Abadi

Abadi
Abadi

Di tahun 2200 sekelompok peneliti yang rata-rata berusia lebih dari seabad, memprakarsai riset untuk menghidupkan kembali orang mati. Pertanyaan etisnya, siapakah si beruntung yang akan pertama kali mereka hidupkan kembali? Dalam pengambilan suara yang terbuka bagi masyarakat antar-planet, kita sepakat untuk menghidupkan kembali sang bapak Ilmu pengetahuan, Einstein. Selisih suara sedikit dengan Tesla meskipun juga mengalahkan suara-suara mayoritas lain seperti Muhammad, Gandhi, Obama bahkan Gal Gadot.

Kira-kira seperti itulah yang akan terjadi dua abad mendatang jika kita manusia, tetap konsisten untuk menjunjung tinggi sains sebagai sang juru selamat manusia. Di masa depan, atau bahkan kini sudah wira-wiri manusia-manusia yang bersiap diri untuk bernafas lebih dari satu abad. Melihat rata-rata harapan hidup manusia yang makin tinggi karena sains juga politik yang menghindari peperangan, ini tentu tak mustahil.

Kelak, menjadi panjang umur tentulah menjadi dambaan tiap manusia organik. Tiap tahun kita menyanyikan lagi ulang tahun degan selipan doa “panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia…” maka saat kita mewiridkan doa itu berulang-ulang, akhirnya semesta mau tidak mau akan mendukung doa umat manusia ini.

Abadi

Apakah Anda ingin Abadi? Ini tentu menjadi polemik jika ditanyakan saat ini. Karena belum ada resep yang berhasil seratus persen lalu dijual di apotik dengan judul obat segala penyakit. Namun setidaknya penemuan-penemuan yang paling awal pun mengindikasikan semua ini sangat mungkin. Bahkan diam-diam, pesohor terkemuka dengan harta tak habis tujuh turunan kemungkinan besar sudah mempersiapkan diri untuk hidup abadi.

Bagaimana jika yang abadi bukan tubuh organik kita, karena banyak yang beranggapan yang hidup itu hanyalah nyawa kita. Sementara tubuh memang didesain untuk mati di dunia ini. Dan sains sejauh ini tidak bisa menemukan dimana letak nyawa atau jiwa kita kecuali hanya letupan-letupan elektris yang disebut memori yang tersimpan dalam otak kita.

Oleh ilmuwan, enzim dan persinggungan elektrik tersebut kini sedang dikode ulang menjadi rumus algoritma digital sehingga kelak dapat digunakan ulang entah dalam bentuk avatar digital, android atau ditransfer ke tubuh organik lainnya. Voila, kelak tubuh Anda yang sekarang ini bisa saja mati, tapi tidak dengan pemikiran Anda.

Telomer

Kunci lain keabadian mungkin hanya sederhana dan sebetulnya sudah diketahui sejak 1980an. Sejauh ini sains telah mengetahui mengapa kita menjadi tua. Sederhana, kita menua karena sel-sel kita terus mati dan tidak meregenerasi. Apa yang menyebabkan sel mati, karena bawaan genetika kita memang didesain sedemkian. Gen mana yang menyebabkan sel mati? Ternyata bukan gen melainkan ada di dalam DNA. Di dalam DNA kita terdapat telomer yang semakin lama semakin memendek seiring waktu dan menyebabkan kerusakan pada DNA, kemudian berimbas pada sel manusia.

Menjaga telomer tetap panjang berarti mampu menekan kerusakan DNA sehingga memperpanjang sel-sel hidup manusia. Hasilnya, tanda penuaan pun bisa dihindari sedini mungkin. Telomer sejauh ini dijaga oleh enzim yang dinamai telomerase, suatu enzim yang menjaga agar telomer tetap berekor panjang. Sayangnya produksi enzim ini berkurang seiring kita menua sehingga hanya perlu waktu bagi ilmuwan untuk membuat telomerase sintetis. Setidaknya kini ilmuwan sudah memegang kunci pembuka keabadian, atau setidaknya resep anti penuaan.

Kloning

Here is How Cloning Works

Here is How Cloning Works.

Dikirim oleh Hashem Al-Ghaili pada Rabu, 20 Juni 2018

Owhhh, terdengar seperti sains fiction banget sekalipun kita sudah mengenal domba doly sejak lama. Kemungkinan besar bukan cuma doly juga yang sudah dikloning. Bagaimana dengan manusia-manusia berduit banyak yang ternyata sudah menghindari takdir kematian sejak lama. Prinsip-prinsip copy genetika sudah lama dikaji dan diketahui secara luas. Jadi ini bukan isapan jempol jika ternyata banyak bersliweran copy-copy manusia di Wall Street atau Santorini sana.

AI, Manusia Sintesis

Ini diantara manusia hybrid, pertanyaan mendasar jika ternyata AI sudah bisa mengelabui kita dengan game teorinya Alan Turing. Ternyata AI juga bukan sekedar mesin, dia bisa memiliki perasaan seperti manusia. Maka akan ada manusia organik yang iri dengan keabadian robot-robot android tadi, lalu menginginkan tubuh mesin yang jika rusak tinggal bongkar pasang. Jika demikian, maka bisakah kita mengambil manfaat dari teknologi-teknologi mesin dan membiarkan kesadaran kita menjadi bagian utama memorinya?

Bagaimanapun tubuh adalah hal organis yang memiliki kenikmatan baik soal makanan, kekerasan, emosi, dan seksualitas. Hal ini tidak akan kita peroleh jika kita hidup dalam inang sintetis. Atau, rangsangan emosi dan perasaan kita pada dasarnya hanya algoritma saja? Maka itu jadi soal lain tentunya.

 


Artikel asal ini sekalipun ditulis di 2018, masih sangat mengambang dan terlalu jauh. Tapi kenyataan bahwa kelak kita bisa menghidupkan Einstein pasti dilakukan jika proyek untuk memperpanjang hidup raga kita sudah berhasil. Jadi, alangkah baiknya kita melihat dunia 2068 mendatang dulu lah, tak perlu jauh dulu mikirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *