NKCTT dan Mental Kita

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini atau NKCTHI punya premis sederhana: hal-hal yang menggelayuti sepanjang hidup kita, bisa jadi karena trauma masa lalu yang belum selesai. Namun, seandainya penyelesaian trauma bisa semudah film dua jam, tentu hidup akan lebih mudah. Maka Mari Kita Cerita Tentang Trauma #NKCTT dan mental kita.

Tokoh yang mengganggu sepanjang NKCTHI adalah figur sang ayah. Ayah adalah orang yang obsesif terhadap anak-anaknya, terutama si bungsu Awan. Sepanjang film kita akan menemui bagaimana Ayah digambarkan sebagai sosok yang suka mengatur.

Gambaran ayah dalam film ini masih bisa dianggap lebih baik dibandingkan dengan sosok ayah pada umumnya. Tokoh ayah tidak melakukan kekerasan fisik, stereotip maskulin ayah pada umumnya yang kejam. Tidak, ayah hanyalah sosok yang trauma semenjak sang istri kehilangan salah satu anaknya, kembaran si Awan. Trauma yang sebenarnya ditularkan dari si ibu.

Trauma ayah selesai dengan sederhana: berbagi trauma dengan anak-anak mereka. Membuka luka lama dan membagi bebannya kepada anak-anaknya. Ibu yang sepanjang film murung tiba-tiba berubah menjadi sosok yang selesai dengan traumanya. Menjadi penyelamat anak-anak mereka. Terdengar mudah sekali menyelesaikan trauma, bisakah?

Takut ke Trauma

Kita semua punya ketakutan-ketakutan yang terlihat maupun tak terlihat. Ketakutan tidak muncul begitu saja. Ketakutan tumbuh karena pengalaman kita sebelumnya, ketakutan bisa jadi karena kolektif hingga diturunkan dalam kode genetika hingga alam bawah sadar makhluk hidup.

Ketakutan manusia akan hal-hal ghaib misalnya, dari mulai hantu hingga tuhan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ada logika kolektif yang ditularkan dari generasi ke generasi. Penciptaan semesta hingga fenomena alam seperti gerhana hingga gempa bumi, awalnya dijelaskan dengan mitos, kini penjelasannya bisa dipahami logika.

Sepanjang sejarah manusia, kita dihadapkan pada ketakutan-ketakutan yang tidak berarti. Manusia tidak diam, mereka melawan dengan terus belajar dari hal-hal yang belum diketahui.

Takut pun punya berbagai tingkatan mulai dari takut sewajarnya, hingga ketakutan yang besar seperti phobia dan trauma. Kita akan menemukan permasalahan yang disebabkan oleh trauma dan ketakutan seperti stress dan depresi.

Pada level lebih membahayakan, luka jiwa yang tidak selesai bisa menjadi pemicu gangguan jiwa parah hingga kehilangan fungsi logika otak yang disebut dengan gila.

Kadang kita menyadarinya, seringkali kita tidak tahu hingga trauma dan ketakutan itu mengganggu kehidupan kita. Ketakutan itu ada di sana, di ujung sisi jiwa kita. Tapi kebanyakan kita tidak banyak tahu. Kita hanya sekedar bad mood, stress, atau punya perasaan kosong.

Tapi seringkali kita tidak tahu itu apa. Mari kita runtut secara sederhana.

Takut dengan kecoa misal, terjadi karena sewaktu kecil kita tersugesti dengan ketakutan akan kecoa oleh orang terdekat kita. Atau kita pernah ditakut-takuti oleh kecoa oleh saudara kita. Hingga rasa takutnya membekas sampai dewasa. Kejijikan akan kecoa akhirnya terus beruntun dan diturunkan dari generasi ke generasi, umumnya pada kaum perempuan.

Itu baru soal kecoa, ketakutan kita juga berasal dari hal-hal yang tidak kita pahami. Mengapa seseorang menjadi terlalu introvert, menutup diri. Mengapa seseorang tidak bisa menyukai lawan jenis, mengapa seseorang takut keluar malam dan ketakutan-ketakutan lain bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ketakutan itu timbul dari pengalaman sebelumnya. Hasil belajar otak kita terhadap suatu pengalaman buruk.

Faktanya, kita mesti bersyukur. Otak kita juga punya kemampuan untuk melupakan hal-hal buruk termasuk penyebab ketakutan atau trauma. Otak tidak melulu menyimpan ketakutan dan pengalaman buruk. Contohnya, masih dapat kita temui orang yang berani mengendarai motor sekalipun dia pernah mengalami kecelakaan.

Namun beberapa hal trauma dan ketakutan tidak mudah diselesaikan. Sama dengan luka badan. Kalo kamu jatuh dari sepeda mungkin mudah sembuh hanya dengan plester dan antiseptik. Kita cukup tunggu agar sel darah putih menutup luka kita.

Namun, bagaimana dengan luka yang berat? Kita perlu dokter untuk menyelidiki luka kita, hingga mungkin perlu antibiotik hingga tindakan operasi untuk menyembuhkannya.

Begitu pula dengan luka jiwa, ada luka yang mudah sembuhnya. Rasa sakit hati diputus mantan tak serta merta membuat kita tidak mau pacaran lagi. Tapi bagaimana yang putus dengan mantan karena tindakan kekerasan dan pelecehan. Tak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga luka jiwa yang tak kunjung sembuh dan menimbulkan trauma.

Gender

Siapa yang lebih banyak mengalami masalah kejiwaan? Apakah perempuan? Sepertinya sih benar perempuan. Bayangkan perempuan adalah figur yang rentan stress dan depresi. Menstruasi tiap bulan, kemudian faktor  melahirkan yang sebetulnya cukup menjadi alasan mengapa perempuan seharusnya menjadi makhluk paling traumatis. Namun, kenyataannya tidak. Mayoritas perempuan justru mampu dan kuat terhadap trauma pasca melahirkan.

Fakta menarik adalah hampir seluruh negara di dunia ini mempunyai angka yang sama. Ternyata laki-laki lebih banyak melakukan tindakan bunuh diri dibandingkan dengan perempuan. Apa sebab? Mungkin karena laki-laki punya tanggung jawab psikologis lebih banyak daripada perempuan?

Lelaki harus dianggap maskulin, harus mampu menjadi sosok alpha, yang kuat dan mampu menghadapi segala masalah. Selain karena perang dan banyak tugas militeristik yang menjadi beban lelaki. Masalah psikologis laki-laki seringnya muncul dan beririsan dengan kekerasan.

Kemarahan dan penggunaan kekerasan fisik adalah bunga jiwa yang sering diperlihatkan laki-laki. Kesehatan mental laki-laki seringkali abai dibicarakan. Berbeda dengan perempuan yang sudah terbiasa memiliki sesi gosip cum curhat dengan lingkaran sesama perempuan. Dalam lingkaran laki-laki obrolannya tidak akan pernah menyangkut soal dirinya secara mendalam.

Lelaki cenderung berusaha menyelesaikan sendiri masalahnya, dengan cara yang ia ketahui, mungkin hasil belajar dari figur ayahnya. Ayahnya pun belajar dari figur ayahnya dan begitu seterusnya. Maka masalah seperti kekerasan ayah kepada ibu adalah hasil pewarisan psikologis. Hingga abad ke-21, kekerasan domestik masih dianggap wajar di seluruh dunia.

Ahlinya

Penelitian menyebutkan tiap manusia punya luka jiwa, entah itu kecil atau besar. Namun kita tidak tahu sedalam apa luka jiwa yang pernah kita alami. Untuk itu kita perlu ahlinya, mungkin ke psikolog atau atau bahkan psikiater. Ada banyak cara untuk menyelesaikan atau paling tidak mengurangi luka trauma agar tidak mengganggu kehidupan kita. Pergi ke ahlinya adalah salah satu cara yang tepat.

Sayangnya masih banyak diantara kita yang menganggap pergi ke psikolog dianggap sebagai beban. Mungkin pada umumnya adalah beban finansial, konsultasi ke psikolog cenderung mahal. Namun seringnya beban yang paling banyak dihadapi adalah beban moral. Orang malu pergi ke psikolog, sama malunya dengan orang yang pergi ke bagian klinik penyakit kulit dan kelamin.

Padahal pergi ke psikolog tidak melulu karena gila, bahkan orang yang sudah gila nggak mungkin bisa pergi ke psikolog sendirian. Sama dengan orang yang pergi ke dokter kulit dan kelamin bukan karena penyakit kelamin ganas, bisa jadi cuma gatal-gatal karena panu.

Lebih dari itu, kesehatan mental sudah seharusnya menjadi bagian yang dipertimbangkan sejak dini. Cara mendidik anak bukan hanya soal sukses atau tidak sukses di kemudian hari. Maka banyak pendidikan dini semakin mahal karena di masa tersebut terbentuk emosi dan karakter yang kuat.

Banyak masalah kesehatan jiwa mulai dari diri, keluarga dan lingkungan berubah menjadi bola salju yang bisa berdampak pada spektrum yang lebih luas hingga membentuk karakter bangsa.

Masalahnya kesehatan jiwa juga beriringan dengan cara pandang hidup kita dan ini ternyata bukan soal materi. Secara GDP Amerika dan Jepang mungkin dikenal sebagai negara kaya dan maju. Sedangkan bangsa seperti Tibet bisa saja dianggap miskin. Tetapi soal kebahagiaan, ternyata Tibet bisa lebih bahagia dari orang-orang Amerika.

Bicara soal kebahagiaan dan materi, bangsa-bangsa Nordik seperti Swedia dan Norwegia kini jadi acuan. Selain kaya, penduduknya juga disebut paling bahagia di dunia. Tidak hanya soal bagaimana sebetulnya bangsa-bangsa Barat yang kini maju duluan. Tetapi bagaimana keadilan sosial harus diutamakan dalam sebuah institusi negara. Mustahil membicarakan kesehatan mental tanpa beririsan dengan keadilan sosial dalam bernegara.

Negara harus mampu menjamin kesehatan warganya termasuk kesehatan mental, kesehatan mental dan kesehatan secara umum di Indonesia masih dinomor sekiankan.Namun, masih lebih baik karena saat ini jaring pengaman sosial sudah mencakup kesehatan melalui BPJS Kesehatan, sekalipun formatnya masih terus disesuaikan.

Kesehatan mental harus sering dibicarakan, dengan teman, dengan keluarga, dengan pasangan kita, bahkan dengan diri kita sendiri. Kita perlu membicarakan spektrum kesehatan mental dengan lebih luas.

Premisnya sederhana, sebagai manusia kita tidak akan pernah berhenti punya masalah dan tantangan dalam hidup. Mental kuat dan emosi stabil adalah koenci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.