Jika moral bukan dari tuhan

Agama mengajarkan kita bahwa pengetahuan datangnya dari Tuhan. Manusia hanya diberi sedikit saja soal ilmu semesta. Konon hanya dari kitab suci kita belajar soal moralitas, soal baik dan buruk, soal apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Apakah pemahaman ini mutlak?

Richard Dawkins memperkenalkan kepada dunia biologi soal selfish gen atau gen egois dan altruistic gene atau gen yang altruistis. Makhluk hidup tercipta dalam kode genetika yang berkembang secara egois namun juga altruistis guna mempertahankan diri sendiri dan kelangsungan spesies mereka.

Kenapa kita berkembang biak dan menua hanyalah sekedar rangkaian kode genetika untuk survival atau bertahan diri. Konon hanya ada sedikit makhluk yang tercatat mampu hidup secara abadi seperti Bdelloids yang masuk kelas hewan atau beberapa makhluk hidup laut yang mempunyai kemampuan regenerasi sel tubuh yang luar biasa meski tergolong kelas abu-abu antara jenis hewan atau tumbuhan.

Umumnya makhluk hidup hadir dalam siklus sederhana:

lahir, berkembang biak, mati.

Altruisme hadir dalam kemampuan makhluk hidup dalam mengembangkan spesies mereka. Rasa cinta yang tujuan utamanya berkembang biak, juga ada perasaan berkorban untuk sesama yang tujuannya untuk mempertahankan komunitas mereka untuk terus bisa hidup makmur dan lebih lama.

Dari sini sisi moralitas makhluk hidup- tidak hanya manusia– muncul. Sikap-sikap altruistis seperti kepedulian, rela berkorban, hingga saling mencintai kini menjadi watak alami makhluk hidup yang mampu survive atau bertahan hingga sekarang.

Dari mana moralitas kita?

Dari sudut pandang sosiologis dan antropologi; apapun pakaian agama, suku, budaya, ras atau jenis-jenis identitas lain yang Anda pakai saat ini; sudah pasti ada kemampuan untuk mengembangkan moralitas yang seragam.

Contohnya kesepakatan seluruh umat manusia soal larangan dalam mencuri hingga membunuh sesamanya.

Tidak ada penelitian yang menyebutkan ada keterkaitan antara kepercayaan yang dianut dengan tingginya angka kriminal misalnya. Peneliti suka menggoda kita dengan meminta Anda membandingkan kondisi di negara agamais dengan sekuler.

Di Arab Saudi atau Brunei yang hukumnya diatur menggunakan agama Islam, apakah angka kejahatannya bisa dibandingkan dengan Selandia Baru atau Kanada yang secara mutlak memisahkan ruang agama dan bernegara? Sama sekali tidak.

Maka upaya mengkampanyekan bahwa mempelajari agama dengan tujuan menjadi manusia yang lebih baik dengan sendirinya ternegasikan dengan fakta yang ada. Bahwa moralitas sebetulnya tidak ada hubungannya dengan agama.

Moralitas dalam diri manusia adalah aspek manusiawi yang hadir dalam komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme. Sederhananya, negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil adalah kunci berjalannya moralitas, bukan agama.

Tetapi mungkinkah ada negara yang menggunakan sendi agama dan sukses mengembangkan moralitas? Tentu ada juga dan tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Negara yang menggunakan agama sebagai tujuan kemakmuran bersama ada dalam setiap imajinasi pemeluknya.

Fakta dalam sejarah juga tidak dapat dipungkiri, agama bisa digunakan sebagai alat untuk menjatuhkan pemimpin yang otoriter dan tirani. Dan ini adalah tindakan revolusioner tentunya.

Jadi di sini agama adalah perangkat netral, dia bisa jadi alat pelengkap evolusi manusia untuk membangun kehidupan yang makmur, adil, dan berpengetahuan. Agama yang baik mungkin bisa menjadi sumber kesepakatan bersama dan hukum yang adil.

Meskipun mustahil karena seringnya agama digunakan untuk menjatuhkan kelompok yang beda tafsir. Bukan hanya potensi beda tafsir yang tinggi, potensi beda pandangan dengan agama lain adalah bukti nyata bahwa agama tidak dapat dijadikan sumber hukum, apalagi di Indonesia yang majemuk.

Agama terbukti juga mampu menjadi alat merusak yang digunakan untuk mempertahankan kekuasaan semata. Bahkan dalam banyak kasus, atas nama Tuhan sekelompok orang mampu mengabaikan nilai-nilai humanisme antar manusia.

Agama yang dipelajari dan dikembangkan secara jahat bahkan bisa meminta pemeluknya untuk menghalalkan pencurian dan pembunuhan. Seringnya untuk merebut kekuasaan.

Kenapa manusia kehilangan moralitas?

Peperangan, pembunuhan, hingga hal sederhana seperti mencuri adalah bukti berkurangnya moralitas pada manusia. Seringkali kita menimpalinya dengan sederhana dan aman seperti “jauh dari Tuhan”. Kemunduran moralitas manusia dianggap karena kehilangan agama sebagai kompas hidup mereka.

Faktor agama yang ditautkan berhubungan dengan moralitas sangat bisa jadi baik dan bermanfaat, kita beragama karena kita yakin ada kehidupan lebih baik setelah dunia yang fana atau sementara ini.

Sehingga agama digunakan sebagai moral kompas kehidupan, seperti agar tidak berlebihan, agar tidak menyakiti orang lain, agar peduli pada mereka yang di bawah kemampuan, dan hal baik lainnya.

Padahal tidak semudah itu, tingginya angka kriminalitas pada suatu komunitas tidak bisa ditautkan serta merta pada penyebab rendahnya pemahaman agama. Kriminalitas tinggi karena ada permasalahan lain yang menyertai, seperti kemiskinan yang juga seringkali bersumber pada keserakahan dan ketidak-adilan.

Tidak hanya agama, pandangan manusia yang kapitalistik dan serba dinilai dengan duit, bahwa kebahagiaan manusiawi adalah soal benda-benda dan kenikmatan jasmani, pun bisa juga menjadi alat yang mengganggu eksistensi manusia dan merendahkan moralitasnya.

Sampah, perubahan iklim, kriminalitas, kemiskinan kini menjadi musuh bersama yang timbul karena keserakahan manusia yang beralih tujuan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, hidup dengan semudah dan sekaya-kayanya.

Moralitas manusia ternyata mampu digerus hasrat gen egoisme. Manusia punya potensi untuk kehilangan sifat altruisme demi kesenangan individu dan kelompok mereka sendiri.

Mengasah Moralitas

Nilai-nilai humanisme dalam gene altruistis harusnya bisa diasah untuk dijadikan potensi untuk menjadikan manusia lebih baik, melampaui gender, ras, komunitas, agama, bangsa bahkan antar spesies.

Menguji moralitas konon bisa dilakukan dengan memberikan pemahaman soal “appreciation of suffering” alias kepekaan dalam merasakan kesusahan atau penderitaan. Bahkan bukan soal banyak-banyakan ibadah. Anda pasti kenal orang yang rajin ibadah tapi sangat egois bahkan cenderung jahat, bukan?

Konon kalau kita ingin menguji moralitas adalah dengan mencoba memahami kesusahan yang terjadi pada orang lain. Kita tidak akan tahu dan mengapresiasi susahnya orang mengangkat galon air ke dispenser kalau kita belum pernah mengangkat galon air.

Itu mungkin cuma galon air, bayangkan ada komunitas-komunitas di dunia ini yang perlu berjalan berkilo meter hanya demi setetes air.

Galon air mungkin bisa diubah dengan meamasak, membersihkan lapangan, hingga membersihkan kantor sendiri jika kamu punya OB yang mungkin selalu kamu andalkan. Dengan mencoba hal-hal susah penuh penderitaan yang sederhana, tubuh kita secara tidak langsung akan belajar makna penderitaan yang sebenarnya.

Dari apresiasi kita atas penderitaan, di situ kita akan belajar moralitas. Sekali lagi ditekankan, durasi ibadah bukan faktor penentu seseorang punya sikap altruistis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.