benar-benar tahu, saya pun ragu. Jangan-jangan ada pilihan lain kenapa ibadah kita sungguh tidak berarti. Atau jangan-jangan selama ini, kita menganggap bangsa ini baik-baik saja? Cukup? Makmur? Saya tidak yakin.

Saya memupuk ketidakyakinan itu, membiarkan diri saya tumbuh pada hal-hal yang justru menjadi pintu ke pintu lain yang tiada ujung. Dunia satu ke dunia lain yang tak terbatas. Namun saya bahagia, karena melewati pintu-pintu dan dunia-dunia baru itu saya menemukan ketidakyakinan sekaligus harapan bahwa kita masih bisa tumbuh, bahwa saya ternyata masih bisa lebih baik dari sekarang. Bahwa ada yang bisa kita kembangan dengan pupuk-pupuk ide gagasan menuju sesuatu yang baru.

Ketidakyakinan akan masa depan adalah kunci sebuah harapan. Kita yang merasa hari ini baik-baik saja, hanya akan menjadikan diri dan juga bangsa yang besar ini makin tidak kemana-mana. Dengan sikap keragu-raguan, kesanggupan untuk bercermin dan melihat kebobrokan diri adalah kunci kemajuan.

Pencarian kebenaran

Tidak ada yang benar-benar benar di dunia ini. Premis itu selalu menjadi kunci filsafat. Bahwa kebenaran adalah suatu yang subjektif. Bahwa dalam fisika sekalipun, relativitas adalah ilmu tertinggi yang dapat mengubah pondasi keteraturan waktu. Lalu mengapa kita selalu menganggap benar apa yang kita lakukan? Kembali alinea awal tulisan ini, ya kita berbeda.

Maka saya bilang, inilah saya dalam sebuah pencarian kebenaran versi beta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *