NOW AS PRESENTS

Kita hidup dalam gelimang konsumsi dan informasi. Banyak hal yang harus dikejar dengan embel-embel life’s goal, cita-cita, hidup ideal, makmur, dan lain-lain. Segala sesuatu nampaknya penuh dengan kompetisi dan ambisi. Penuh dengan keingingan-keinginan yang acap kali hanya perasaan yang tak kunjung terpenuhi. Seperti minum air laut.

Kesibukan yang mengalihkan dunia kita seperti; pekerjaan yang setiap hari kita lakukan, kehidupan sosial yang kita jalani, masalah yang silih berganti adalah bagian holistik dalam kehidupan kita. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan menanyakan pada diri kita,

Apa makna kehidupan saat ini?

Dalam bahasa Inggris, si bule ngomong sekarang itu sebagai “present” yang artinya juga bisa jadi “hadiah”; menurut mereka konsep bersyukur sebetulnya sederhana, apa yang kita jalani saat ini adalah hadiah dari apa yang telah kita lakukan.

Tapi ini kompleks, manusia modern macam Anda yang buang-buang waktu membaca tulisan ini bisa jadi sudah “yaelah” dengan kehidupan ini. Tapi saya mau ngobrol, sebetulnya sih pada diri saya sendiri.

Apakah kopi yang saya minum saat ini benar-benar enak, atau hanya gaya-gayaan saja?”

Media sosial yang membentuk manusia modern

Ini masalah besar, setidaknya bagi saya.

Bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial, kita menghadapi kekalutan luar biasa. Apa yang dulu diharapkan sebagai media jejaring komunikasi yang mampu menyatukan, kini telah beralih menjadi sarana yang justru memecah belah. Tak hanya memecah manusia tetapi juga perasaan kita sendiri.

Tidak sepenuhnya benar sih, tetapi dalam konteks tertentu, khususnya politik,- media sosial menjadi sarana pengganti adu jotos jalanan. Asumsi siapa yang kuat dia yang menang masih banyak dipercayai, meskipun kedua kubu sama-sama babak belurnya.

Eh, saya masih pakai facebook dan twitter buat nyari berita dan kesenangan kok! Akun alterku …

Selain itu media sosial nampaknya juga menjadi ajang penunjukan diri atau eksistensi seseorang. Aneh jika kita baru berkenalan dengan seseorang tetapi sama sekali tidak punya jejak digital di Google. Tidak diketahui akun media sosialnya, tidak ada rekam jejak pendidikannya, pekerjaannya, dan kehidupan sehari-harinya.

Ucluk-ucluk temenku nanya, ‘Linkedin apa dah?‘”, tanya doski anak sultan.

Seolah-olah Anda tidak hidup jika tidak punya jejak digital. Pun kalau ketemu seseorang, dengan media sosial kita mudah melakukan profiling seseorang. Setidaknya siapa teman-teman dekatnya. “Oh, circlenya si anu ya…

Maka media sosial kini berubah menjadi ujuk gigi, insta-stories, whatsapp-stories, (by facebook) membuat seolah-olah kita tidak hidup kalau tidak membagi Spotify yang sedang didengarkan, Netflix yang ditonton, atau sruputan Starbux yang tak kalah enak dari Pop Ice.

Dan hey! ternyata segala bentuk konsumsi itu adalah upaya branding kalau “saya bisa langganan nih, saya bisa makan ini nih, gajiku segini dong…” dan itu membunuh imajinasi kehidupan kita pelan-pelan.

funfact:
Kelas menengah Indonesia diperkirakan ada 85 Juta di tahun 2020, inilah target produsen berbasis konsumerisme yang terus digenjot. Jangan sampai mereka nabung! Nabung bikin ekonomi tidak bergerak! Mereka harus kredit kendaraan, rumah sepetak, gadget-gadget, besok kasih hape yang ada jabriknya!

Berapa banyak dari kita yang berlibur bukan untuk menenangkan diri, mencari kedamaian, bersenang-senang dengan orang terdekat, tetapi hanya demi konten? Tidak salah sih, tetapi akhirnya sebagian besar kita jutru kehilangan momen berharga dalam hidup, bahkan cinderung hanya membuang uang.

Berapa banyak dintara kita yang beli barang bukan karena butuh atau penting, tetapi karena orang lain juga punya. Jadi kalau sudah begitu, barang apapun yang kita punya sekarang, pasti tidak akan memuaskan. Karena sekarang kita beli besok keluar jenis baru lagi.

Yang bisa beli terus ya si anak sultan!

Tidak-tidak salah, kita butuh ekistensi, kita butuh pengakuan, apalagi kalau Anda bekerja di bidang kreatif, maka media sosial adalah modal sosial Anda. Tapi sekali lagi, jangan sampai kehidupan ini hanya demi kilatan cahaya sesaat. Ini self reminder sih.

Pelan-pelan

Orang Jawa sering bilang, ‘ojo kesusu ndak ngelek-ngeleki‘ sambil tertawa memegang payudara dan ketiaknya. ‘Susu‘ adalah payudara, sedang ‘elek‘ itu maksudnya jelek dari kata ‘kelek’ atau ketiak.

Orang Jawa menggunakan istilah ini untuk mengejek kegagalan atau potensi kegagalan seseorang karena melakukan sesuatu dengan terburu-buru atau grusa-grusu.

Orang Jawa yang hidup di gunung adalah tipikal pelan, khusunya saya yang kelahiran Solo. Jadi untuk hidup cepat sering kali saya sangat kelelahan. Saya selalu mikir kalau saya ini introvert, tapi kenyataannya saya memang punya genetik gampang lelah dan termasuk spesies homo rebahan.

Padahal kalau disuruh naik gunung, jalan ke kantor tiga kilo meter setiap hari, olahraga sejam dua hari sekali pun masih kuat. Cuma kalau disuruh ikut rame-rame sejam aja, saya milih pulang dan tidur.

Dulu saya pikir senang sekali kerja di gedung tinggi, meeting dengan orang-orang, ketemu ini-itu membahas ini itu. Saya selalu bercita-cita seperti yang mulia ratu Carrie Bradshaw yang anggun- berangkat kerja atau mejeng ke kafe menyusuri trotoar ibu kota, di Manhattan atau paling tidak Sudirman lah…

Kenyataannya, kehidupan seperti itu sangat menyebalkan. Saya pernah ngantor di gedung tinggi Gatot Subroto dan Kuningan, tetapi jalan dari Bintaro harus naik kommuter nyambung busway yang berdesak-desakan, itu awalnya menyenangkan lalu menjadi sangat menyebalkan.

Sekarang boro-boro seperti itu, kalau jalan kaki saya harus menyusuri perumahan kumuh, dan gang sempit di Palmerah hingga Slipi. Seringkali naik ojek online atau busway untuk sampai ke kosan. Lalu apa yang saya rasakan?

Saya berusaha untuk semakin bahagia, sekarang, bukan nanti-nanti. Saya bahagia punya teman banyak, punya waktu buat nulis hal-hal kayak gini, bisa sesekali baca buku di kedai kopi, adalah hal-hal yang akan saya wiridkan tiap detik bahwa: SAYA BAHAGIA.

Saya sadar ternyata kehidupan sempurna bukan yang saya maui. Glamour itu hanya sugesti sejak kecil yang saya pelajari di televisi. Saya tak mau mencoba lagi untuk menirunya! Meskipun dari suatu sisi bagus juga sih, karena proyeksi tadi saya jadi berusaha nyari kerjaan yang ada gedungnya hahaha…

Tapi alih-alih menggerutu, saya sekarang mencoba bersyukur dan berusaha untuk menggeluti kehidupan yang slow living dan minimalis. Mau itu jalan kaki, ojek online, atau busway, saya selalu berusaha menikmatinya.

Lihat bunga yang bemekaran, apalagi di musim hujan yang basah di pagi hari adalah suatu berkah. Pulangnya, kalau habis hujan langit pasti terang, di tanggal menjelang tengah bulan hijriah, bahkan di kota seperti Jakarta, pun bulan dan bintang turut menyapa.

Pokoknya mau pakai petir badai pun, saya berusaha untuk tidak menggerutu. Berusaha sih, tapi namanya manusia kan boleh ngeluh dikit…

Menjadi sadar dengan apa yang dimiliki

Yesterday’s the past, tomorrow’s the future, but today is a gift. That’s why it’s called the present. Bil Keane (ga tahu siapa)

Susah sekali memang untuk mensyukuri pencapaian yang dimiliki, kita cinderung melihat rumput sebelah yang lebih hijau. Ini membuat kita kurang bersyukur, tetapi bisa juga jadi cambuk untuk bekerja lebih keras. Tapi ya, hidup-hidup kita gitu, kenapa harus sama dengan orang lain? Ga harus, ya kan?

Tiba-tiba doski ngewhatssapp:
“Kimi, dateng house warming ke rumah serpong ya!”

Dulu
Kan bangke, gue kawin aja belum temen gue udah syukuran rumah!

Sekarang
Puji Sang Hyang Widi, senang sekali mendengarnya! (Bangke nih harus beli kado!)

Kalau kondisi kamu sama dengan saya, tidak punya kendaraan dan kemana-mana jalan kaki atau transportasi umum, bersyukurlah! Kita bisa lebih sehat dan meninggalkan sedikit jejak karbon bagi bumi ini. Kita kalau mati tidak harus meninggalkan sampah bertumpuk.

Kalau kamu masih ngontrak, berbahagialah tanpa harus stress membandingkan dengan rumahnya si Nia Rachmadani, kalau bisanya ngontrak, ya mau bagaimana lagi?

Apalagi bukan anak sultan atau ahli goreng saham. Berbahagialah kerja keras hari ini, suatu hari nanti pasti terbayarkan, kalau nggak kontan ya kredit, ga dosa-dosa amat yang penting bisa happy-happy.

Mau jadi apa? Mau kemana? Tidak penting. Yang Penting jangan menunda untuk bahagia.

Kita bisa punya segala-galanya, kalo kata Sidu: “Where there is a will there is a way” itu rumus alkemi yang pasti.

Tapi jangan sampai “The ends justifies the means” kek kita mau ngoyo-oyo (banting tulang banget) dengan menghalalkan segala cara demi mau naikain standar hidup seperti orang lain. Bahkan maksa-maksa demi sosial media.

kita semua setara, kesempatan matinya sama, kesempatan bahagianya juga sama . Mau punya instagram atau enggak, kalo udah gilirannya ya udah.

Akhirnya aku cuma mau bilang:
Yuk happy-happy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.