Apakah Kamu Bahagia?

A happiness and a hole in modern day

Konon definisi bahagia berarti bersyukur karena ada hal lain yang pada suatu kesempatan kita dapatkan, belum tentu dinikmati oleh orang lain. Juga satu cangkir kebahagiaan yang kita nikmati, belum tentu bisa dinikmati oleh orang lain. Dan yang mengerikan, secangkir kebahagiaan yang kita reguk bisa jadi mengurangi kebahagiaan yang diterima oleh cangkir orang lain.

Jika demikian, maka apakah distribusi kebahagiaan itu serupa dengan teori energi? Energi yang sifatnya abadi, hanya berubah bentuk.

Oleh karena itu bagi orang yang telah memahami makrifat kebahagiaan, seringnya justru malah tertekan. Apalagi jika dia telah hidup dalam gelimang materi kebahagiaan sementara masyarakat sekitarnya hidup papa.

Sebut saja Sidharta, Yesus, Muhammad dan orang-orang yang menempuh jalan tuhan untuk membela mereka yang tertindas. Mereka bukan orang kurang kerjaan yang hanya ingin mengubah dunia, bagi mereka melihat tatanan kehidupan berjalan dengan adil dan membahagiakan banyak orang adalah suatu puncak kebahagiaan itu sendiri.

Energi Kebahagiaan

Kita makan nasi yang diproduksi oleh petani sawah yang harus berpeluh ria demi kebahagiaan perut si petani juga kebahagiaan perut kita, manusia Jawa yang merasa tidak kenyang bahagia jika tidak makan nasi.  Lalu dalam intrik ekonomi yang lihai, kini ada banyak orang yang bisa menukar peluh ria petani tadi dengan sejumput uang dengan hasil modal bacot. Adilkah definisi kebahagiaan bagi petani dan orang macam kita ini?

Karena distribusi energi kebahagiaan yang tidak merata, kita jadi memahami makna kebahagiaan sebagai bagian dari suatu ketidakadilan. Oleh karena itu konon orang-orang kuat punya kunci untuk mendistraksi dan mencuri kebahagiaan pada orang lemah. Mereka menciptakan tatanan politik dan agama. Sekalipun seram, memang kenyataannya demikian.

Kebahagiaan di zaman modern ini lebih kompleks dibanding zaman para pendahulu. Orang modern kesulitan dalam memahami kebahagiaan karena konon kehidupan mereka didefinisikan dengan lebih banyak materi-materi. Orang tradisional memahami sekedar kecukupan sandang pangan papan. Orang modern bisa jadi bertambah dengan kemampuan traveling bahkan kenikmatan obat-obatan.

Jadi karena kehidupan evolusi memang sejak semula selalu didorong untuk mencari kebahagiaan. Maka kebahagiaan kini turut menjadi komoditi utama dalam kapitalisme. Seolah-olah apapun yang dijual adalah pengisi kekosongan yang bagi masyarakat modern dianggap mampu memenuhi hasrat kebahagiaan. Padahal, big no no…

Kebahagiaan adalah suatu imajinasi, kita bisa menekan, mengendalikan, mengalihkan, membatasi dan menjadikannya sebuah senjata untuk mencari kenikmatan dan menjadikannya manipulasi untuk memengaruhi orang lain. Orang diiming-imingi dengan iklan yang seolah-olah kita bahagia dengan satu produk tertentu. “Old lie: Lebih mahal, lebih bahagia…”

Sosial Media yang Membunuh Kebahagiaan

Dibalik kesuksesan seseorang ada mantan yang menyesal. Dibalik pasangan yang beruntung ada seseorang yang merasa tidak beruntung. Pemenang lotre, nyata-nyata mengambil kebahagian penjudi lainnya. Dibalik unggahan gemerlap instagram ada stalker-stalker yang merasa tidak puas dan bahagia dengan pencapaiannya sendiri.

Bayangkan, cobaan di instagram itu. Melihat orang terkenal dan orang yang nyata kita kenal bisa muach-muach sama pasangannya, sementara kita harus sembunyi-sembunyi atau bahkan jomblo! Melihat orang makan enak, jalan ke luar negeri, sementara kita buat makan harus ekstra hemat karena masih ngurus sekolah anak, piknik pun setahun sekali!

Di situlah cacat media sosial yang sebetulnya merusak imajinasi kebahagiaan seseorang karena harus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

“… to pursuit of happiness, i never get but never regret”

Tahun ini beberapa kali saya sudah menemui ahlinya, menceritakan alasan-alasan mengapa seringkali merasa tidak bahagia, tertekan, ketakutan, tersudut, dan terlalu sensitif. Anjurannya tak jauh dari alasan-alasan itu sendiri seperti: makan yang teratur, punya teman meluapkan emosi, mendekatkan diri kepada Tuhan hingga berolahraga.

Beberapa hal memang anjuran psikolog cukup membantu, tapi mengapa kita tidak kunjung bahagia seringkali harus saya runut satu per satu sendiri demi menghemat uang konsultasi. Mencari ruang sebab dan harus bisa menemukan kunci gemboknya. Seperti saat harus menulis ini, kadang saya justru menemukan remah-remah yang bisa diikuti jejaknya di sudut otak.

Saya tahu dan sepenuhnya sadar, saya terlalu menekan diri saya pada hal-hal yang tidak penting, asik sendiri pada hal-hal absurd. Saya justru sering fokus pada hal yang tidak membuat saya bahagia. Dalam hal hubung-hubungan misalnya, keengganan saya untuk berkomitmen adalah upaya melawan ketakutan pada hal-hal yang sudah sangat di luar kendali diri.

Sudah pasti saya tidak bahagia jika memilih jalan A dan memilih mencoba mencari alternatif yang bisa jadi bakal dianggap pecundang oleh banyak orang. Bagi saya pilihan ini yang paling masuk akal untuk mengamankan perasaan saya dan orang-orang yang terhubung dengan saya. Karena luapan emosi untuk saling terpaut satu sama lain itu menjemukan, monoton.

“Sedang apa? Jangan lupa makan ya…” dumb.

Maka pilihan untuk berjalan dengan siapa saja yang mungkin, saya tebak-tebak sendiri, akan memberi saya kenyamanan meskipun barang sebentar. Adalah pilihan masuk akal dan terbaik bagi diri saya. Egois memang, tapi saya meyakini ini membahagiakan saya dan meskipun kelihatannya, kelak resiko menyakiti orang lain bahkan bisa menjadi petaka ganda. No String Attached, Friend with Benefit

A simple favor contractus in Modern World

Saya lama-lama takut, tapi ketakutan ini justru menjadi semacam pemicu adrenalin yang diam-diam menjadi candu. Keinginan untuk terus merasakan perasaan yang yang tidak bisa saya kontrol, tiba-tiba berubah menjadi kenikmatan itu sendiri.

Selain di atas tadi, pilihan pekerjaan baru yang saya dapatkan juga masih menggelayut di punggung dalam waktu-waktu tertentu. Pertanyaan-pertanyaan apakah saya memilih jalan yang tepat? Apakah sepuluh hingga tiga puluh tahun lagi masih di sini? Atau apakah yang saya nikmati saat ini baik atau buruk, membangun atau merusak? selalu saja menghantui saya.

Namun lagi-lagi, perasaan-perasaan itu menjadi adrenalin yang menegangkan, lalu karena saking seringnya, malah kini juga menjadi sebuah candu yang jika tidak dijalani, menjadi sebuah letupan emosi yang sering saya definisikan sebagai suatu bagian dari ketidakbahagiaan yang membahagiakan. Apakah saya masokis?

Genetika

Soal imajinasi kebahagiaan ternyata tak hanya melulu soal imajinasi, tapi tentu juga soal suatu energi. Secara evolutif makhluk hidup mengalami berbagai pertautan kondisi. Sehingga kebahagiaan-kebahagiaan juga didefinisikan melalui serangkaian sistem kompleks yang melibatkan genetika, struktur otak dengan serangkaian hormon-hormon yang diproduksi oleh tubuh.

Kebahagiaan yang paling tua bisa jadi adalah seksualitas. Kenyataan bahwa makhluk hidup sejak semula disebut berhasil dan survive jika mereka berhasil berkembang biak, masih dapat ditemukan jejak-jejaknya di setiap makhluk hidup bahkan di dalam diri manusia.

Letupan kebahagiaan yang tadinya hanya sekedar membelah diri, kini harus dilalui dengan serangkaian proses kegiatan yang membutuhkan jumlah ketegangan dalam degup jantung yang memompa darah dan mengalirkan hormon-hormon seperti endorfin, feromon, dopamine dan hormon-hormon lain yang membantu proses pembentukan makna bahagia.

Namun demikian, perbedaan kadar hormon tentu sangat dipengaruhi oleh kondisi genetika seseorang. Jadi seringkali kenapa ada yang sangat doyan dengan duren dan ada yang benci pun bukan sekedar like and dislike. Tapi sudah tersurat dalam genetika tiap individu.

Bahkan untuk memaki terma cinta, mencintai sesama jenis atau lawan jenis pun sudah digariskan dari sananya. Terapi-terapi hormon untuk mengubah seseorang menjadi lebih maskulin atau feminim hanya akan mengubah struktur tubuh, tapi konon tidak bisa mengubah struktur genetika dan otak.

Kebahagiaan akan selalu sulit untuk didefinisikan. Ada banyak buku yang mengulasnya. Dan kelak akan semakin banyak penelitian untuk mengkode ulang makna bahagia itu sendiri. Tentu tiap individu punya cara bahagia mereka sendiri dan makna bahagia antarindividu bisa jadi hanya sekedar kumpulan datum yang siap diterjemahkan.

Kembali mengutip pernyataan dahsyat Leo Tolstoy dalam imaji bahagianya Anna Karenina “… If it is true that there as many minds as there are heads, then there are as many kinds of love as there are hearts.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *