Belajar Hidup dari Orang Jepang

YOLO YOLO

Bagi saya, Jepang mungkin secara sejarah adalah bangsa yang paling menarik. Kadang saya tidak sukai, seringnya malah menakjubkan. Karena terlalu ambisius, Jepang menjadi bangsa yang justru gagal menjadi penguasa dunia. Namun, karena terlalu sering kena musibah, Jepang malah tumbuh menjadi bangsa yang sangat tangguh. Kalau boleh ngecap, Jepang itu Yahudinya Asia.

Jepang punya banyak hal yang bisa dipelajari, memahami Jepang seperti memahami bangsa dari planet lain. Jepang tentu berbeda dari budaya modern barat. Jepang punya gaya modernnya sendiri, juga punya gaya kapitalismenya sendiri.

Yang perlu dicontoh dari Jepang adalah kedewasaan mereka menerima segala sesuatu, ada keseimbangan, ada kekuatan, ada kerapuhan yang bisa dipelajari dan diterima siapa saja. Budayanya diam-diam mendunia dan menyerap ke banyak orang-orang modern. Lalu apa saja yang bisa dipelajari dari gaya hidup orang-orang Jepang?

Ikigai

Seimbang dalam tujuan hidup

Metode ini memang agak rumit dipahami, tapi poinnya adalah kehidupan yang seimbang dalam segala hal. Jika dikatakan soal seperti “work-life balance” maka ikigai ini bukan sekedar itu juga. Ikigai bahkan secara harfiah hanya bisa diartikan sebagai “tujuan bangun tidur”.

Dalam hidup orang Jepang, kita diharapkan punya keseimbangan antara pekerjaan yang menghasilkan uang, hobi, tujuan hidup untuk dunia lebih baik serta keinginan-keinginan yang memenuhi lahir dan batin.

Ikigai bukanlah sesuatu yang ambisius seperti terma-terma orang barat dalam mengejar life’s goal. Ikigai juga bukan suatu aksi dimana kita berusaha menyelesaikan masalah-masalah dunia yang memang kompleks dengan menjadi manusia super seperti di komik atau film.

Moai

Kawan-kawan berbagi punggung

Moai lebih seperti support group, dimana kita manusia harus punya teman-teman atau circle yang memahami diri kita. Sehingga dalam hidup, selain tidak merasa kesepian, kita juga merasakan perasaan orang lain dan berbagi beban dengan circle kita tersebut. Maoi secara harfiah berarti “pertemuan dengan tujuan tertentu”.

Moai memang sepertinya jauh dari gaya hidup orang Jepang, apalagi orang Jepang kini dikenal sebagai orang yang jika bukan sebagai individualis, maka bisa disebut lebih ke penyendiri. Moai sendiri asalnya dari Okinawa, salah satu wilayah di Jepang yang mendunia karena dikenal memiliki tingkat harapan hidup tertinggi di dunia. Konon berkat gaya hidup Moai dan diet pola makan, rata-rata orang Okinawa hidup lebih dari seratus tahun.

Wabi-Sabi

Seni yang sempurna dibalik ketidaksempurnaan

Ini cocok bagi seseorang yang sudah terlanjur ingin selalu mengejar kesempurnaan di dunia ini. Wabi-sabi adalah seni menerima sesuatu yang memang tidak sempurna. Jika dicari kesamaannya istilahnya, wabi-sabi berarti belajar ikhlas menerima setiap ketidaksempurnaan. Sabi… sabi…

Namun tak sekedar menerima nasib, wabi-sabi lebih mungkin diartikan sebagai sebuah seni melihat keindahan dibalik kecacatan. Wabi-sabi ini mencoba untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Karena kebahagiaan bagi yang memahami wabi-sabi, bukan sekedar mencari dunia yang serba sempurna atau harus ini harus itu, saklek.

Tapi jangan keliru mengartikan wabi-sabi seperti ungkapan yang lebih dekat ke- menyerah atau asal-asalan saja. Wabi-sabi tidak cocok digunakan bagi orang-orang yang pada dasarnya memang terlalu sering berlaku tidak sempurna dan mudah menyerah.

KAIZEN

Semua dimulai dari langkah pertama, dari hal terkecil

Kaizen ini mungkin sudah sangat terkenal di dunia perbisnisan. Prinsip dalam setiap perusahaan di Jepang, yang berarti perubahan untuk hal yang lebih baik.  Kaizen ini adalah dorongan untuk melakukan perubahan-perubahan melalui hal-hal yang paling kecil, bahkan dari hal yang sering dianggap remeh temeh.

Pada dasarnya dalam Kaizen ini, kita diminta untuk melakukan hal-hal kecil sebelum berfikir ke hal-hal yang besar. Sehingga kita sering melihat bagaimana orang-orang Jepang sangat teliti bahkan pada hal-hal yang tidak terlihat atau abai dilakukan orang-orang biasa. Ambil contoh bagaimana orang Jepang sangat peduli pada ketepatan waktu yang diukur hingga per detik, seperti bukti ketepatan waktu kereta-kereta di Jepang yang terkenal di seluruh dunia.

KonMari

Dunia yang ringkas dan bermakna

Istilah ini tak lepas dari sang master beres-beres Marie Kondo. Yang menulis soal KonMari atau anggap saja beres-beres cara Jepang. Istilah KonMari sebetulnya tidak dapat dimasukkan ke list ini, karena metode ini sudah menjadi trademark dari Marie sendiri. Sehingga apapun yang menyangkut bisnis dengan metode KonMari maka harus seizin Marie. Namun, karena ide KonMari pada dasarnya dapat diaplikasikan bagi kehidupan sehari-hari kita, maka saya masukkan metode ini ke dalam daftar hal-hal yang harus kita ketahui soal gaya hidup orang Jepang.

KonMari sebetulnya hanya metode yang mendorong kita untuk beres-beres berdasarkan kategori. Yang paling penting dan utama adalah pakaian. Ya, pakaian sering menjadi salah satu hal yang paling banyak ditumpuk manusia modern. Bagi orang Indonesia, pakaian bekas seringkali baru keluar lemari saat ada dorongan untuk menyumbangkan barang bekas untuk korban bencana alam.

Setelah pakaian, baru kemudian masuk ke kategori lain seperti buku dan kertas, komono atau pernak-pernik kemudian baru masuk ke barang sentimental.

Idenya sederhana namun perlu kekuatan dan ketabahan diri, karena kita diminta hanya menyimpan barang-barang yang benar-benar kita butuhkan dan memiliki hubungan dalam perasaan kita. dan berusaha untuk menyingkirkan barang-barang yang istilahnya “no spark joy”atau tidak membawa kebahagiaan. Untuk jenis barang yang no spark joy ini, kita bahkan diminta untuk mengucap “terima kasih” kepadanya sebelum benar-benar mengikhlaskannya pergi.

Jepang mungkin bukan sebuah tempat yang dapat dicontoh untuk mencari  suatu kebahagiaan, mengingat banyak hal di Jepang justru orang-orangnya tidak nampak bahagia, bahkan dilihat dari statistik masalah kehidupan seperti budaya menyendiri dan bunuh diri. Namun, gaya hidup orang-orang Jepang tadi setidaknya bisa jadi rujukan untuk mencari ketenangan duniawi.


Ya nggak sih?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *