Identitas memang membuat perpecahan karena memicu konflik (baca tulisan saya tahun 2012). Evolusi sosial mengkotak-kotakkan diri berdasarkan jenis-jenis yang sudah taken for granted, seperti bawaan genetika, kelamin, keturunan, bangsa, kelas sosial dan lainnya.

Namun apakah selamanya identitas menjadi selubung yang menyekat? Tentu ini adalah pertanyaan yang jawabannya semakin rumit. Lebih lagi saat ini, kita menuju zaman dimana kita dibebaskan memilih apapun yang awalnya dianggap sebagai bawaan. Di era modern ini, atau sebut saja kita sudah di era pasca-modern, atau sebut saja era sesuka-suka kita. Sehingga terbukanya akses pada pilihan identitas kini makin beragam.

Pengetahuan kita yang luas akibat terbukanya dunia informasi semakin menguatkan beragam identitas. Di era serba cepat ini, hasrat-hasrat yang dulu terpendam di sisi terdalam otak kita, berlahan-lahan mulai tergali dan semakin menguat. Ini terjadi karena apapun yang terbeslit di otak kita, dengan langsung dan dengan mudah bisa kita temukan di internet.

Misalnya, bila tiba-tiba kamu ingin memakai rok padahal kamu cowok, maka kamu bisa buka internet dan tahu bahwa di Skotlandia sana pakaian tradisional cowoknya seperti rok. Setelah baca beberapa tulisan atau tulisan ini. Kamu juga baru sadar bahwa bawahan tradisional orang Jawa juga sejenis rok, pakaian tradisional orang Arab bahkan mirip daster. Masih banyak santri di pondok juga pake sarung tanpa celana dalam. 

Karena kamu punya duit, kamu segera buka tokopedia beli gamis buat sholat jumat karena pengen pakai rok dan merasakan semilir tanpa celana dalam. Eh bentar, setelah browsing lebih dalam lagi ternyata ada yang ga lebih mirip gamis arab, ada pakaian karya Yohji Yamamoto yang kaya daster emmmm mungkin ini bisa dipakai buat mejeng. Ini bukan daster, ini Yohji! pikirmu.

Keinginan untuk menguatkan identitas saat ini lebih banyak didukung oleh faktor eksternal seperti publik figur, paksaan orang tua hingga keinginan untuk mendekatkan diri dan menjadi bagian pada suatu kelompok. Selain itu, yang masih sangat relevan dan akhir-akhir ini menyeruak misalnya soal identitas golongan atau ideologi suatu bangsa yang semakin konservatif akibat gegar globalisasi. Tahi kan memang, mikirin identitas ternyata bisa berasal dari rok sampai nasionalisme.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri penguatan identitas masih juga didukung oleh faktor internal seperti pencarian jati diri, trauma masa lalu, juga yang diam-diam makin menguat: pencarian kesenangan pribadi. Yah, di era pasca-modern ini, kenikmatan telah berevolusi menjadi semakin gila dan weird.

Totally weird, I’m sick of thinking how people get fetish from something gross. But wait, hold my milkshake, I did it too…

Lantas apa saja yang semakin absurd di dunia penuh kebebasan identitas ini?

Agama (Of course, masih penting mikirin setelah mati kita kemana)

Identitas beragama semakin tidak tunggal, tidak juga semakin mengerucut. Buktinya makin banyak yang terang-terangan menjadi semakin beragama juga menjadi tidak beragama (tidak beragama juga merupakan agama lho) dengan berbagai macam cara.

Namun, trend pencarian google terlihat makin banyak orang menggapai ilmu agama sebagai pelarian hidup. Ada kecenderungan orang beragama dengan harapan hidup mereka semakin baik. Yup, jangan kira motif macam hijrah, negara islam, bahkan ibadah itu bukan motif ekonomi.

Kamu pasti pernah dengar old folk bilang  “Ibadah supaya hidupmu berkah (banyak duit)”. Atau orang-orang yang mapan karena privilege sejak lahir yang ngajak beribadah sambil bilang “supaya hidup dan matinya berkah bla bla bla…”

Most of us still percaya dengan pesugihan (nyembah setan) supaya cepet banyak duit

Most of us still percaya dengan ibadah (nyembah tuhan) supaya segala usaha tak seberapa karena privilege orang tua, sodara, dan kerja yang tak seberapa menguras keringat agar bisa tetap banyak duit.

See the bold in end, same.

Kecuali kamu yang belajar makrifat tasawuf, asketis, wali allah, orang suci, sudah moksa, alkemis atau apalah yang sudah ga butuh hasrat duniawi lagi. Identitas orang macam ini tentu bukan lagi soal duniawi dan tidak butuh tulisan ini.

Sekarang bahkan panutan beragama makin evolutif, siapa saja bisa muncul menjadi idola baru dalam beragama. Orang-orang beragama pada dasarnya sama dengan orang yang kecanduan dengan tokoh idola mereka, bahkan secara kimiawi sama saja dengan orang kadar serotonin dan dopamin naik karena bahagia atau seks.

Teriakan kegirangan saat bertemu idola, masokisme tangisan karena ketemu tokoh agama, hingga teriakan saat organsme sama saja terpicu oleh lonjakan dopamin di otak kamu.

Oleh karena itu tokoh terkenal yang konversi (mualaf), atau mendadak alim (hijrah) bisa jadi idola baru, dan penguat identitas bagi banyak orang. Perkawinan antara hasrat untuk menjadi manusia lebih baik dengan popularitas tentu sebuah sensasi yang menarik.

dan tentu mampu jadi keran duit baru, see!

seksualitas

Makin menyeruak soal kebebasan berekspresi, kini orang tak segan lagi mengeksplorasi diri mereka. Pilihan-pilihan baru hubungan antar individu selain monogami yang tradisional kini semakin menyeruak, sebut saja poligami, poliandri, open relationship, no string attached hingga jenis hubungan kontrak antar-manusia yang aneh lainnya.

Identitas dalam seksualitas juga semakin beragam seiring dengan maraknya teori-teori dan kampanye yang mendukung masyarakat LGBTQ. Hal-hal yang dulu sering dianggap tabu kini makin banyak diperbincangkan dan diperdebatkan di publik.

Politik Populis

Brexit, trump, cebong, kampret, 212 adalah produk politik populis yang berbalut nasionalisme atau agama. Pilihan politik masih dapat diramu dengan algoritma popularitas untuk mendukung ide atau gagasan tertentu. Makin banyak politisi yang menggunakan politik identitas untuk meraup suara.

Di indonesia misal, soal identitas agama masih menjadi barang dagangan politik yang laku keras. Di Amerika, kebijakan anti-imigran adalah upaya meraup suara kaum mayoritas kulit putih.

Post Truth

Post truth atau paska kebenaran adalah istilah dimana kita hidup di zaman anomali kepercayaan dan kebenaran. Kita hanya percaya pada apa yang telah kita yakini, kita hanya percaya pada apa yang ingin kita percayai.

Berbagai macam fakta dan kebenaran menjadi semakin tidak objektif dan kabur di mata individu dan kelompok sosial. Ini adalah efek samping dari melimpahnya informasi di era modern.

Akibatnya, secara nyata kita akan tumbuh menjadi sosok dengan identitas yang kuat dan semakin kuat. Jika kita percaya bahwa bumi itu datar, kita akan cenderung mencari-cari informasi yang membenarkan soal bumi datar. Kita akan mengabaikan informasi penyangkal lain, karena dari awal kita sudah percaya bahwa bumi itu datar.

Individualisme dalam dunia modern semakin meningkat seiring dengan sikap fanatisme identitas yang meningkat pula. sekat-sekat identitas memang semakin memudar dan makin mudah disebrangi, namun akibatnya sikap ini akan berbahaya dan rentan dimanipulasi.

Orang yang hidup di wilayah gagar teknologi akan lebih mudah terpapar berita bohong karena komunitas mereka cenderung hanya akan membagikan informasi yang mendukung pemahaman mereka tanpa upaya verifikasi terlebih dahulu. Ini biasanya timbul di lingkungan dengan penduduk konservatif dan monoton.

Polemik Keberagaman Identitas

Seperti yang disebut di atas, ke depan akan semakin banyak polemik identitas karena ekses atau persinggungan antar identitas makin sering terjadi. Merawat keberagaman harus selalu digaungkan karena bisa menjadi kunci pengurang ekses tadi.

Mau tak mau, kita tidak lagi hidup di era multikultural, kita sudah hidup di era multi identitas. Kemajemukan kita berarti kebebasan membentuk dan menjadi identitas baru.

Susah bagi kita mengatakan apakah kita siap atau tidak, selama ini kita memang hidup dalam keberagaman, namun belum mencapai suatu ‘kesepahaman akan keberagaman’. Potensi konflik di wilayah gagar teknologi macam indonesia masih sangat mudah disulut.

Upaya merawat keberagaman identitas akan gagal jika kita tidak memperdebatkannya di ruang publik. Sementara di ruang privat kebebasan beridentitas hampir-hampir tidak bisa dibendung.

Penyebrangan untuk jujur mengungkapkan identitas dari ruang privat ke publik ini menjadi tantangan baru saat ini.

Gampangnya, berapa banyak diantara kita yang punya lebih dari satu akun media sosial? Atau seberapa selektif kita membuka akun media sosial kita. Kita ingin tetap bebas berekspresi, tapi masih sangat ketakutan akan dihakimi.

Pandangan Revolusioner

Selama berabad-abad dunia mencatat pergumulan identitas dan mencatat keberanian manusia dalam menunjukkan jati dirinya. Perempuan bisa menang melawan patriarki maka mereka mencatat nama-nama pejuangnya di tinta emas, budak-budak kulit hitam di Amerika meminta kesetaraan hingga mereka tidak mau dianggap berbeda, kita mampu melawan penjajah dan kini berdiri tegak bersama bangsa lainnya, hingga Muhammad yang mengenalkan identitas keislaman di masyarakat barbar Arab; adalah upaya manusia dahulu melawan keterasingan identitas baru.

Bayangan jika perempuan tidak melakukan emansipasi, budak dan buruh tidak melawan kesetaraan, penjajah barat yang mengaku beradab tetap menganggap jajahan mereka seperti hewan peliharaan, hingga Muhammad yang enggan melawan mayoritas di zamannya. Apa jadinya?

Maka pandangan revolusioner baru soal identitas berupaya mengambil ide-ide itu, kita ingin keberbedaan dihargai, pembaruan yang ingin mengungkapkan siapa diri kita dan apa yang kita inginkan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan, bukan lagi sekedar dibayangkan dan dipraktikkan di ruang privat. Kita ingin identitas-identitas baru itu muncul di ruang publik.

Sekalipun dituduh sesat, menyimpang, merusak tatanan dan label buruk lainnya. Maka kira-kira seperti itulah yang dulu dihadapi para pembaharu dari Yesus hingga Muhammad, para pembaharu identitas manusia.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.