Sangka (bukan prasangka)

GambarHari ini saya beroleh pelajaran yang sangat berharga dari seseorang. Dia pernah berprasangka buruk kepada orang lain, sangkaannya sungguh tercermin dan dapat diamati oleh mata, jika orang yang ia sangka terlihat seperti yang sesungguhnya dia sangka. Saya tidak perlu menyebar apa yang dia sangkakan pada orang lain itu. Tapi belakangan, dia tahu bahwa prasangka dia keliru. Orang yang dia sangka adalah orang yang begitu baik. Bahkan kini, dia berprasangka jika orang yang ia sangka itu pasti lebih baik dari dia sendiri. Sekalipin indra masih bergejolak menafsir berbeda.

Sejarah Sangka

Tuhan meminta Adam tidak dekati buah terlarang. Dan hanya itu satu-satunya larangan Tuhan kepada Adam. Tetapi kita tahu, konon sang Iblis menjadi pemicu perkara. Dia  membisiki Hawa, atau membisiki Adam, atau berucap kepada mereka berdua tanpa bisik-bisik (terserah sangka (tafsir) khalayak)- jika Tuhan punya maksud tertentu atas larangan memakan buah terlarang itu…

Dari situ Adam dan Hawa mulai berprasangka kepada Tuhan. Celak-lah kedua mata Adam dan Hawa karena nekat makan buah terlarang, hingga mereka tahu makna dari rahasia Tuhan yang terlarang itu. Alangkah baiknya jika Adam dan Hawa tiada turun ke dunia ini. Sehingga kita tiada perlu lahir. Karena kami, putra-putri ini, kini merajai dunia dengan sangka, hingga nanti sangkakala bergema…

Sangka dalam kata

Sangka berasal dari kata benda yang berarti cangkang (bukan kerang atau karang, karena bisa berbeda makna) yang bisa ditiup seperti terompet (Melayu). Sedang sangkaannya (istilah) terserah khalayak menyangka sendiri apa itu sangka, namanya juga sangkaan, kan terserah si penyangka boleh saja…

Mungkin kata sangka bisa berubah makna menjadi “duga dan kira” karena sifat sangka yang tidak terduga atau terkira. Jadi cerita rekaannya begini:

Menurut sangka saya, jaman dahulu kala saat masih banyak hewan-hewan laut, khususnya jenis Moluska besar yang bersangka (bercangkang maksudnya). Orang-orang Melayu Lama (Bukan Melayu Kuno: ‘Lama’ adalah rentang waktu, ‘Kuno’ adalah sifat) suka mencari sangka. Meniupnya lewat ujung lancip sangka, yang entah sengaja dilubangi atau memang berlubang. Lalu mereka bermain “sangka-sangkaan”

“Siape nak Sangka ni bunyi sangka nak bagus ato nak buruk?” kata orang-orang Melayu Lama dalam bahasa Melayu Lama ketika pertama kali menemukan Sangka dengan teman-teman mereka di pantai.

Suara sangka yang belum pernah ditiup itu menjadi permainan yang menghidupkan sebuah kosa kata baru bernama “Sangka”. Mereka selalu mengira sangka akan berbunyi bagus atau jelek saat ditiup. Karena sejatinya, bunyi sangka itu relatif bisa bagus atau jelek tergantung banyak faktor, antara lain:

  • Bisa karena suara asal, dari liuk dalam sangka,
  • atau karena ada kotoran di dalamnya,
  • atau karena pendengaran orang-orang Melayu lama yang relatif karena pelbagai musabab,
  • atau malah tidak berbunyi karena masih ada Moluska di dalamnya.

Karena banyak faktor yang menentukan ragam suara sangka maka permainan “Sangka-sangkaan” menjadi permainan populer di kalangan orang-orang Melayu Lama. Maka lambat laun terciptalah kata “sangka” yang bermakna sesuatu yang belum pasti bagaimana bunyinya jika belum ditiup. Sehingga menimbulkan banyak dugaan dan kiraan bunyi awalnya.

Tapi orang-orang Melayu Lama ini, entah lambat atau cepat menjadi lebih berbudaya dengan pola bahasa yang sastrawi, hingga muncul pribahasa “Sangka yang besar, selalu berbunyi nyaring.” Yang diadopsi oleh pribahasa semi modern menjadi:

“Sangka yang besar adalah sangka yang menghargai peniupnya,”

“Sangka kosong, berbunyi nyaring.” dan

“Tak ada sangka yang tak retak.”

Turunan Kata – Bangsa

Ceritanya dulu orang-orang  Melayu Lama mengumpulkan kelompok-kelompok mereka melalui Sangka. Mereka meniup sangka yang besar dan berbunyi nyaring sebagai suatu tanda, entah dengan jenis irama seperti Jazz atau irama sederhana seperti kode morse yang dipakai Pramuka, untuk memberi tanda agar mereka berkumpul.

Mereka akan berkumpul sesuai dengan bunyi sangka yang ditiupkan. Maka kelompok-kelompok orang-orang Melayu Lama yang berkumpul sesuai dengan bunyi sangka ini disebut sebagai “bangsa”.

Asal kata “Bangsa”:

Abang ada bunyi sangka!Lalu Orang Melayu Lama Alay (progresif) mulai memendekkan kalimat dengan:

Abang sangka” kurang pendek, Lalu Orang Melayu Lama Alay (progresif) lebih memendekkan jadi :

Bangsa

Maka dari situ muncul ayat tentang hari kiamat yang ditandai dengan peniupan Sangkakala. Dalam penyangkaan bahasa oleh penulis, peniupan sangkakala sejatinya buka tanda akan akhir hari kiamat, tetapi kala (waktu) bagi kita umat manusia ini untuk berkumpul bersama-sama untuk yang terakhir kalinya. Jadi sangkakala menurut penyangkaan saya, ayat tentang sangkakala adalah tamsil (perumpamaan) bukan peniupan sangkakala yang sebenarnya.

Menurut tafsir Si Bukan Imam Alay (progresif) menyangka bahwa peniupan sangkakala adalah hari dimana manusia bersedia secara sukarela berpindah menuju ke satu titik bersama-sama. Bahasa ilmiahnya adalah urbanisasi, semua manusia pergi ke kota meninggalkan desa leluhurnya. Ingatlah khalayak pembaca, ini yang sedang terjadi di dunia saat ini. Tanda-tanda kiamat mulai terasa, sangkakala nampaknya mulai tertiup…

Puisi Penuh Sangka

Adam dan Hawa kena sangka

Mereka sangka buah itu menjadikan mereka berkuasa seperti Al’A’la

Seperti kata Iblis si penebar sangka-sangka

Kini putra-putrinya penuh sangka

Saling menikam, saling beradu pikir dalam sangka

Sangka mereka, Tuhan tiada hadir dalam sangka

Sangka mereka, sangka itu makhluk atau bukan

Sangka mereka, benda-benda bisa jadi kata sifat, segala sumber kebahagiaan

Sangka mereka, nafsu itu adalah benda, dituruti diikuti dikejar agar beroleh bahagia

Sangka akan terus ada, hingga kita tanpa sangka meniupnya

Sebuah pratanda untuk berkumpul

Jika Kala yang abadi hanya sangka-sangka kita

Jika kata- yang khalayak (ku)sangka budiman ini, hanyalah sangka-sangka

bermakna

Kata Kita (Epigen)

Katamu kataku katakita melebur jadi satu
Tiap kata tiada makna jika kita tak ada katamu kataku
Dalam kata kita bukan kata tapi makna
Makna melebur dalam tubuh meski tak utuh,
Raga rapuh rasa jenuh
Tapi ini kata kita
Tak penuh dalam peluh
Tak mengeluh tapi melenguh
Dalam satu tubuh

Eling-Eling Basa Jawa

Sakwise maca majalah Historia atiku ora krasa tentrem. Sajake ana sing tak kangeni, apa? Ya, iku kawruh bebasan Jawa. Aku kangen ngomong basa Jawa kanthi lumrah karo kanca-kancaku ing saben dinane.

Majalah mau ngupas sethitik sejarahe kalawarti Pandjebar Semangat, saka mula lahire nganti kondisine saiki sing uwis senthak-senthik. Aku ora bisa turu mikirake masalah iki. Piye jal, saiki ki aku wis jarang-jarang nganggo basa Jawa iki kajaba karo sedulur cedak dhewe. Amarga ya saiki lagi sinau ning njaba Jawa. Sukmben yen uwis makarya ana ndesane dhewe musti ya ora kangen meneh ya hehehe

 

Aku kangen pas bali menyang ndesaku, Sukaharjo, Jawa Tengah, kanca-kancaku lan tangga teparo iya ishih lumrah nganggo basa Jawa kanggo bebasan saben dinane. Ananging sapa nyana, miturut majalah sing bar tak waca mau jare wis ora ana wong enom sing nggelemi maca majalah PS sing sejatine nganggo basa Jawa iku. Pandjebar Semangat kui majalah basa Jawa sing paling tak senengi nalika SMA mbiyen (ana majalah Basa Jawa liane sing lali judule apa). Amarga tanggaku ya ana sing langganan. Aku lali mbuh perpustakaan SMA langganan ora. Yen Perpustakaan Kota Sukoharjo sih sak elingku lanngganan, nanging aku ya ora tau mbukak babar pisan sanajan ditumpuk akeh banget.

Rasa-rasane aneh wae, aku iki asli saka Jawa. Bapak Ibu lan leluhurku kui sakjane murni seratus porsen Jawa tulen, nanging kok karo kabudayan Jawa sajake aku malah asing lho. Piye coba, aku sak gedhe menthele-thele kaya ngene iki urung bisa nulis aksara Jawa alisa aksara HaNaCaRaKa hehehe…

Aku kelingan karo kancaku mbiyen jaman SMP. Jenenge Puji sing pinter banget nulis Jawa. Asline aku iri amarga ora bisa, aku njaluk diwarahi dheweke tapi ya  mung isa sethithik. Sakwise kui aku lali babar blas. Mbuh kepriye kok masalah nulis aksara Jawa iki wae aku kangelan. Padhal pas SMA aku isa nulis aksara Jepang. Lha kepriye coba? Apa aku iki dudu bocah Jawa sing uwis ilang Jawane. (yen ana ulangan aksara jawa aku ngawe keplekan utawa nurun kancaku- wes rasah komenlho ya!)

Aku uga lagi mikir-mikir kepiye supaya bocah enom kaya aku iki san saya doyan maca lan uga ngembangake kabudayan Jawa. Aku pirang wulan kepungkur nate les Gamelan ana Bentara Budaya Kompas, nanging tak culne amarga kabotan ongkos. Saiki lagi mikir-mikir meneh apa ya? Piye ya? Supaya aku bisa nyenengi lan uga isa ngayomi kabdayan Jawa meneh.

Kancaku sing asline saka Jakarta pirang ndina kepungkur bar kirim warta saka telpun, menawa dheweke saiki lagi seneng sinau basa Jawa. Gara-garane dheweke melu nonton wayang sing dalange rada edan tingkahe tapi uga paling waras logikane, si Sudjiwa Teja. Aku malah mbales menawa Jawa iku dudu kabudayan sing paling tuwa. Lah Borobudur wae pada tuwane karo kampus Oxford lho ya.

Ya uwis ah, kesel nulis nganggo basa Jawa kui. Aku kadang luput nulis bedane ”a” karo ”o”. Eh, aku ya lagi eling, kancaku SMA mbiyen jare ana sing ketampa ning jurusan Basa Jawa Universitas Indonesia. Jenenge Rini, mbuh kepiye kabare saiki aku ora ngerti. Nyatane ya akeh sing isih tresna karo kabudayan Jawa ding. Mung rasa atiku wae sing rada sajake rumangsa salah. Amarga aku ora turut ngalestareake kabudayan Jawa. Lan malah ndemeni kabudayan njaba.

Uwwis ya, sugeng ndalu, saiki arep turu sinambi nyetel tetembang Bosas ning iPod. Ngene-ngene aku isih nyimpen pirang-pirang tembang Jawa lho ya…