Api Narasi

Sebagai makhluk hidup yang menjadi bagian dari evolusi kerajaan hewan. Manusia mewarisi perasaan yang unik dan lebih kompleks dibandingkan dengan kerabat mereka. Peradaban kita dimulai dari penemuan api, lalu menjadi narasi, lalu menjadi teknologi.

Binatang lain mudah menerjemahkan perasaan mereka hanya sekedar berkembang biak dan mempertahankan diri. Manusia yang kini hidup dengan determinisme teknologi punya kompleksitas jiwa, naluri, dan perasaan jauh lebih dalam.

Mari menyusuri bagaimana awalnya manusia menjadi makhluk hidup yang sangat maju, hingga otak mereka berkembang melampaui kerabat lainnya. Semua dimulai dengan penguasaan api, lalu kita mengembangkan narasi.

Dari Api

Awalnya manusia sama seperti sebagian besar makhluk lain yang hidup bersama timbul-tenggelam matahari. Terang adalah soal mencari makan, berburu dan berkembang biak. Sedangkan malam adalah waktunya istirahat.

Lantas manusia mampu menguasai api, sedikit demi sedikit kita punya banyak waktu luang untuk melakukan banyak hal. Khususnya soal berkembang biak- sehingga melipatgandakan populasi dengan eksponensial- hingga jika wilayah mereka tak cukup sumber daya lagi, manusia bermigrasi kemanapun kaki bisa melangkah dan layar bisa terkembang.

Penguasaan akan api mempermudah hidup kita karena banyak saudara sebangsa hewan lain tidak pernah memperolehnya. Seandainya di kala lampau adalah kupu-kupu yang mampu menguasai api, maka akan lain cerita dunia kecil ini.

Api mempermudah kita hidup karena bisa menghemat waktu. Sebelum mampu menguasai api, nenek moyang primitif kita menghabiskan waktu hampir seharian penuh untuk berburu, makan dengan mengunyah makanan yang alot dan sulit dicerna.

Tidak hanya daging-dagingan, aneka jenis tumbuhan pun masih sulit dikonsumsi. Hanya buah-buahan yang mudah diperoleh dan dimakan. Aneka cerita lokal selalu banyak sekali yang berpolemik dimulai dengan buah. Seperti skandal Mas Adan dan Mbak Hawa yang mau ngewe saja harus disalahkan ke apel.

Dengan api kita mampu memperoleh asupan protein dengan mudah. Makanan daging mentah yang sebelumnya harus dikunyah lama kini makin mudah dikonsumsi karena melunak jika dipanggang.

Dengan api pula waktu malam bisa digunakan untuk berkerumun di tengah-tengah kehangatan. Berkumpul dan bercinta di bawah bintang-bintang yang masih menampilkan jelas kesombongan dan keagungan semesta. Alam semesta yang hingga kini pun masih misterius dipahami.

Waktu luang menciptakan imajinasi soal kehidupan, soal apa yang ada di atas sana. Soal ragam fenomena alam yang belum nenek moyang kita pahami. Maka muncul dongeng-dongeng yang sederhana dan rumit.

Seperti kreatifitas orang Yunani kuno yang sangat kagum dengan pesona saudara mereka, yang karena lonjakan protein mampu memahat apik tubuh-tubuh khususnya pria. Pesona yang kemudian menjadi cerita dewa-dewi.

Jauh sebelum Yunani memang ada bangsa Mesir kuno, namun imajinasi orang Mesir kuno sebagian besar sudah lekang. Orang Yunani kuno masih dianggap paling imajinatif karena dari mereka kita mengenal demokrasi, yang ide narasinya masih bertahan hingga saat ini.

Orang Yunani kuno diketahui suka memberi nama apapun yang dia temui. Kemudian memberikan bumbu cerita dan narasi yang dicampur dengan simbol-simbol yang diambil dari cahaya misterius bintang-bintang di langit.

Ceritanya abadi sampai sekarang, itulah hebatnya manusia! Mungkin generasi mereka sudah mati dan berganti. Namun cerita masih tetap dipertahankan, diparafrasekan, dipelajari kembali, bahkan dimanipulasi demi kelangsungan generasi selanjutnya.

Meskipun harusnya kita tahu, cerita-cerita dan narasi tadi tak lebih dari nasehat orang tua pada anak-anak mereka yang acap kali penuh dengan dusta. Meski ada banyak dusta yang baik juga, seperti kepercayaan lelembut yang mendiami pada hutan tertentu agar hutan tetap lestari. Tapi ada juga dusta narasi yang merusak manusia hingga mampu menghilangkan jati diri kemanusiaan kita.

Narasi soal bangsa, agama, lelembut, ketuhanan, kehidupan pasca kematian dan hal absurd lainnya. Yang dulunya jadi faktor pengungkit kemajuan, kini justru menjadi faktor penghambat. Narasi tadi kini menjadi penyebar ketakutan. Bahkan kembali menyita waktu luang seperti zaman sebelum ditemukannya api.

Penarasi

Api membuat manusia punya banyak waktu luang untuk menciptakan hal-hal baru. Namun hal-hal baru pasti berawal dari cerita atau narasi. Orang Yunani mungkin hanya salah satu sempalan dari keturunan migrasi nenek moyang kita yang mencapai satu titik maju, hingga mampu berimajinasi soal prinsip-prinsip politik.

Dewa-Dewi Yunani, Mahabarata, Nabi-Nabi: kisah klasik yang kini tergeser cerita Netflix.

Orang Yunani membaca kecenderungan manusia sendiri yang masih terbawa genetik kehewanan seperti berkembang biak hingga mempertahankan kekuasaan. Maka cerita soal seksualitas hingga politik bukanlah hal yang tabu.

Kompleksitas manusia sehingga mampu mendistribusikan peran menjadikan manusia terfragmentasi menjadi berbagai kelompok. Sebutlah ada kelompok penarasi hingga pekerja. Penarasi atau pencerita ini membagi dirinya menjadi berbagai kelompok seperti pelajar dan politisi. Masing-masing tentu tak terbantahkan perannya.

Penemuan api bukan berasal dari kelompok penarasi tentunya, tapi dari para penemu. Maka penting bagi manusia saat ini berlomba mencari api-api baru yang mengevolusi kehidupan kita.

Dari kelompok penarasi ini manusia mempertahankan kesuksesannya untuk semakin menguasai dunia. Gimmick soal manusia adalah pemimpin di dunia, kelompok tertuntu adalah superior dari yang lain dan lain-lain. Adalah upaya optimisme genetik kita untuk jujur berkata: kita harus menang dan hidup selama-lamanya.

Narasi yang Membakar Kemajuan

Namun ada juga yang menjadi penghambat. Saat suatu hal narasi sudah dianggap paling benar dan paling selesai tafsirannya. Jika manusia sudah menganggap selesai suatu hal, maka selesai pula kemajuannya menjadi manusia. Karena nalurinya hanya bergeser pada bertahan, bukan berkemabang.

Kunci kesuksesan manusia adalah adaptasi, evolusi dan kebersinambungan. 

Narasi soal agama misalnya, selalu dianggap selesai dan mencapai garis finish soal kehidupan manusia. Dalam kitab-kita dijelaskan jika kita mau mencapai kehidupan damai yang diimajinasikan maka kita disuruh melakukan ritual A sampai Z.

Narasi final seperti inilah yang kini menjadi penghambat kemajuan manusia. Berbagai potensi manusia untuk maju dan berkolaborasi seringkali terhambat pada penafsiran kehidupan yang dibatasi imajinasi soal hari akhir, soal kebangsaan, soal siapa yang berhak berjaya usai hari penghakiman kelak, soal kelompok politik mana yang paling benar, dan narasi tunggal lainnya.

Mengembalikan Peran Narasi

Narasi sebetulnya sama levelnya seperti api, dia hanyalah hasil penemuan yang sifatnya netral, hanya alat semata. Api bisa digunakan untuk membakar daging hingga mudah dikunyah atau membakar hutan tempat musuh bertempat tinggal.

Misal narasi manusia soal ketuhanan juga soal politik demokrasi. Tentunya akan sangat baik jika diarahkan pada energi penemuan baru yang positif. Namun di bangsa yang lebih suka menggunakan narasi untuk kekuasaan, akan kita dapati narasi agama dan politik hanya digunakan selayaknya api untuk membakar hutan.

Dengarkan kebodohan narasi yang disuarakan para politisi:

Saya keturunan ini…

Kami membela kelompok itu…

Agama kami yang paripurna…

Kami terbaik yang ada…

Ini tinggal bagaimana kita berhati-hati memahami narasi-narasi yang ditawarkan politisi murahan saat ini. Narasi mereka bisa jadi api yang menghanguskan segala pencapaian manusia kita selama ini.

Lebih dari itu, jangan lagi percaya narasi jika dia hanya omong kosong. Percaya pada diri kita yang baik, optimisme masa depan, pada data, pada kemajuan evolusi manusia, pada teknologi baru, dan paling utama…

Pada nalar logika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.