Adele, dan Alogaritma Doa

Setiap doa-doa yang kita panjatkan, dalam makna yang sebenarnya pasti tidak akan dikabulkan oleh Tuhan. Karena menurut logika Ibnu Rushd yang disandarkan pada cara pikir deduktif Aristoteles. Tuhan tidak mungkin bergantung pada kehendak manusia. Tuhan adalah suatu maha dzat yang tidak dapat kita mengerti kecuali melalui perumpamaan saja. Tuhan sangat tidak mungkin mengurusi hal-hal sepele seperti permintaan remeh temeh dalam hidup kita. Jika dengan kita berdoa maka Tuhan mengabulkan, maka Dia tak lagi menjadi Tuhan Yang Maha yang hidup di alam ide. Karena tak mungkin Dia bisa bergantung dengan kehendak fana kita. Tuhan, dalam berbagai amsal disebutkan telah beristirahat seusai mencipta semesta raya.

“Istilah ‘doa’ disalah-tafsirkan oleh orang-orang modern sebagai mantra penolak bala atau pemberi berkah. Padahal doa adalah makna lain dari usaha atau setidaknya merupakan istilah lain dari pemberian sugesti positif kepada otak untuk merangsang suatu atau banyak tujuan secara stimulant.”

Untuk itulah ada yang disebut dan dikenal dengan takdir, sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan sendiri sebelum yang ada dan disebut diciptakan. Kabar baiknya, Tuhan menciptakan keteraturan dalam alogaritma kehidupan yang bisa dan juga tidak bisa kita pahami. Ambil contoh bagaimana semesta raya bergerak mulai dari gerak gravitasi meteorit, planet hingga bebintangan yang semuanya mengikuti standar alogaritma Tuhan yang bisa sedikit dijabarkan dalam rumus-rumus Newton hingga Einstein.

Pun juga dalam kehidupan ada rumusannya, jika kita telah berusaha sungguh-sungguh maka besar kemungkinan kita akan meraih apa yang kita usahakan tadi, begitu juga sebaliknya kita bisa gagal mendapatkan apa yang kita inginkan jika tanpa disertai usaha lebih. Ini hanyalah prihal hitung-hitungan matematis dalam rumusan peluang belaka (yang paling memahami ini tentunya Einstein).

Ingin kaya raya, maka kita wajib kerja keras jika bukan dari keturunan ningrat. Ingin tampil menawan cum menggoda maka berdandan hingga reparasi dibutuhkan jika memang tidak terlahir menawan. Ingin sehat maka gaya hidup harus sehat. Hingga ingin cepat mati pun ada banyak cara…

Namun, ada juga alogaritma yang tidak kita pahami. Misalnya, kenapa Isa bisa lahir dari perawan suci Maria. Kenapa Musa yang gagap tak pandai bicara justru disuruh menceramahi Firaun. Atau mengapa yang tidak bisa baca dan tulis bahkan keturunan Arab yang dikenal bangsa terbelakang bisa terpilih menjadi Rasul terakhir merupakan sekian contoh dari alogaritma Tuhan yan tidak kita pahami.  Atau sebetulnya hanya dapat dipahami dengan keyakinan yang sering kita sebut sebagai iman.

“Kenapa disebut alogaritma karena segala sesuatu yang Tuhan ciptakan berimbang atau adil disertai dengan suatu fungsi atau rumusan. Bukan sekedar asal-asalan atau suka-suka Tuhan seperti penganut Chaostic tuduhkan”

Lantas buat apa kita hidup jika segala sesuatu telah digariskan, siapa yang gagal dan siapa yang menang. Siapa yang rupawan siapa yang karuan. Ini hanya sebuah prinsip dan motivasi dari segala pilihan-pilihan yang pada dasarnya telah melalui jutaan tahun kemungkinan dan evolusi. Mulai dari makhluk ber-sel tunggal hingga tergalau saat ini, kita dimotivasi untuk bertahan hidup atau survival. Juga apa yang paling sering kita senangi saat sekedar memperoleh peluang terbaik yang disebut dengan keberuntungan.

Survival dan keberuntungan adalah kunci mengapa kita menjadi makhluk semaju ini. Ide ini datang dari Carl Sagan yang tentunya diwarisi dari Charles Darwin. Kenapa kita berkembang biak dan saling berkompetisi (seleksi alam) adalah bagian dari survival yang telah kita jalani semenjak Tuhan menciptakan makhluk bersel tunggal. Bagaimana kita manusia, mamalia tepatnya, lahir dari pembuahan hanya dari satu sel sperma dan satu sel telur yang berlomba-lomba (dari jutaan sperma dan telur) merupakan salah satu contoh  hasil rumusan survival dan keberuntungan.

Evolusi menciptakan kemajuan juga kemunduran. Beruang cokelat tidak kita jumpai di antartika yang dingin karena yang bertahan adalah beruang putih yang bisa mengelabui mangsa dalam warna putih salju. Homo erectus tak lagi bisa kita jumpai karena sejauh ini yang kita imani, Tuhan iseng-isengan dengan menurunkan Homo Sapiens yang dikenalkan sebagai Adam. Hal-hal inilah yang terjadi di dunia ini karena memang terjadi, yang bisa dipahami dan juga sulit dipahami (karena belum tentu benar).

Untuk itulah kita sekarang mencari rumusan untuk melawan takdir Tuhan. Menisbikan segala kemungkinan akan kegagalan dan ketidakpastian dengan lompatan kuantum takdir. Apa yang sebetulnya para filsuf ribuan tahun lalu dan ilmuwan modern saat ini telah memberikan kuncinya, membawa diri kita ke “alam ide” kata para filsuf atau “alam digital” kata para ilmuwan.

Sebuah narasi pembuka

Adele, si kaki lincah digadang-gadangkan akan menjadi penari termuda yang akan diterima di New York City Ballet. Muda, lentur, menawan, berambut pirang dan telah memperoleh banyak poin pujian di berbagai pertunjukan ballet. Pada suatu sore di musim dingin yang beku suatu insiden kecil mengubah seketika cita-citanya. Dia tertabrak taksi  hingga kaki kirinya hancur bersamaan dengan harapan menjadi penari profesional.

Itu adalah suatu titik dimana suatu ketidakberuntungan yang sebenarnya bisa saja dihindari jika Adele sedikit berlama-lama mengikat tali sepatunya. Atau tidak pulang tepat waktu karena ingin belajar grand pas de deux lebih sempurna. Atau ngerumpi dulu dengan sobatnya sehingga ia tidak dengan riang keluar kelas hingga terpleset dan tertabrak taksi. Yang juga sebetulnya bisa dihindari jika supir taksi  tidak ngopi sambil baca koran dulu. Atau beberapa detik berlama-lama di depan cermin. Atau memperoleh penumpang di blok lainnya.

Sejarah akhirnya mencatat, bukan Adele yang menjadi anggota termuda pertama New York City Ballet, melainkan Claire beberapa tahun kemudian.

Naas memang, namun itulah yang terjadi dengan Adele dan jutaan makhluk hidup yang sudah, telah dan akan kita semua hadapi di alam semesta ini. Subjek seperti Adele, teman Adele, supir taksi dan Claire bisa saja menjadi saya, Anda, mereka atau yang lainnya. Rambut pirang bisa jadi hitam, perak atau ungu. Kejadian seperti tertabrak taksi bisa jadi cuma tertabrak mantan, tertabrak tukang bakso, atau tertabrak truk tronton. Kota New York bisa diubah menjadi New Delhi, Prabumulih atau Salatiga. New York City Ballet bisa jadi kampus, sekolah atau tempat kerja yang saat ini kita jalani.

Dan segala sesuatu soal ini pada dasarnya terus berulang dan berulang pada alogaritma yang sama.

Kemungkinan, Alam yang Belum Terjangkau

Banyak yang bilang bahwa alam ini hanyalah bagian dari sistem empat dimensi. Untuk sementara hanya itu saja yang masih kita pahami soal alam ini. Namun pada kenyataannya, kita sebetulnya memiliki alam lain yang belum pernah kita jamah di luar alam empat dimensi ini. Keberadaan alam dari dimensi lain merupakan hal yang nyata, sekalipun belum bisa dibuktikan dalam alam empat dimensi atau bisa dituduh sebagai belum adanya verifikasi ilmiah. Ini hanyalah soal menangkap sesuatu di luar apa yang belum bisa indra kita tangkap.

Semua Sekadar Evolusi?

Awalnya indra kita menangkap beberapa gejala nyata dalam empat dimensi seperti melihat, mendengar, meraba, membaui juga mengecap. Indra-indra tersebut diterima oleh syaraf kemudian dikirim dan diterjemahkan ke otak kita dan kemudian kita menafsirkan sesuai dengan bank data dalam otak kita. Perasaaan-perasaan seperti senang dan sedih hanyalah merupakan terjemahan dari hal abstrak yang pernah kita pelajari sebelumnya dan disimpan di dalam drive otak kita. Formula antara enzim, hormon disertai rangsangan yang tepat merupakan awal mula dari respon otak kita pada alam empat dimensi ini.

Selain otak kita, data tentang tafsiran-tafsiran indra juga disimpan dalam drive genetika kita. Hal ini sudah terjadi semenjak alam ini dicipatakan. Proses menurukan dan mengcopy informasi dari satu objek ke objek lainnya berlangsung secara terus menerus. Bagaiamana kita mampu melihat contohnya, merupakan hasil evolusi jutaan tahun untuk memahami aneka warna ke dalam otak yang kemudian menghasilkaan tafsiran abstrak. Daun tidak berwarna hijau, kita saja yang menerjemahkannya sebagai warna hijau. Lantas apakah ada yang bisa melihat daun dengan warna lain, warna yang bukan hijau?

Disinilah petualangan kita dimulai, memahami segala sesuatu di luar kemampuan indra kita merupakan sesuatu yang bisa kita coba. Mari kita sedikit maju jauh atau bisa saja mungkin sebetulnya kita mundur ke belakang, melihat kaca dalam jiwa kita ke dalam, juga melihat ke jiwa lain yang diluar. Memproyeksikan apa yang mungkin kita bisa lakukan dalam sebuah jangkauan indra dan alam baru yang disebut, Kemungkinan.

Singkatnya, kemungkinan adalah hal-hal relatif yang bisa kita lakukan di luar alam empat dimensi ini. Melihat sesuatu jauh menjangkau pemahaman nalar biasa. Sesuatu yang belum kita pahami, namun kita tahu ada. Sesuatu yang menjadi kebalikan dari alam kita sendiri.

Bisakan Biologi menjangkau Kemungkinan?

Obat, berkat ilmu biologi kini orang mampu merangsang indra dan otaknya hanya dengan obat. Contohnya orang yang akan dioprasi harus dihilangkan kesadarannya dengan obat penghilang rasa sakit, meskipun beberapa orang mampu melewati fase itu tanpa obat sekalipun. Tapi itu tidak menjadikan kita memahami segala apa yang disbut Kemungkinan dengan obat. Obat hanya mampu membuat kita menerjemahkan paksa segala indra kita ke dalam kesadaran lain. Berbagai macam obat mampu menghasilkan efek-efek beragam yang memengaruhi tafsiran, kesadaran hingga kemampuan. Tapi obat diyakini belum bisa menjagkau kita ke alam kemungkinan. Sekalipun dalam banyak kasus, obat konon juga dipercaya mampu membawa kita ke alam lain, alam yang jauh lebih misterius keberadaannya jika tidak menggunakan obat dalam kondisi yang benar, kematian.

Belum ditemukan obat berupa formula dari alam ini yang mampu membawa kita ke alam Kemungkinan. Misalnya dalam sekali teguk atau usap, kita kemudian mampu menjagkau hal baru dalam alam kemungkinan. Mampu melihat, merasa dan mengecap rasa berbeda dalam alam Kemungkinan. Memiliki indra lain yang bisa melihat daun bukan sebagai warna hijau tetapi entah apa itu kemungkinan lain. Atau bahkan mampu menjadi seorang yang memiliki tingkatan lebih dalam alam Kemungkinan, yang mampu mengubah molekul dan materi seperti seorang alkemis misterius yang dalam sekali jentik mampu merekonstruksi segala sesuatau yang ada di sekitarnya.

Metafisika dari lompatan kuantum

Ada hal lain yang mungkin kita coba telusuri justru tidak jauh-jauh. Ada dalam sesuatu yang sebetulnya ada namun memang belum kita rasakan keberadaannya atau pahami. Ilmuwan memercayai bahwa dalam setiap proses dalam dunia empat dimensi, selalu ada penyerta kebalikannya. Contohnya jika ada yang terang maka ada sesuatu yang disebut sebagai gelap. Maka jika ada sesuatu yang disebut materi kemungkinan besar ada sesuatu yang disebut anti-materi. Lalu dimanakah kita menjangkau anti materi tersebut.

Pertanyaan ini membawa kita ke pengolahan inti atom seperti di CERN. Mencoba memmecah sesuatu yang maha kecil ke hal yang lebih keci lagi. Jika tadinya yang terkecil adalah elektron, maka bisakah kita menjangkau sesuatu yang lebih kecil dari elektron. Kenyataannya memang gerak elektron adalah sesuatu yang ajaib, bagaimana elekron bisa bergerak secara acak dan misterius maerupakan suatu keajaiban. Lompatan quantum, merupakan gerakan quantum yang unik dimana elektron bisa menghilang dan muncul dalam gerakan memutari. Saat menghilang tersebut, kemana perginya? Maka fisika kuantum menjadi ilmu pengetahuan seksi di dunia modern ini. Ada banyak variable dan ada banyak alam Kemungkinan yang kini sedang kita pelajari.

Kemana Selanjutnya?

Alam kemungkinan yang bisa kita telusuri adalah hal abstrak dalam dunia digital. Namun sekalipun ada, keberadaan ini hanya dapat tersimpan dalam drive yang bentuknya masih berupa perangkat alam empat dimensi. Konsep  memindahkan segala informasi elektron di otak kita ke dalam alam digital seperti yang dibisniskan Elon Musk memang memperluas jangkauan dari dimensi indra kita. Namun, ini hanyalah memindahkan segala kemampuan otak kita ke dalam sebuah alam kode digital.

Konsep digitalisasi otak memang menarik dan mampu membuat kita menjangkau kesadaran lain yang belum tereksplorasi. Namun apakah dengan memindahkan jiwa kita ke alam digital berguna dan mampu menjangkau jiwa kita ke alam Kemungkinan. Atau ini merupakan sesuatu yang sementara, bagaimana jika kenyataannya alam digital hanyalah sebuah jembatan kita ke dalam alam Kemungkinan. Bisakah? Mungkinkah?

Alam digital yang memiliki kemungkinan yang hampir tidak terbatas diharapkan mampu membawa kunci untuk kita ke alam Kemungkinan. Mungkinkah kita bisa menggunakan kecerdasan buatan dalam kode digital untuk memecahkan rahasia dari alam Kemungkinan, termasuk membantu kita memecahkan misteri dalam lompatan kuantum?

Akhirnya,
Akhir dari segala alam Kemungkinan adalah kemungkinan itu sendiri, mungkin.

Kunci Feminis dan Kemana Selanjutnya

A post shared by Shiradd al Mustaqiim (@museuz) on

Saya menyadarinya dari dulu, tumbuh di lingkungan yang didominasi oleh perempuan. Ibu, saudara kandung dan kebanyakan teman saya adalah perempuan. Ini membuat saya memiliki pegalaman yang berbeda sebagai sosok yang lahir sebagai pria.  Apa yang ada di pikiran saya, yang saya pahami soal gender adalah pengalaman yang layak saya bagi, karena dunia memang telah bermetamorfosa ke tingkat yang lebih baik.

Saya menemui bahwa disekitar kita, ketimpangan antara feminis dan maskulin begitu sangat kentara. Bagaimana kita bersikap pada satu hal yang umum bisa begitu mudah ditebak. Tayangan televisi, seni, sastra, politik, hukum atau bagaimana cara Ibu Bapak mendidik saya membuat saya sedikit terhenyak. Bahwa sejak semula saya tidak pernah dididik dan mendidik diri secara seimbang antara perspektif feminis dan maskulin. Realitanya memang sangat timpang, lingkungan saya adalah patriakhis. Ini tidak melulu salah, namun bisakah kita hidup pada lingkungan yang lebih baik?

Feminis

Yang harus Anda pahami, feminis tak harus perempuan, maskulin pun tak melulu negatif dan ada hanya pada diri lelaki. Apapun gender dan kesadaran gender Anda, Anda harus memahami feminisme. Feminisme bukan sekedar memberi peluang wanita serata pria. Feminisme adalah kunci, gerakan pertama yang menggoyang pemahaman dunia pada umumnya. Perempuan yang dulu dikenal sebagai makhluk nomer dua setelah pria, bisa disejajarkan dengan pria. Sekali lagi, ini adalah kunci untuk membuka tabir kesetaraan manusia. Jika kita bisa memahaminya, maka mata kita akan celak pada hal-hal lainnya.

Saya mencoba mengurai perspektif saya, feminis tentu bukan ditafsirkan pada perempuan bertato dan merokok yang minum bir. Atau pintar main judo, tek won do, bisa mengalahkan lelaki, berkuasa sebagi bos, kuat, tangguh lagi keras. Sifat-sifat tadi bahkan tidak mendekati definisi feminis sama sekali. Sifat tadi tak lebih dari mengubah persepektif perempuan ke perspektif maskulin lelaki, dan ini tentu kurang tepat jika disebut sebagai definisi feminis.

Feminis ada dalam bagaimana tindakan kita mencoba menyelesaikan dan menghadapi kehidupan. Ada dalam bagaimana seorang Ibu yang menyayangi anaknya, ada dalam naskah agama dalam mengurai hakikat feminis Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ada juga dalam hukum di bangsa-bangsa yang kini telah mapan dan adil.

Satu contoh kecil saat Anda sedang dalam tertekan menghadapi masalah, orang yang dididik maskulin akan lebih cinderung menghadapinya secara emosional, yang bisa dan seringnya berujung pada kekerasan. Sementara feminis menghadapinya dengan lebih elegan, mampu menahan perasaan, mencoba menghadapi tekanan dan tentunya tidak terbeslit sedikitpun menggunakan kekerasan (fisik maupun verbal).

Dalam hukum, Anda akan melihat bagaimana sebuah kitab undang-undang lebih condong untuk menghukum dan memberi efek jera kepada para pelaku kejahatan. Sedangkan di negara yang maju, lebih feminis dan manusiawi lebih fokus pada menghindari, mendidik, memahami dan menyembuhkan kejahatan beserta pelakunya.

Dalam agama, bisa dilihat bagaimana sesungguhnya Tuhan adalah Feminis, bagaimana dia lebih banyak meminta kita menyebut Asma-Nya yang Pengasih, Penyayang, Pengampun dan Asma-asma lembut lainnya. Tidak seperti saat ini, kita menafsirkannya kitab Tuhan menjadi terlalu maskulin yang penuh dengan kekerasan, kebencian dan hukuman. Feminis bisa menjadi cara pandang kita melihat Agama lebih celak lagi.

Dalam politik, Anda bisa melihat bagaimana dunia lebih sering menyelesaikan masalah dan konflik dengan cara kekerasan, cara maskulin. Dengan perang, saling membunuh sang liyan yang tak seideologi, tak sesuku, tak sedarah, tak separtai, tak sependapat dan tak- tak- lainnya. Padahal jika ada banyak sentuhan feminis, segala masalah politik dapat diselesaikan dengan diplomasi, jalan damai, proses kreatif politik dan proses lembut lainnya.

Mari membuka kunci

Lalu bagaimana kita bisa mengubah dunia lebih baik lagi? Menyeimbangkan antara feminis dan maskulin adalah sikap yang perlu sedikit kita pelajari. Sekarang, di usia dunia yang kini didominasi generasi milenial merupakan momen yang tepat. Generasi sebelumnya telah selesai mensejajarkan peran perempuan, mayoritas bangsa telah memberi ruang pada perempuan dalam pendidikan. Tapi itu ternyata belum cukup, ruang perempuan masih menjadi minoritas di banyak bidang, khususnya dalam kepemimpinan politik dan imam dalam agama.

Ini adalah pekerjaan rumah bagi semua orang yang kini mulai kita kerjakan. Di Kanada, PM Justin Trudeau mengangkat separuh anggota kabinetnya dengan perempuan.  Ini adalah upaya untuk menunjukkan kepada dunia makna adil yang sebenar-benarnya. Pemahaman feminis seperti Trudeau lakukan layak dicontoh banyak negara sebagai upaya utama memerangi dominasi maskulin.

Tantangan

Tantangan dalam membuka kunci feminis ada banyak sekali tentunya. Lelaki masih banyak yang tidak rela jika perempuan menjadi kepala rumah tangga. Kesenjangan gaji dan jenjang karir antara pria dan perempuan yang timpang dalam lingkungan kerja. Juga agama mayoritas menjadikan perempuan adalah nomer kesekian. Semua itu bersumber pada minimnya kesadaran dan pengalaman dalam memahami makna feminis.

Mari berusaha menyelesaikannya dengan mengembalikan ke rumah, memberikan peran yang adil antara lelaki dan perempuan, antara pasangan tradisional Ayah dan Ibu dalam hal cuci piring bisa jadi langkah awal. Ketimpangan feminis-maskulin terjadi karena ada hal-hal seksisme yang telah mengakar di benak semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Salah satu contoh soal pekerjaan rumah tadi, membersihkan rumah, menyapu, mencuci piring dsb sering dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Sementara hal kasar dan kotor seperti membenahi listrik dan pertukangan adalah peran pria. Padahal itu terjadi bukan secara alami, melainkan karena budaya yang mengganggap pekerjaan demikian hanya dilakukan oleh lelaki atau perempuan saja.

Kenyataannya, tantangan utama dalam praktik feminis juga kemajuan lainnya melulu terhambat pada satu aspek yang mengakar, pendidikan. Pendidikan pluralis hanya berkembang pada dunia yang telah maju ekonominya. Kanada maju karena dalam segi ekonomi juga sudah mapan sehingga isu feminis bisa menjadi sorotan. Sedangkan di Indonesia, isu ini terhambat karena masih terlalu banyak isu lain yang lebih penting terkait politik dan ekonomi. Kabar baiknya, banyak diantara kita yang sudah memahami makna feminis ini. Mereka, perempuan yang melampaui zamannya, juga pria seperti saya yang hidup dalam lingkungan feminis. Kami adalah bibit untuk masa depan yang lebih baik.

Setelah kunci feminsime dipahami, apa yang bisa dibuka?

Dunia yang lebih baik, keseimbangan alam seperti Yin dan Yang menjadi tujuan jika kita telah membuka dunia dengan pemahaman feminis. Dunia yang tidak hanya diselesaikan dengan kekerasan, dunia yang lembut dan penuh kasih sayang. Dunia yang lebih kreatif. Anda bisa membayangkan dunia modern yang tumbuh dengan cara pandang baru, kesdaran baru. Dunia yang celak dan penuh dengan kemungkinan.

Selain itu, memaknai feminis akan membawa kita ke kesadaran akan pemahaman gender yang lebih terbuka. Memahami bahwa dunia ini masih banyak yang bisa kita perjuangkan untuk kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kesadaran ini mencakup pentingnya pemahaman hak-hak mereka yang tidak mau dibatasi dalam sekat perempuan dan pria, mereka yang memiliki ekspresi gender dalam bingkai yang lebih luas.

Ini adalah awal baru, perjuangan baru. Kita sudah memiliki para filsuf, Yesus, Muhammad, Martin Luther, Malcolm X juga Kartini yang berani memperjuangkan apa yang mereka pikir baik untuk dunianya. Saatnya kita juga berjuang untuk dunia yang lebih baik. Dengan cara kita dan pemahaman kita, ide soal feminisme bisa jadi kuncinya.

 

Dunia Tanpa Manusia

Dunia Tanpa Manusia

Buku ini saya temukan di tumpukan buku diskon di TM Booksore Poins Square seharga 15 ribu rupiah. Nampak apik dalam cover bergambar gedung-gedung serba hitam dengan hijau pepohonan sebagai bayangannya. Buku ini sangat menarik perhatian saya, seolah-olah ada kedekatan sendiri ketika melihatnya. Benar ternyata, belakangan saya ingat pernah membaca sedikit resensinya di majalah New Yorker milik kakak ipar. Saya habiskan buku ini dalam tiga malam saat pulang kampung kemarin.

“Sebaliknya, bayangkan dunia yang tanpa kita, karena kita tiba-tiba menghilang. Bayangkan pula jika itu terjadi besok.

            ”Barangkali itu mustahil, tetapi demi perbincangan kita, bukan tidak mungkin. Misalkan ada virus yang khusus menyerang Homo Sapiens- entah alami atau hasil rekayasa nano oleh sekelompok manusia iblis- secara serentak melenyapkan kita tetapi sama sekali tidak mengganggu yang lain. Atau seorang penyihir jahat yang sangat antimanusia entah bagaimana merusak 3,9 persen DNA unik yang membuat kita berbeda dari simpase, atau menemukan cara sempurna untuk memandulkan sperma kita. Atau misalkan Yesus- kita bicara lagi tentang Dia nanti- atau makhluk ruang angkasa menculik kita semua, entah ke surga yang mulia atau ke kebun binatang di tempat lain di galaksi yang sama

….

Begitulah sepenggal kutipan dalam Pendahuluan berjudul Sebuah Teka-Teki Monyet yang ditulis Alan Weisman. Dengan renyah dia sedikit menggambarkan kemungkinan sebab manusia menghilang atau musnah secara mendadak yang mungkin bisa saja terjadi esok hari.

Namun, bukan itu yang menjadi pokok permasalahan dalam buku terjemahan setebal 430 halaman ini. Alan dengan sangat apik mencoba menelusuri kemungkinan dunia lain yang tak terjangkau oleh kita, dunia dimana manusia mungkin tidak ada di dalamnya. Bagaimanakah rupa-rupa dunia jika tanpa keberadaan kita?

Alan membagi Karya Ilmiahnya ini menjadi empat bagian. Tiap bagian dalam buku dibagi menjadi beberapa bab judul untuk memudahkan pembaca memahami maksud karya tulisannya. Tiap bab tidak bersambung, melainkan merupakan bagian utuh yang berdiri dengan masing-masing cerita. Dengan tema utama ”Dunia Tanpa Manusia”.

Bagaimana hal-hal sederhana seperti rumah kita yang akan runtuh dengan sendirinya jika kita tinggalkan, bagimana rupa New York sehari setelah ditinggal manusia, bagaimana alam mengambil alih kota Verosha yang ditinggalkan karena perang Turki dan Yunani, nuklir dengan radiasi yang tetap ada hingga jutaan tahun nanti, karya apa saja yang masih bisa bertahan sepeninggal kita, dan hal-hal lain yang akan terjadi- jika benar, mungkin besok manusia musnah dengan tiba-tiba.

Alan mencoba  mengurai gagasannya dengan cermat, hingga ia harus menyusuri banyak tempat-tempat di dunia seperti suku-suku pedalaman di Amazon yang hampir punah. Mewawancarai mulai dari ilmuwan hingga agamawan. Serta mengambil referensi buku dan artikel hingga butuh daftar pustaka setebal sebelas halaman untuk menuliskannya.

Buku Alan berangkat dari esainya di majalah Discover edisi Februari 2005 yang berjudul ”Earth Without People”. Lalu ia perdalam lagi menjadi sebuah buku berjudul “The World Without Us” ini. Lebih jelas tentang buku ini dan proyek-proyek lanjutan Alan kunjungi saja www.worldwithoutus.com

Sebagai seorang Jurnalis yang telah melalang buana di industri Jurnalisme Amerika. Karya Alan pantas dikenang bukan hanya sebagai karya ilmiah saja, melainkan sebagai sebuah laporan jurnalistik yang unik dan nikmat untuk dibaca.Gayajurnalisme narasi yang ia kembangakan dalam tiap bab menyuguhkan kepada kita cara pandang dunia lebih dekat, untuk menyikapi kehidupan lebih bijak.

Dalam buku ini, lagi, saya temukan sepenggal puisi apik berbahasa Jerman. Puisi yang mudah dihafal dan senada dengan puisi Goethe berjudul Uber Allen Gipfeln– yang sering saya wiridkan berulang-ulang. Begini bunyinya:

Das Firmament blaut ewig, und die Erde

Wird lange fest steh’n und aufbuh’n im Lenz.

Du aber, Mensch, wie langse lebst denn du?

Cakrawala selamanya biru dan begitu juga dengan bumi

Akan tetap bertahan dan mekar di musim semi.

Tetapi, hai manusia, seberapa lama kalian akan terus hidup?

Oleh:

Li-Tai-Po/Hans Bethge/Gustav Mahler

The Chinese Flute:

Drinking Song of the Sorrow of the Earth

Das Lied von der Erde

Menyentil Ideologi…

“Terlalu mahal dan akan banyak menelan korban untuk mengganti ideologi…”

kata Rektor UIN Jakarta, Komarudin Hidayat beberapa waktu lalu di account twitter @komar_hidayat miliknya, menanggapi kasus NII yang merebak di masyarakat belakangan ini, dan juga cukup menggoyang kampus tercinta.

Kebetulan di kesempatan lain saya juga mendengar perkataan beliau tentang ideologi, kurang lebih seperti ini, “Mahasiswa, silahkan mencari ideologi sesuai dengan kemampuannya, terserah mana yang mau dianut, toh mereka juga akan sadar akan realitanya…” katanya saat mengisi sebuah seminar tentang organisasi kampus beberapa hari lalu. Hal itu yang membuat saya berpikir dan terus berpikir, lantas mencoba mengurai benang merah persoalan bangsa ini, ideologi.

Saya pun terhenyak, sama terhenyaknya saat heboh soal definisi identitas yang menyeruak beberapa tahun silam. Nyatanya, saya, atau beberapa dari kita memang belum paham benar definisi ideologi. Bahwa memang sejak kecil kita telah terdoktrinasi dengan ideologi Pancasila, hingga kita hapal di luar kepala namun minim penggejawantahan di lapangan.

Buktinya? Saya coba tanyakan kepada beberapa mahasiswa berbagai semester dan nyatanya memang mereka tidak terlalu kenal dengan istilah fundamental ini. Maklum, saat ini mayoritas dari kami adalah penganut hedonisme yang disarikan secara keliru dari makna kebebasan, yang memang banyak disuarakan tanpa pemahaman. Inilah realita gagalnya pembentukan karakter. Ah, harapku ini hanya asumsi belaka, karena realitanya lebih menggerikan. ?

Pembelajaran Ideologi: Indoktrinasi yang Keliru

Ideologi selalu berhimpitan dengan idealis. Ideologi adalah sebuah cita-cita besar, sedang idealis adalah sikapnya. Kita selalu mengenang ideologi dengan pancasila, komunis, demokrasi, ekstrim kanan-kiri, agama, dlsb. Semua itu hanya sebagai wacana bahwa ideologi memang sudah di patenkan oleh beberapa pemikir barat. Sehingga saat ini, kajian teori ideologi bangsa ini ”lagi-lagi” nyontek pemikiran mereka tanpa sedikitpun improvisasi. Kenyataannya, tata ideologi dunia memang tidak bisa disatukan hingga tak mungkin disamakan.

Sukarno, pencetus Pancasila adalah orang yang Idealis. Baginya ideologi Pancasia yang ia kenalkan pada bangsa ini adalah sebuah pemikiran yang mampu meraup banyak massa tanpa ada pertumpahan darah. Karena Pancasila memiliki jiwa yang selaras dengan nafas kedepan bangsa yang multikultural.

Tapi kini apa hasilnya? Korupsi, Terorisme, Cikeusik, Depok, NII, dlsb. Adalah buah dari penerapan dan penjagaan ideologi yang nyata-nyata telah gagal dalam prakteknya. Lemahnya pemimpin dalam menggelola dan menjaga ideologi membuat banyak dari kita mencari-cari alternatif ideologi. Dari sekedar coba-coba dan kecil-kecilan setingkat mahasiswa (tidak terekspos) dan radikalisme-radikalisme semu hingga yang sering dibilang ekstrem seperti ideologi berbasis agama seperti NII.

Pembelajaran ideologi di ranah pendidikan sangat miskin praktik, pelajar dijejali teori dan teori yang pasti tidak akan berguna tanpa dipraktikkan. Ideologi pancasila dikenalkan kepada pelajar sekolah sebagai dasar negara yang wajib dihormati dengan taat pada guru dan rajin belajar. Ideologi dikenalkan pada bahan ajar Kewarganegaraan dengan hapalan-hapalan tekstual yang seringnya sangat menjemukan.

Akhirnya, tanpa penekanan pada aspek praktikum, cukup memberi hormat pada bendera merah putih saat upacara pun sudah dianggap sebagai praktik ideologi. Hingga saatnya mereka keluar dari ranah pendidikam sekolah, mayoritas dari mereka shock dengan bebasnya ideologi yang ada. Hasilnya, pembentukan ideologi mayoritas memang baru dicari dan terbentuk saat berada di dunia kampus, atau saat seorang manusia kini telah menemui kondisi lingkungan yang sebenarnya di luar lingkungan sekolah atau kampus.

Ideologi personal lebih penting dari ideologi kelompok.

Maksudnya bahwa tiap-tiap kita wajib punya ideologi. Akademisi, politisi, peneliti dlsb sejatinya adalah orang yang pertama-tama punya ideologi personal yang jelas bagi masa depannya. Sayang, idelogi personal saat ini tergerus oleh ideologi partial kelompok. Walhasil perasaan ideologi personal yang kadang dipupuk sendiri harus tergerus saat menemui kondisi lapangan yang mengaharuskan taat pada ideologi kelompok, yang pastinya belum tentu on the track.

Pembentukan mental atau character building sangat diperlukan dalam pembentukan ideologi personal yang kokoh, kuat, dan tahan banting. Seeorang yang punya karakter kuat sudah tentu memiliki ideologi yang mantap. Inilah keyword dalam regenerasi ideologi anak bangsa kedepanya.

Minimnya praktik ideologi digunakan oleh beberapa pihak untuk meraup keuntungan. Dengan dalih mendirikan bangsa yang lebih maju, kuat, sehat dlsb, praktik-praktik ideologi dengan pemahaman yang boleh dikatakan ”menyimpang” pun akhirnya disebarkan benih-benihnya. Dan kini tumbuh subur di negeri ini. Baik yang sembunyi-sembunyi, malu-malu kucing hingga yang dengan bangganya memerkan ideologi di jalanan-jalanan, mengobral murah dengan iming-iming kekuasaan. Atas nama rakyat, atas nama Tuhan, sigh!

Tidak salah memang, mengingat manusai dilahirkan untuk bebas dan tanpa paksaan dalam hal apapun, tetapi lagi-lagi harus on the right track. Ideologi bukan sekedar permainan, kita harus mendiskusikan, berbagi, dan mengkaji. Ideologi dalam hemat saya, kelak yang akan ditanyakan pertama kali oleh Malaikat saat kita mati. Karena ideologi mengantar kita sebagai manusia yang benar-benar manusia, baik mengakui Tuhan atau tidak bisa tercermin dalam ideologinya.

Misal, seorang komunis yang meninginkan kesetaraan pun boleh jadi lebih manusia daripada seorang Imam yang menginginkan kekuasaan. Karena ideologi sejatinya terletak pada diri pribadi masing-masing. Dan terlihat dan tercermin dalam segala ”tindakannya”.

Perang Ideologi, Masihkah ada?

Ideologi personal, ya saya yakin masing-masing dari kita punya, hanya saja terkadang tidak menyadari keberadaannya. Namun ideologi kelompok, siapa kira setelah komunis berhasil tersingkirkan dari bangsa ini beberapa waktu silam, perang ideologi tak kunjung berakhir.

Lagi-lagi dari kajian sejarah, Sukarno adalah salah satu orang yang paham dengan multikultural dan multi-ideologi bangsa yang sejatinya sulit untuk dipersatukan ini. Konsep integrasi dalam nasakom yang ia buat adalah bagian penting dari pemikiran Sukarno dalam mengintegrasikan bangsa ini. Meski belakangan kita tahu konsep itu justru memecah belah bangsa saat orde lama.

Hingga hukum alam pun berlaku dalam perang ideologi. Siapa kuat, siapa lebih banyak pengikut, siapa lebih pandai; dialah pemenang dalam perang idelogi, dan ideologi kelompok yang kini telah menjelama menjadi ideologi bangsa ini adalah hasil dari pertumpahan darah juataan manusia yang mati tanpa nama dan kubur.

Siapa kira, pertikaian ideologi bisa lebih jahanam dari penjajahan. Ini terbukti tak hanya di negeri garuda ini, berbagai negara dan bangsa pun mengalaminya. Banyak bangsa yang rela membunuh saudaranya sendiri hanya karena perbedaan ideologi. Inilah titik “kesakralan” ideologi…

Dan kini seperti kata Komarudin Hidayat di atas, terlalu mahal untuk mengganti ideologi. Tetapi, terlalu sulit juga untuk mempertahankannya, disaat ideologi semu berlahan-lahan mengahncurkan ideologi bangsa ini lewat korupsi, keyakinan membabi buta, kapitalisme a la rimba, dan nafsu-nafsu ideologi semu lainnya yang sudah sepatutnya diperangi bersama.

Dari mana kita mulai…

Ingat bahwa demokrasi yang menjadi basis Ideologi Pancasila pun juga masih mengalami trial and error. Karena ini juga hasil pemikirian alamiah manusia akan kondisi dunia yang dinamis. ”Ideologi Demokrasi Pancasila saat ini memang bukan yang sempurna, tapi paling tidak inilah yang terbaik untuk saat ini” kata Study Rizal, dosen civic education saya semester lalu yang selalu saya ingat.

Siapa duga, pikir saya, kelak akan ada geombang dunia ke berapa yang lebih nyata tentang ideologi tata kehidupan dunia yang satu padu dibawah sistem yang entah apa namanya.

Tapi sayangnya, dalam praktik beragama saya, hal itu hanya dijanjikan kelak di surga. Jadi memang ironi bahwa Tuhan sendiri tidak menjanjikan kedamaian yang satu padu di dunia ini. Tapi saya yakin, Tuhan beserta sifat-sifatnya senantiasa memberi banyak anugrah bagi hambanya yang senantiasa mencoba menginginkan tata hidup yang lebih baik seperti nabi-nabi. Sayangnya lagi, konon nabi sudah berakhir, dan ini membuat saya agak pesimis tentang kenyataan yang mungkinkah akan berubah. Who is the saviour?

Janji tentang ratu adil, mesias, dan imam terakhir menjadikan manusia kerap lupa bahwa sebenarnya saviour mereka terletak pada diri kita sendiri, kitalah yang bisa menyelamatkan kita, apa yang telah dan akan kita lakukan kelak akan dipertanggungjawabkan. Maka, sudah pasti, marilah memulai hidup kedepan dengan ideologi yang jelas, dan semua itu berpangkal dari nurani masing-masing,

Selamat menjadi manusia yang idelis…