Kehendak Bebas

Ada hal yang dianggap menentukan kehendak manusia di dunia ini, yakni determinisme dan kehendak bebas. Dari dua dasar itu, dalam perkembangannya tiap agama punya praktik masing-masing. Dalam Islam misalnya, kita akan menentukan jenisnya dalam pemahaman jabariah dan qadariah, yang kemudian digunakan untuk mengklasifikasikan beberapa aliran.

Saya tidak akan membahas aliran filsafat dalam Islam, karena sangat rumit dan membosankan. Atau bahkan mungkin Anda berpikir, ah kan memang Islam seharusnya tidak boleh dimasukkan filsafat! Anda keliru, filsafat sebagai sebuah ilmu merupakan alat yang digunakan untuk membedah pemikiran dan praktik dalam kehidupan sehari-hari termasuk agama.

Determinisme

Determinisme merupakan anggapan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sudah digariskan oleh Tuhan. Bahkan ada yang menganggap jika segala sesuatu kenyataannya sudah digariskan sebelum semua benda ada. Determinisme tidak melulu mutlak, dalam prakteknya ada yang menjalankannya secara lembut ada pula yang keras dan menganggap bahwa semua ini sudah ada yang mengatur.

Determinisme ini sangat pasti dapat ditemukan dalam generasi yang terlampau lama dijajah suatu penguasa. Sifat determinisme ini muncul seperti dalam proses domestikasi hewan. Hewan yang tadinya liar di alam bebas dapat dijinakkan oleh manusia dalam proses ribuan tahun, hingga kini bisa menjadi hewan rumahan.

Pun manusia yang terlampau dijajah akan menjadi bingung karena telah lama hidup dalam aturan penguasa, mereka bahkan mengira telah hidup damai dalam suatu aturan yang bahkan otoriter dan menindas. Kenapa? Karena mereka tidak tahu dunia jenis lain yang bisa jadi lebih baik.

Anda tentu tidak asing dengan istilah astrologi, garis tangan, ilmu weton, kartu tarot dan kawan-kawannya. Mereka yang memercayai ilmu jenis ini adalah generasi yang yakin bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah digariskan oleh yang pegang penggaris.

Kehendak Bebas

Lantas ada pemahaman kehendak bebas atau free will dimana kita manusia merupakan entitas yang dianggap memiliki keinginan bebas yang harus dihormati. Kita dibolehkan menjadi apapun yang kita mau dan inginkan. Pemahaman ini cenderung dijalankan oleh masyarakat maju, bahkan dituduh menjadi pemikiran negara sekuler yang sudah atau perlahan meninggalkan agama.

Namun, apakah kehendak bebas hanyalah penafsiran bagi mereka yang ingin menjauhi sekat-sekat dalam agama. Ternyata tidak, dalam penafsiran berbagai agama, pemahaman akan determinisme dan kehendak bebas pun ada. Dalam Islam misalnya, kita akan menemukan sejumlah ayat yang cenderung memberikan kebebasan dalam hidup.

Ambil contoh ayat soal tidak ada paksaan dalam beragama (QS. Al-Baqarah: 256), kemudian bagaimana soal nasib yang harus diperjuangkan (QS.Ar-R’d:11), bahkan soal siapa yang mau beriman dan kafir itu merupakan pilihan (QS. Al-Kahfi : 29).

Tentu ayat-ayat tadi telah dan terus ditafsirkan beragam oleh ahlinya. Tetapi tidak dapat disangkal, ternyata dalam konteks agama pun, Tuhan digambarkan sebagai entitas yang memberikan kita manusia pilihan-pilihan. Bukan hanya sebuah kemutlakan seperti yang digambarkan oleh segelintir orang.

Tapi itupun masih penuh kritik, pilihan-pilihan yang diberikan Tuhan dalam sejumlah ayat tadi dianggap sebuah pernyataan retoris, untuk menunjukkan betapa manusia pada dasarnya tidak akan pernah mampu seluruhnya menaati Tuhan. Dan dasar itu digunakan sebagai alat untuk memaksa, oleh mereka yang merasa punya penafsiran akan kebenaran tunggal.

Kehendak Bebas yang Tidak Bebas

Apakah Anda cukup yakin dengan kehidupan Anda?

Apakah selama ini apa yang kita lakukan dan rasakan sudah benar?

Apakah hidup adalah perkara seperti keseharian yang Anda lakukan saja? dan 

Apakah Anda pernah berpikir bagaimana cara hidup orang-orang diluar sana? yang makannya bukan nasi dan mandinya seminggu sekali?

Kita semua berpikir dan melakukan seperti yang pernah kita pelajari dan pahami. Keinginan untuk terus maju merupakan kehendak yang positif seperti terus belajar, berusaha menjaga lingkungan, hidup minimalis dan lain sebagainya.

Tetapi ada yang menggunakan kehendak bebas sebagai pilihan mutlak pribadi. Anda bisa bersenang-senang bahkan merugikan diri Anda sendiri. Merokok, minum minuman keras, seks yang tidak aman adalah kehendak bebas negatif.

Itu memang negatif dan merugikan diri, tapi toh banyak yang melakukannya.

Lantas kenapa kita masih harus memperjuangkan kehendak bebas sekalipun ada positif dan negatif. Karena sebetulnya kehendak bebas bukanlah sebuah kebebasan mutlak.

Secara sains, apa yang kita lakukan adalah serangkaian determinisme biologis. Kenapa kita doyan makan nasi daripada tepung tepungan, mengapa mayoritas perempuan suka bergincu dan lain-lain. Merupakan determinisme biologis yang ada karena tidak hanya lingkungan, tetapi juga proses neurotika di otak hingga suratan genetika yang memengaruhi kecenderungan perilaku kita.

Jadi manusia sebenarnya tidak sepenuhnya punya kehendak bebas. Mayoritas laki-laki mungkin terbukti menyukai perempuan. Itu karena dalam biologi manusia, proses regenerasi terjadi karena dua entitas perempuan dan laki-laki yang ingin berkembang biak.

Secara biologis, dorongan berkembang biak ini merupakan cara sel-sel kita dari sejak makhluk bersel tunggal untuk bertahan diri dan regenerasi. Ini berarti dalam seks, Anda sebetulnya tidak punya kehendak bebas melainkan karena dorongan seksual oleh hormon dan aktivitas elektris dalam tubuh dan otak Anda.

Moral, Etika, Hukum, dalam Kehendak Bebas

Apakah kita sadar siapa diri kita?

Sebagian besar kita mungkin berkata “Ya, sadar” meskipun kita tidak tahu seberapa sadar kita akan diri kita.

Sebagian mungkin perlu meditasi, untuk memahami kalau dia bernafas sehingga baru sadar bahwa mereka hidup.

Sebagian orang perlu musibah, untuk menyadari kehidupan mereka. Setelah mereka sakit atau bahkan kehilangan penglihatan, kaki, atau organ tubuh lainnya.

Sebagian bahkan berkata “Apa sih, ya sadar lah,” sampai kelak baru paham bahwa kesadaran diri itu penting saat mereka tahu sebentar lagi mereka akan mati.

Kesadaran akan diri merupakan kunci kehendak bebas. Seringkali kita manusia tidak menyadari siapa diri mereka, apa tujuan hidup mereka, apa yang harus diperjuangkan, apa yang membuat kita bahagia, dan hal-hal sederhana yang tidak kita sadari.

Semakin kita sadar tentang siapa diri kita, semakin kita memahami batasan-batasan hidup dan resiko-resiko dari pilihan yang secara sadar kita ambil.

Manusia akhirnya menciptakan hukum untuk membatasi kehendak bebas. Hukum adalah produk yang sudah ada bahkan sebelum pra-sejarah. Manusia butuh aturan untuk menghindari kesewenang-wenangan diri dan kelompok yang berpotensi merugikan pihak lain.

Karena sadar bahwa sebelumnya kita tidak sepenuhnya punya kehendak bebas (karena dipengaruhi determinisme biologis tadi) manusia perlu mengembangkan diri dengan moral dan etika.

Lagi-lagi filsafat memberi kita jalan untuk memahami moral dan etika. Bahkan tanpa doktrin agama pun, manusia di zaman modern telah mampu mengembangkan moral dan etika yang tertuang dalam produk hukum.

Catat, sebagian orang yang enggan befikir menganggap kehendak bebas sejalan dengan konsep liberal. Orang-orang yang dituduh tersesat karena tidak mau dibatasi dalam hidupnya. Padahal kebebasan bukan hanya soal bebas melakukan apapun hingga kacau atau cheos apalagi tak berhukum atau lawless. Negara yang menjadikan kehendak bebas sebagai urat nadinya justru berkembang sebagai negara yang adil dan lebih makmur.


Refleksi

Memahami siapa diri kita itu penting. Menyadari bahwa kita punya kehendak bebas lebih penting, bukan sekedar menjalankan kehidupan seperti yang telah orang lain jalani.

Karena setelah ini kita harus menyadari bahwa mungkin di mata Tuhan, kita tidak akan pernah cukup baik.

Ya, apakah Anda sadar betapa jahatnya Anda saat memperlakukan petani di desa dengan menyisakan nasi di piring? Dengan mudahnya Anda menyepelekan proses nasi di piring Anda yang melewati petani yang dibayar murah.

Hanya karena Anda punya uang banyak dari hasil kerja tak seberapa! Padahal Anda bisa minta nasi di piring dikurangi setengah, atau tidak usah ngambil banyak-banyak nasi di kondangan kalo tidak dihabiskan! Goblok!

Apakah Anda sadar bahwa hari ini banyak sampah plastik yang telah Anda gunakan dan buang begitu saja, padahal saat Anda mati lima puluh tahun kelak, sampah itu masih ada dan hinggap di perut Paus dan membuat dia mati sia-sia karena sampah Anda?

Kalo saya jadi Tuhan, orang macam Anda akan saya masukkan neraka tak peduli seberapa sering Anda sujud atau duduk lama di rumah saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.