Lulu & Nana

Nun dekat di China sana, dua bayi kembar super baru-baru ini diumumkan telah lahir. Apa istimewanya? Mark, si ayah adalah pengidap HIV positif yang tak pernah bermimpi bisa punya bayi sehat. Namun, berkat teknologi rekayasa genetika potong DNA atau CRISPR, kini dia bisa punya anak tanpa tertular penyakit AIDS dan diduga kebal HIV. Apakah kelak masalah penyakit turunan seperti diabetes dan kanker akan teratasi?

He Jiankui, ilmuwan dari University of Science and Technology di Shenzhen, China, mengaku ke publik bahwa dia- dibantu oleh ilmuwan Amerika Serikat mencoba mengembangkan tujuh embrio hasil pembuahan bayi tabung. Ketujuh embrio mereka rekayasa menggunakan CRISPR Cas9 untuk membuang genetika pembawa penyakit AIDS. Seperti resiko biasa pembuahan pada bayi tabung, beruntung satu embrio berhasil berkembang dan selamat melalui proses hamil-melahirkan, yang ternyata kemudian menjadi sepasang bayi kembar, Lulu dan Nana.

https://youtu.be/th0vnOmFltc

Perdebatan kelahiran Lulu dan Nana pun terjadi dimana-mana, khususnya di Amerika Serikat. Baru setahun silam di tahun 2017, mayoritas anggota kongres Amerika Serikat sepakat melarang rekayasa genetika terhadap manusia, sehingga uji coba editing calon bayi harus dihentikan sebelum berkembang dari embrio menjadi janin. Di Inggris juga masih terlarang, namun di China tentu lain soal.

China memang berambisi dalam segala hal, salah satunya bidang kedokteran. Jurnal-jurnal ilmiah nomor wahid di dunia seperti Nature, kini dibanjiri dengan karya-karya ilmuwan China. Karena pemerintahnya sendiri memang giat memberi bonus kepada ilmuwan, bahkan konon mampu memberikan bonus hingga milyaran yen bagi ilmuwan China yang penelitiannya berhasil masuk ke jurnal ilmiah top dunia.

Rekayasa genetika kepada manusia sesungguhnya bukan pertama kali di China, tahun 2016 bahkan China sudah menggunakan CRISPR untuk mencoba menyembuhkan penyakit kanker pada sel manusia hidup. Kemudian di tahun yang sama dengan Amerika, ilmuwan China juga melakukan editing embrio bayi manusia yang tidak berkembang. Bahkan di tahun 2018 ini, ilmuwan China melaporkan telah berhasil melahirkan anak tikus dari dua tikus kelamin sejenis.

Rekayasa genetika pada manusia memang menjadi topik perdebatan yang hangat dimana-mana. Ini soal etis atau tidak karena seolah-olah melawan kehendak alam atau bahkan Tuhan. Khususnya soal fabrikasi manusia. Bayangkan, kelak Anda bisa mendisain bagaimana rupa fisik keturunan Anda. Warna mata, bentuk hidung, warna rambut kemampuan-ketahanan super lainnya terhadap penyakit yang tentu tak ubahnya seperti melakukan operasi plastik.

Namun, bagaimana jika alasannya adalah untuk mencegah penyakit seperti yang He Jiankui maksudkan. Siapa yang tidak menginginkan punya anak yang lahir sehat tanpa penyakit keturunan seperti kanker dan diabetes. Jika sebatas untuk melawan penyakit maka rekayasa genetika pada manusia tentu tidak jadi masalah.

Perdebatan soal rekayasa genetika pada manusia pasti akan terus berlanjut. Namun, jika terbukti Lulu dan Nana mampu sehat walafiat hingga dewasa nanti. Mereka akan menjadi ikon manusia pertama di bumi yang lahir menggunakan teknik rekayasa genetika. Domba Dolly pun, lewat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *