Kemenangan dan Kebenaran

Sejarawan bilang bahwa sejarah ditulis oleh para pemenangnya. Ini berarti ada banyak bias dalam setiap cerita yang dituturkan. Lantas bagaimana kita memandang kemenangan dan kebenaran yang terlanjur menjadi doktrin dan dipercaya?

“That no one bad is ever truly bad. And no one good is truly good”. Loki.

Kini ada dorongan dari generasi kita untuk berani mempertanyakan sejarah. Berani menggali kembali definisi kebenaran, khususnya dengan membaca dari sumber yang beragam.

Namun, tentu dengan kerangka pandangan baru. Agar tidak terjebak dalam lingkaran setan untuk kembali menyalahkan entitas lain. Memberi ruang pada setiap generasi kini dan selanjutnya, untuk mau belajar bahwa kebenaran dan cerita soal kemenangan tidaklah mutlak.

Kebenaran, kemenangan lalu keadilan, seringkali berkelindan dalam ilusi cerita yang dituturkan. Kemenangan dan kekalahan hingga epos kepahlawanan dalam peperangan nyatanya dituturkan dengan cara tidak sehat. Seringkali seperti teori persebaran gosip, selalu dibumbui dengan cerita yang berlebihan atau dikurangi agar ceritanya menarik.

Dibalik cerita tentang kebenaran, ada celah untuk mendiskriminasi yang kalah. Menyudutkannya pihak yang kalah di ujung cerita, menjadi minoritas yang tidak layak dibela, bila perlu dikutuk, ditertawakan, bahkan tak layak sekedar didengarkan suaranya.

Bahwa yang kalah adalah salah, yang umum menegasikan yang kecil tak berarti, asumsi soal Tuhan yang telah berpihak pada kebenaran. Bahkan muncul bualan-bualan akan dunia yang lebih baik jika kebenaran harus ditegakkan, demi sekedar mengulang sejarah kemenangan.

Cara membaca kebenaran seperti ini telah membawa manusia ke jurang perpecahan. Kemenangan yang diidentifikasi sebagai kebenaran selalu memicu pertikaian

Politik

Ada banyak teori dari manusia untuk menjelaskan bagaimana kita memandang kenyataan dalam rumitnya dinamika kekuasaan manusia. Aristoteles hingga Machiavelli, punya teori-teori tentang kemenangan dan kebenaran yang dijabarkan dalam ilmu-ilmu politik. 

Aristoteles memandang manusia sebagai entitas berbudi sehingga untuk mengatur masyarakat diperlukan demokrasi. Machiavelli menjelaskan teorinya lebih menarik bagaimana manusia perlu berperilaku buruk demi menggapai kekuasaan.

Kita menduga-duga bagaimana agungnya kekuasaan para Raja-Ratu Sriwijaya, Majapahit hingga kerajaan kecil-kecil di seantero Nusantara. Lantas apakah kejayaan masa lalu yang kita banggakan kita jadikan sebuah impian untuk kembali ke zaman itu? Tentu tidak, dan begitulah kita sewajarnya memandang sebuah kemenangan dan kebenaran.

Seandainya tidak ada VOC lalu Hindia Belanda, maka tidak akan ada republik yang kini disebut Indonesia.

Dahulu sampai sekarang pun masih ditemui sikap para penguasa, raja, nabi dan pengkhotbah yang mendaku diri sebagai suara Tuhan. Ada yang dapat merangkul kekuasaan dengan cara damai. Namun, lebih sering seperti Machiavelli sebutkan, para nabi akan lebih efektif merebut kekuasaan dengan dogma juga senjata.

Seleksi Alam

Sejak kapan manusia menjadi seperti ini? Dari mana munculnya sikap agresifitas manusia dalam memandang kenyataan yang dia hadapi. Kenapa selalu ada api-api yang dinamakan kebenaran yang selalu dipegang lalu siap untuk dilempar ke manusia lainnya?

Manusia modern yang spesifik dibilang sebagai Sapiens, kini menguasai planet bumi hanya dengan beberapa ribu tahun belakang. Untuk menguasainya, nenek moyang kita telah melewati berbagai jalan terjal seleksi alam.

Seperti bagaimana mendomestikasi aneka tumbuhan dan hewan, melawan aneka binatang yang ganas, bahkan ada petunjuk dalam genetika bagaimana dahulu nenek moyang kita Sapiens, memusnahkan saudara atau subspesies Homo lainnya seperti Neanderthal.

Namun jika ditarik ke jalur hingga nenek moyang makhluk hidup lain dimana kita berbagi genetika kehidupan yang sama. Kebiasaan untuk saling mengalahkan dan menegasikan kelompok lain sudah ada dalam diri tiap makhluk hidup.

Contohnya hewan yang masih liar di alam, terlihat jelas masih berjuang untuk menjadi siapa yang paling kuat di habitatnya. Memang kenyataannya perilaku memangsa yang lemah adalah bahasa alam dari mekanisme bertahan diri.

Watak predator ini terintegrasi dalam genetika manusia yang selalu ingin menunjukkan sisi berkuasa, sisi paling benar, dan sisi egoisme untuk selalu menang.

Kapan berakhir?

Dari pemahaman kenapa kita selalu “ngegas” pada prinsip kebenaran. Jangan-jangan semua kemenangan dan kebenaran yang ingin kita raih saat ini, masih sebatas karena takut dicap kalah dan salah?

Jangan-jangan segala perilaku beragama kita saat ini hanya karena takut dicap kafir? Segala tindak tanduk moralitas kita bukan timbul karena kesadaran yang bermoral, tapi karena takut dihakimi dan dihukumi oleh orang lain?

Kecenderungan kita dalam pencarian kemenangan dan kebenaran hanya akan berakhir jika kita manusia bisa hidup dengan makmur dan bahagia. Dengan kemakmuran kita tidak akan banyak terlampau disibukkan dengan kesusahan hidup seperti masalah pekerjaan, kelaparan, dan kesehatan.

Klaim-klaim kemenangan dan kebenaran akan terus ada selama kita masih bergelut dengan masa depan yang tidak pasti.

Mampuslah kita yang lahir di  negara yang miskin, kita jumpai para politisi yang selalu berebut klaim soal kemenangan dan kebenaran. Karena sebetulnya di dalam lubuk terdalam mereka, hanyalah sebatas takut dibilang kalah dan salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.