Bagi banyak orang, langit siang hanya sekedar penanda waktu kerja sedang malam tentu soal tidur. Dulu pelaut menggunakan bintang di malam hari untuk menentukan arah, petani menggunakannya untuk menentukan musim tanam, hingga penujum menggunakannya untuk meramal masa depan.

Rasi bintang telah bersama manusia sejak ribuan tahun lalu dengan penafsiran dari yang sederhana hingga ke magis. Namun, yang mistis mulai terbantah semenjak Galileo, sekitar 500 tahun lalu- memanfaatkan malam-malamnya untuk bermain dengan apa yang kini kita kenal dengan teleskop. Sang martir sains ini lalu dengan lantang menentang doktrin geosentris hingga ia menjadi tumbal kesemena-menaan agama.

Rasi bintang atau jajaran-jajaran bintang di langit seolah merupakan sekumpulan bintang yang berjajar membentuk suatu pola dan saling terpaut. Kenyataannya, jarak antar bintang dalam satu rasi bisa jadi lebih dari miliaran tahun cahaya antara bintang satu dengan lainnya.

Memahami realitas semesta raya bukanlah soal ilmu magis, taburan bintang di angkasa adalah suatu kepastian yang fana dalam universal kita saat ini. Bagi sebagian orang, memahaminya adalah upaya memahami universalitas alam semesta yang sebagian besar masih terselubung.

TELESKOP

Teleskop sederhana milik Galileo awalnya digunakan untuk menyatakan bahwa bumi ini mengitari matahari, sedangkan Katie Bowman di awal 2019 lalu, berhasil membuat pemrograman antar-teleskop di dunia yang disebut Event Horizon yang mampu menangkap citra tajam semesta raya nun jauh di sana, hingga berhasil menemukan sebuah lubang hitam berjarak 55 juta tahun cahaya dari bumi.

Teleskop memang mengubah hidup kita dari yang penuh mitologi ke pembuktian realitas-realitas baru. Penemuan demi penemuan menjadi bukti dari teori-teori yang masih terselubung dan menunggu untuk ditemukan.

Kita punya tuntutan baru, jika pelaut zaman dulu bersauh untuk menemukan daratan-daratan baru. Kini astronom berlomba-lomba mencari rumah baru, mungkin suatu planet di galaksi lain yang jaraknya bisa jadi ribuan tahun cahaya ke bumi biru kecil kita ini.

China bahkan telah membuat teleskop luar angkasa terbesar di dunia, seluas hampir 500 meter yang dinamai Five-Hundred-Meter Aperture Spherical Radio Telescope atau FAST. Misinya tentu saja, selain memperjelas citra isi semesta raya kita juga berambisi menjadi yang pertama menemukan dunia baru atau bahkan keberadaan sang liyan di luar sana.

Perlombaan mencari citra dunia baru ini tentu tidak sekedar uji kemampuan, tapi juga uji gengsi antar negara. Miliaran dolar telah dihabiskan untuk membuat mega-teleskop di berbagai penjuru dunia.

Dari Wisata Antariksa, Bulan hingga Tinggal di Mars

Seiring melimpahnya sumber daya manusia saat ini. Proyek-proyek astronomi kini tidak lagi dikendalikan oleh pajak masyarakat lewat lembaga semacam NASA atau CERN. Orang-orang kaya baru yang punya pemikiran melampaui zamannya macam Elon Musk , Jeff Bezos dan Richard Branson kini mulai mendanai proyek-proyek perjalanan antariksa.

Tahun 2019 ini bahkan SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos secara serentak- jika tidak dikatakan bersaing- untuk mengumumkan pendaratan manusia kembali ke bulan di tahun 2023 – 2024 nanti.

Elon Musk bahkan secara terang-terangan akan mengkomersialisasikan wisata ke bulan. Dia mengumumkan jutawan asal Jepang, Yusaku Maezawa sebagai penumpang pertama wisata ke bulan. Yusaku diperkirakan harus membayar sekitar 70 Juta Dolar AS untuk perjalanannya itu. Namun, bagi Yusaku harga sebesar itu masih termasuk murah. Tahun 2018 Yusaku tercatat membeli lukisan Basquiat seharga lebih dari 100 Juta Dolar AS.

Upaya sekedar keliling langit bumi dan mendarat di bulan sekarang bukan hanya isapan jempol. Ke depan kita bahkan merencanakan untuk mengkolonisasi Mars. Kemungkinan itu sudah bergulir lama semenjak ilmuwan memprediksi bahwa Mars punya air.

Semesta yang Tidak Terbatas

KIta tidak tahu di semesta kita ini sejauh mana batasannya. Bahkan saat ilmuwan menempatkan teleskop ke ruang kosong di luar sana, ternyata tak kosong-kosong juga. Ada milyaran tak terhingga galaksi yang ditemukan, menunggu dinamai bahkan berpotensi telah dihuni oleh sang liyan. Dari bumi kecil kita ini, kita baru sekedar belajar mengintip begitu agungnya semesta raya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.