Kunci Feminis dan Kemana Selanjutnya

A post shared by Shiradd al Mustaqiim (@museuz) on

Saya menyadarinya dari dulu, tumbuh di lingkungan yang didominasi oleh perempuan. Ibu, saudara kandung dan kebanyakan teman saya adalah perempuan. Ini membuat saya memiliki pegalaman yang berbeda sebagai sosok yang lahir sebagai pria.  Apa yang ada di pikiran saya, yang saya pahami soal gender adalah pengalaman yang layak saya bagi, karena dunia memang telah bermetamorfosa ke tingkat yang lebih baik.

Saya menemui bahwa disekitar kita, ketimpangan antara feminis dan maskulin begitu sangat kentara. Bagaimana kita bersikap pada satu hal yang umum bisa begitu mudah ditebak. Tayangan televisi, seni, sastra, politik, hukum atau bagaimana cara Ibu Bapak mendidik saya membuat saya sedikit terhenyak. Bahwa sejak semula saya tidak pernah dididik dan mendidik diri secara seimbang antara perspektif feminis dan maskulin. Realitanya memang sangat timpang, lingkungan saya adalah patriakhis. Ini tidak melulu salah, namun bisakah kita hidup pada lingkungan yang lebih baik?

Feminis

Yang harus Anda pahami, feminis tak harus perempuan, maskulin pun tak melulu negatif dan ada hanya pada diri lelaki. Apapun gender dan kesadaran gender Anda, Anda harus memahami feminisme. Feminisme bukan sekedar memberi peluang wanita serata pria. Feminisme adalah kunci, gerakan pertama yang menggoyang pemahaman dunia pada umumnya. Perempuan yang dulu dikenal sebagai makhluk nomer dua setelah pria, bisa disejajarkan dengan pria. Sekali lagi, ini adalah kunci untuk membuka tabir kesetaraan manusia. Jika kita bisa memahaminya, maka mata kita akan celak pada hal-hal lainnya.

Saya mencoba mengurai perspektif saya, feminis tentu bukan ditafsirkan pada perempuan bertato dan merokok yang minum bir. Atau pintar main judo, tek won do, bisa mengalahkan lelaki, berkuasa sebagi bos, kuat, tangguh lagi keras. Sifat-sifat tadi bahkan tidak mendekati definisi feminis sama sekali. Sifat tadi tak lebih dari mengubah persepektif perempuan ke perspektif maskulin lelaki, dan ini tentu kurang tepat jika disebut sebagai definisi feminis.

Feminis ada dalam bagaimana tindakan kita mencoba menyelesaikan dan menghadapi kehidupan. Ada dalam bagaimana seorang Ibu yang menyayangi anaknya, ada dalam naskah agama dalam mengurai hakikat feminis Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ada juga dalam hukum di bangsa-bangsa yang kini telah mapan dan adil.

Satu contoh kecil saat Anda sedang dalam tertekan menghadapi masalah, orang yang dididik maskulin akan lebih cinderung menghadapinya secara emosional, yang bisa dan seringnya berujung pada kekerasan. Sementara feminis menghadapinya dengan lebih elegan, mampu menahan perasaan, mencoba menghadapi tekanan dan tentunya tidak terbeslit sedikitpun menggunakan kekerasan (fisik maupun verbal).

Dalam hukum, Anda akan melihat bagaimana sebuah kitab undang-undang lebih condong untuk menghukum dan memberi efek jera kepada para pelaku kejahatan. Sedangkan di negara yang maju, lebih feminis dan manusiawi lebih fokus pada menghindari, mendidik, memahami dan menyembuhkan kejahatan beserta pelakunya.

Dalam agama, bisa dilihat bagaimana sesungguhnya Tuhan adalah Feminis, bagaimana dia lebih banyak meminta kita menyebut Asma-Nya yang Pengasih, Penyayang, Pengampun dan Asma-asma lembut lainnya. Tidak seperti saat ini, kita menafsirkannya kitab Tuhan menjadi terlalu maskulin yang penuh dengan kekerasan, kebencian dan hukuman. Feminis bisa menjadi cara pandang kita melihat Agama lebih celak lagi.

Dalam politik, Anda bisa melihat bagaimana dunia lebih sering menyelesaikan masalah dan konflik dengan cara kekerasan, cara maskulin. Dengan perang, saling membunuh sang liyan yang tak seideologi, tak sesuku, tak sedarah, tak separtai, tak sependapat dan tak- tak- lainnya. Padahal jika ada banyak sentuhan feminis, segala masalah politik dapat diselesaikan dengan diplomasi, jalan damai, proses kreatif politik dan proses lembut lainnya.

Mari membuka kunci

Lalu bagaimana kita bisa mengubah dunia lebih baik lagi? Menyeimbangkan antara feminis dan maskulin adalah sikap yang perlu sedikit kita pelajari. Sekarang, di usia dunia yang kini didominasi generasi milenial merupakan momen yang tepat. Generasi sebelumnya telah selesai mensejajarkan peran perempuan, mayoritas bangsa telah memberi ruang pada perempuan dalam pendidikan. Tapi itu ternyata belum cukup, ruang perempuan masih menjadi minoritas di banyak bidang, khususnya dalam kepemimpinan politik dan imam dalam agama.

Ini adalah pekerjaan rumah bagi semua orang yang kini mulai kita kerjakan. Di Kanada, PM Justin Trudeau mengangkat separuh anggota kabinetnya dengan perempuan.  Ini adalah upaya untuk menunjukkan kepada dunia makna adil yang sebenar-benarnya. Pemahaman feminis seperti Trudeau lakukan layak dicontoh banyak negara sebagai upaya utama memerangi dominasi maskulin.

Tantangan

Tantangan dalam membuka kunci feminis ada banyak sekali tentunya. Lelaki masih banyak yang tidak rela jika perempuan menjadi kepala rumah tangga. Kesenjangan gaji dan jenjang karir antara pria dan perempuan yang timpang dalam lingkungan kerja. Juga agama mayoritas menjadikan perempuan adalah nomer kesekian. Semua itu bersumber pada minimnya kesadaran dan pengalaman dalam memahami makna feminis.

Mari berusaha menyelesaikannya dengan mengembalikan ke rumah, memberikan peran yang adil antara lelaki dan perempuan, antara pasangan tradisional Ayah dan Ibu dalam hal cuci piring bisa jadi langkah awal. Ketimpangan feminis-maskulin terjadi karena ada hal-hal seksisme yang telah mengakar di benak semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Salah satu contoh soal pekerjaan rumah tadi, membersihkan rumah, menyapu, mencuci piring dsb sering dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Sementara hal kasar dan kotor seperti membenahi listrik dan pertukangan adalah peran pria. Padahal itu terjadi bukan secara alami, melainkan karena budaya yang mengganggap pekerjaan demikian hanya dilakukan oleh lelaki atau perempuan saja.

Kenyataannya, tantangan utama dalam praktik feminis juga kemajuan lainnya melulu terhambat pada satu aspek yang mengakar, pendidikan. Pendidikan pluralis hanya berkembang pada dunia yang telah maju ekonominya. Kanada maju karena dalam segi ekonomi juga sudah mapan sehingga isu feminis bisa menjadi sorotan. Sedangkan di Indonesia, isu ini terhambat karena masih terlalu banyak isu lain yang lebih penting terkait politik dan ekonomi. Kabar baiknya, banyak diantara kita yang sudah memahami makna feminis ini. Mereka, perempuan yang melampaui zamannya, juga pria seperti saya yang hidup dalam lingkungan feminis. Kami adalah bibit untuk masa depan yang lebih baik.

Setelah kunci feminsime dipahami, apa yang bisa dibuka?

Dunia yang lebih baik, keseimbangan alam seperti Yin dan Yang menjadi tujuan jika kita telah membuka dunia dengan pemahaman feminis. Dunia yang tidak hanya diselesaikan dengan kekerasan, dunia yang lembut dan penuh kasih sayang. Dunia yang lebih kreatif. Anda bisa membayangkan dunia modern yang tumbuh dengan cara pandang baru, kesdaran baru. Dunia yang celak dan penuh dengan kemungkinan.

Selain itu, memaknai feminis akan membawa kita ke kesadaran akan pemahaman gender yang lebih terbuka. Memahami bahwa dunia ini masih banyak yang bisa kita perjuangkan untuk kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kesadaran ini mencakup pentingnya pemahaman hak-hak mereka yang tidak mau dibatasi dalam sekat perempuan dan pria, mereka yang memiliki ekspresi gender dalam bingkai yang lebih luas.

Ini adalah awal baru, perjuangan baru. Kita sudah memiliki para filsuf, Yesus, Muhammad, Martin Luther, Malcolm X juga Kartini yang berani memperjuangkan apa yang mereka pikir baik untuk dunianya. Saatnya kita juga berjuang untuk dunia yang lebih baik. Dengan cara kita dan pemahaman kita, ide soal feminisme bisa jadi kuncinya.

 

Dunia Tanpa Manusia

Dunia Tanpa Manusia

Buku ini saya temukan di tumpukan buku diskon di TM Booksore Poins Square seharga 15 ribu rupiah. Nampak apik dalam cover bergambar gedung-gedung serba hitam dengan hijau pepohonan sebagai bayangannya. Buku ini sangat menarik perhatian saya, seolah-olah ada kedekatan sendiri ketika melihatnya. Benar ternyata, belakangan saya ingat pernah membaca sedikit resensinya di majalah New Yorker milik kakak ipar. Saya habiskan buku ini dalam tiga malam saat pulang kampung kemarin.

“Sebaliknya, bayangkan dunia yang tanpa kita, karena kita tiba-tiba menghilang. Bayangkan pula jika itu terjadi besok.

            ”Barangkali itu mustahil, tetapi demi perbincangan kita, bukan tidak mungkin. Misalkan ada virus yang khusus menyerang Homo Sapiens- entah alami atau hasil rekayasa nano oleh sekelompok manusia iblis- secara serentak melenyapkan kita tetapi sama sekali tidak mengganggu yang lain. Atau seorang penyihir jahat yang sangat antimanusia entah bagaimana merusak 3,9 persen DNA unik yang membuat kita berbeda dari simpase, atau menemukan cara sempurna untuk memandulkan sperma kita. Atau misalkan Yesus- kita bicara lagi tentang Dia nanti- atau makhluk ruang angkasa menculik kita semua, entah ke surga yang mulia atau ke kebun binatang di tempat lain di galaksi yang sama

….

Begitulah sepenggal kutipan dalam Pendahuluan berjudul Sebuah Teka-Teki Monyet yang ditulis Alan Weisman. Dengan renyah dia sedikit menggambarkan kemungkinan sebab manusia menghilang atau musnah secara mendadak yang mungkin bisa saja terjadi esok hari.

Namun, bukan itu yang menjadi pokok permasalahan dalam buku terjemahan setebal 430 halaman ini. Alan dengan sangat apik mencoba menelusuri kemungkinan dunia lain yang tak terjangkau oleh kita, dunia dimana manusia mungkin tidak ada di dalamnya. Bagaimanakah rupa-rupa dunia jika tanpa keberadaan kita?

Alan membagi Karya Ilmiahnya ini menjadi empat bagian. Tiap bagian dalam buku dibagi menjadi beberapa bab judul untuk memudahkan pembaca memahami maksud karya tulisannya. Tiap bab tidak bersambung, melainkan merupakan bagian utuh yang berdiri dengan masing-masing cerita. Dengan tema utama ”Dunia Tanpa Manusia”.

Bagaimana hal-hal sederhana seperti rumah kita yang akan runtuh dengan sendirinya jika kita tinggalkan, bagimana rupa New York sehari setelah ditinggal manusia, bagaimana alam mengambil alih kota Verosha yang ditinggalkan karena perang Turki dan Yunani, nuklir dengan radiasi yang tetap ada hingga jutaan tahun nanti, karya apa saja yang masih bisa bertahan sepeninggal kita, dan hal-hal lain yang akan terjadi- jika benar, mungkin besok manusia musnah dengan tiba-tiba.

Alan mencoba  mengurai gagasannya dengan cermat, hingga ia harus menyusuri banyak tempat-tempat di dunia seperti suku-suku pedalaman di Amazon yang hampir punah. Mewawancarai mulai dari ilmuwan hingga agamawan. Serta mengambil referensi buku dan artikel hingga butuh daftar pustaka setebal sebelas halaman untuk menuliskannya.

Buku Alan berangkat dari esainya di majalah Discover edisi Februari 2005 yang berjudul ”Earth Without People”. Lalu ia perdalam lagi menjadi sebuah buku berjudul “The World Without Us” ini. Lebih jelas tentang buku ini dan proyek-proyek lanjutan Alan kunjungi saja www.worldwithoutus.com

Sebagai seorang Jurnalis yang telah melalang buana di industri Jurnalisme Amerika. Karya Alan pantas dikenang bukan hanya sebagai karya ilmiah saja, melainkan sebagai sebuah laporan jurnalistik yang unik dan nikmat untuk dibaca.Gayajurnalisme narasi yang ia kembangakan dalam tiap bab menyuguhkan kepada kita cara pandang dunia lebih dekat, untuk menyikapi kehidupan lebih bijak.

Dalam buku ini, lagi, saya temukan sepenggal puisi apik berbahasa Jerman. Puisi yang mudah dihafal dan senada dengan puisi Goethe berjudul Uber Allen Gipfeln– yang sering saya wiridkan berulang-ulang. Begini bunyinya:

Das Firmament blaut ewig, und die Erde

Wird lange fest steh’n und aufbuh’n im Lenz.

Du aber, Mensch, wie langse lebst denn du?

Cakrawala selamanya biru dan begitu juga dengan bumi

Akan tetap bertahan dan mekar di musim semi.

Tetapi, hai manusia, seberapa lama kalian akan terus hidup?

Oleh:

Li-Tai-Po/Hans Bethge/Gustav Mahler

The Chinese Flute:

Drinking Song of the Sorrow of the Earth

Das Lied von der Erde

Menyentil Ideologi…

“Terlalu mahal dan akan banyak menelan korban untuk mengganti ideologi…”

kata Rektor UIN Jakarta, Komarudin Hidayat beberapa waktu lalu di account twitter @komar_hidayat miliknya, menanggapi kasus NII yang merebak di masyarakat belakangan ini, dan juga cukup menggoyang kampus tercinta.

Kebetulan di kesempatan lain saya juga mendengar perkataan beliau tentang ideologi, kurang lebih seperti ini, “Mahasiswa, silahkan mencari ideologi sesuai dengan kemampuannya, terserah mana yang mau dianut, toh mereka juga akan sadar akan realitanya…” katanya saat mengisi sebuah seminar tentang organisasi kampus beberapa hari lalu. Hal itu yang membuat saya berpikir dan terus berpikir, lantas mencoba mengurai benang merah persoalan bangsa ini, ideologi.

Saya pun terhenyak, sama terhenyaknya saat heboh soal definisi identitas yang menyeruak beberapa tahun silam. Nyatanya, saya, atau beberapa dari kita memang belum paham benar definisi ideologi. Bahwa memang sejak kecil kita telah terdoktrinasi dengan ideologi Pancasila, hingga kita hapal di luar kepala namun minim penggejawantahan di lapangan.

Buktinya? Saya coba tanyakan kepada beberapa mahasiswa berbagai semester dan nyatanya memang mereka tidak terlalu kenal dengan istilah fundamental ini. Maklum, saat ini mayoritas dari kami adalah penganut hedonisme yang disarikan secara keliru dari makna kebebasan, yang memang banyak disuarakan tanpa pemahaman. Inilah realita gagalnya pembentukan karakter. Ah, harapku ini hanya asumsi belaka, karena realitanya lebih menggerikan. ?

Pembelajaran Ideologi: Indoktrinasi yang Keliru

Ideologi selalu berhimpitan dengan idealis. Ideologi adalah sebuah cita-cita besar, sedang idealis adalah sikapnya. Kita selalu mengenang ideologi dengan pancasila, komunis, demokrasi, ekstrim kanan-kiri, agama, dlsb. Semua itu hanya sebagai wacana bahwa ideologi memang sudah di patenkan oleh beberapa pemikir barat. Sehingga saat ini, kajian teori ideologi bangsa ini ”lagi-lagi” nyontek pemikiran mereka tanpa sedikitpun improvisasi. Kenyataannya, tata ideologi dunia memang tidak bisa disatukan hingga tak mungkin disamakan.

Sukarno, pencetus Pancasila adalah orang yang Idealis. Baginya ideologi Pancasia yang ia kenalkan pada bangsa ini adalah sebuah pemikiran yang mampu meraup banyak massa tanpa ada pertumpahan darah. Karena Pancasila memiliki jiwa yang selaras dengan nafas kedepan bangsa yang multikultural.

Tapi kini apa hasilnya? Korupsi, Terorisme, Cikeusik, Depok, NII, dlsb. Adalah buah dari penerapan dan penjagaan ideologi yang nyata-nyata telah gagal dalam prakteknya. Lemahnya pemimpin dalam menggelola dan menjaga ideologi membuat banyak dari kita mencari-cari alternatif ideologi. Dari sekedar coba-coba dan kecil-kecilan setingkat mahasiswa (tidak terekspos) dan radikalisme-radikalisme semu hingga yang sering dibilang ekstrem seperti ideologi berbasis agama seperti NII.

Pembelajaran ideologi di ranah pendidikan sangat miskin praktik, pelajar dijejali teori dan teori yang pasti tidak akan berguna tanpa dipraktikkan. Ideologi pancasila dikenalkan kepada pelajar sekolah sebagai dasar negara yang wajib dihormati dengan taat pada guru dan rajin belajar. Ideologi dikenalkan pada bahan ajar Kewarganegaraan dengan hapalan-hapalan tekstual yang seringnya sangat menjemukan.

Akhirnya, tanpa penekanan pada aspek praktikum, cukup memberi hormat pada bendera merah putih saat upacara pun sudah dianggap sebagai praktik ideologi. Hingga saatnya mereka keluar dari ranah pendidikam sekolah, mayoritas dari mereka shock dengan bebasnya ideologi yang ada. Hasilnya, pembentukan ideologi mayoritas memang baru dicari dan terbentuk saat berada di dunia kampus, atau saat seorang manusia kini telah menemui kondisi lingkungan yang sebenarnya di luar lingkungan sekolah atau kampus.

Ideologi personal lebih penting dari ideologi kelompok.

Maksudnya bahwa tiap-tiap kita wajib punya ideologi. Akademisi, politisi, peneliti dlsb sejatinya adalah orang yang pertama-tama punya ideologi personal yang jelas bagi masa depannya. Sayang, idelogi personal saat ini tergerus oleh ideologi partial kelompok. Walhasil perasaan ideologi personal yang kadang dipupuk sendiri harus tergerus saat menemui kondisi lapangan yang mengaharuskan taat pada ideologi kelompok, yang pastinya belum tentu on the track.

Pembentukan mental atau character building sangat diperlukan dalam pembentukan ideologi personal yang kokoh, kuat, dan tahan banting. Seeorang yang punya karakter kuat sudah tentu memiliki ideologi yang mantap. Inilah keyword dalam regenerasi ideologi anak bangsa kedepanya.

Minimnya praktik ideologi digunakan oleh beberapa pihak untuk meraup keuntungan. Dengan dalih mendirikan bangsa yang lebih maju, kuat, sehat dlsb, praktik-praktik ideologi dengan pemahaman yang boleh dikatakan ”menyimpang” pun akhirnya disebarkan benih-benihnya. Dan kini tumbuh subur di negeri ini. Baik yang sembunyi-sembunyi, malu-malu kucing hingga yang dengan bangganya memerkan ideologi di jalanan-jalanan, mengobral murah dengan iming-iming kekuasaan. Atas nama rakyat, atas nama Tuhan, sigh!

Tidak salah memang, mengingat manusai dilahirkan untuk bebas dan tanpa paksaan dalam hal apapun, tetapi lagi-lagi harus on the right track. Ideologi bukan sekedar permainan, kita harus mendiskusikan, berbagi, dan mengkaji. Ideologi dalam hemat saya, kelak yang akan ditanyakan pertama kali oleh Malaikat saat kita mati. Karena ideologi mengantar kita sebagai manusia yang benar-benar manusia, baik mengakui Tuhan atau tidak bisa tercermin dalam ideologinya.

Misal, seorang komunis yang meninginkan kesetaraan pun boleh jadi lebih manusia daripada seorang Imam yang menginginkan kekuasaan. Karena ideologi sejatinya terletak pada diri pribadi masing-masing. Dan terlihat dan tercermin dalam segala ”tindakannya”.

Perang Ideologi, Masihkah ada?

Ideologi personal, ya saya yakin masing-masing dari kita punya, hanya saja terkadang tidak menyadari keberadaannya. Namun ideologi kelompok, siapa kira setelah komunis berhasil tersingkirkan dari bangsa ini beberapa waktu silam, perang ideologi tak kunjung berakhir.

Lagi-lagi dari kajian sejarah, Sukarno adalah salah satu orang yang paham dengan multikultural dan multi-ideologi bangsa yang sejatinya sulit untuk dipersatukan ini. Konsep integrasi dalam nasakom yang ia buat adalah bagian penting dari pemikiran Sukarno dalam mengintegrasikan bangsa ini. Meski belakangan kita tahu konsep itu justru memecah belah bangsa saat orde lama.

Hingga hukum alam pun berlaku dalam perang ideologi. Siapa kuat, siapa lebih banyak pengikut, siapa lebih pandai; dialah pemenang dalam perang idelogi, dan ideologi kelompok yang kini telah menjelama menjadi ideologi bangsa ini adalah hasil dari pertumpahan darah juataan manusia yang mati tanpa nama dan kubur.

Siapa kira, pertikaian ideologi bisa lebih jahanam dari penjajahan. Ini terbukti tak hanya di negeri garuda ini, berbagai negara dan bangsa pun mengalaminya. Banyak bangsa yang rela membunuh saudaranya sendiri hanya karena perbedaan ideologi. Inilah titik “kesakralan” ideologi…

Dan kini seperti kata Komarudin Hidayat di atas, terlalu mahal untuk mengganti ideologi. Tetapi, terlalu sulit juga untuk mempertahankannya, disaat ideologi semu berlahan-lahan mengahncurkan ideologi bangsa ini lewat korupsi, keyakinan membabi buta, kapitalisme a la rimba, dan nafsu-nafsu ideologi semu lainnya yang sudah sepatutnya diperangi bersama.

Dari mana kita mulai…

Ingat bahwa demokrasi yang menjadi basis Ideologi Pancasila pun juga masih mengalami trial and error. Karena ini juga hasil pemikirian alamiah manusia akan kondisi dunia yang dinamis. ”Ideologi Demokrasi Pancasila saat ini memang bukan yang sempurna, tapi paling tidak inilah yang terbaik untuk saat ini” kata Study Rizal, dosen civic education saya semester lalu yang selalu saya ingat.

Siapa duga, pikir saya, kelak akan ada geombang dunia ke berapa yang lebih nyata tentang ideologi tata kehidupan dunia yang satu padu dibawah sistem yang entah apa namanya.

Tapi sayangnya, dalam praktik beragama saya, hal itu hanya dijanjikan kelak di surga. Jadi memang ironi bahwa Tuhan sendiri tidak menjanjikan kedamaian yang satu padu di dunia ini. Tapi saya yakin, Tuhan beserta sifat-sifatnya senantiasa memberi banyak anugrah bagi hambanya yang senantiasa mencoba menginginkan tata hidup yang lebih baik seperti nabi-nabi. Sayangnya lagi, konon nabi sudah berakhir, dan ini membuat saya agak pesimis tentang kenyataan yang mungkinkah akan berubah. Who is the saviour?

Janji tentang ratu adil, mesias, dan imam terakhir menjadikan manusia kerap lupa bahwa sebenarnya saviour mereka terletak pada diri kita sendiri, kitalah yang bisa menyelamatkan kita, apa yang telah dan akan kita lakukan kelak akan dipertanggungjawabkan. Maka, sudah pasti, marilah memulai hidup kedepan dengan ideologi yang jelas, dan semua itu berpangkal dari nurani masing-masing,

Selamat menjadi manusia yang idelis…

Redefinisi, dari Makna ke Praktek

MAKNA DAN FUNGSI REDEFINISI

“Makna Redefinisi adalah memikirkan kembali segala hal yang menurut kita sudah benar, ke arah yang lebih sesuai dengan semangat jaman dan cita-cita”

Akhir -akhir ini sering terdengar kata redefinisi di Iklan merek TV Sony yang menampilkan maksud redefinisi TV. Mengubah arti TV yang tadinya hanya media tontonan, menjadi Inernet TV yang juga menjadi media dengan penambahan feature internet. Maksud Iklan tersebut kurang tepat mengingat redefinisi sebetulnya hanya berlaku pada hal-hal yang maknanya saja berubah tetapi wujudnya sama. Maksud iklan tersebut adalah revolusi, karena perubahannya mencakup bentuk, fungsi, dan maknanya. Redefinisi  dimaknai sebagai memikirkan, mendefinisikan, mengartikan, memaknai, atau menafsirkan kembali pemahaman-pemahaman suatu hal yang telah ada, hingga memiliki arti yang lebih sesuai dengan kaidah waktu.

Redefinisi bukan hanya dalam penerapan ilmu pengetahuan yang sifatnya dinamis, berlaku pula pada penerapan agama dan norma-nilai yang selama ini kita anut. Segala yang ada di dunia ini bersifat tidak tetap secara definisi umum maupun pribadi. Segala sesuatu memang harus kita maknai esensinya, bukan hanya sekedar prakek saja. Sejalan dengan pemikiran filsafat untuk menggali  esensi dan ilmu pengetahuan untuk menguji kebenaran semua hal.

Saat ini makna redefinisi yang terpenting adalah penerapannya untuk mengubah mind-set kehidupan sehari-hari. Mulai dari prilaku, gaya hidup, kebiasaan, dan sudut pandang. Menjadi pemaknaan kembali yang lebih sesuai dengan konteks jaman selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup. Redefinisi kehidupan hanya bisa kita lakukan jika kita banyak menerima input dari luar dengan lebih banyak. Dengan kata lain, kita harus belajar tidak hanya dari yang ada di sekitar kita saja, kita harus belajar dengan menembus tembok dan sekat-sekat pemikiran sempit, dan membiarkannya melewati dimensi ruang dan waktu. Belajar dari masa lalu hingga masa kini, dan dari sekitar kita hingga ujung dunia. Sehingga kita bisa menemukan definisi-definisi lain.

REDEFINISI HIDUP, APA DASARNYA?

Semangat redefinisi memang sudah ada sejak zaman awal  filsafat yang mencoba membuka pemikiran terselubung manusia. Tetapi dalam kitab agama langit, redefinisi sudah ada sejak jaman Adam diciptakan. Buah yang konon menjadi sebab kesalahan Adam dan Hawa yang disebut buah terlarang/pengetahuan/Apel/Khuldi-lah yang membuat nenek moyang kita meredefinisikan tubuh vital mereka menjadi sesuatu yang sesuai dengan fungsi dan mungkin jaman atau waktunya.Hingga memang lebih tepat juga meredefinisikan nama buah yang dimakan Adam dan Hawa sebagai buah pengetahuan.

Sejarah tentang Adam dan Hawa tadi juga harus kita redefinisikan ke arah pemahaman yang lebih tepat. Tanpa Adam dan Hawa kita tidak mungkin hidup di bumi ini, jadi berterima kasih kepada Adam dan Hawa seharusnya menjadi kewajiban bagi semua penganut agama langit. Tanpanya, kita tidak akan pernah mengecap manisnya apel bumi.

Jika secara historis saja redefinisi memang sudah ada, apakah memang sifat dari redefinisi ini merupakan kehendak Tuhan bagi setiap manusia di bumi? Atau dalam konteks makna beragama, ini bisa jadi adalah Sunatullah yang berupa hikmah atau ilmu yang memang hanya bisa dipahami oleh orang yang mau berfikir. Karena makna redefinisi erat kaitannya dengan memikirkan kembali.

Coba kita meresapi ayat ini…
… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” QS.Ar Ra’d : 11

kata mengubah dalam ayat tersebut bisa kita maknai maksudnya menjadi “mengubah ke arah yang lebih tepat dan lebih baik” dari yang awalnya dianngap oleh “kaum” (orang kebanyakan) memang sudah benar. Jadi mungkinkah makna mengubah disini juga boleh diartikan untuk memikirkan kembali atau boleh jadi meredefinisi.

SEMANGAT REDEFINISI, AWAL DARI TINDAKAN DAN SOLUSI MASALAH

Redefinisi adalah hal yang paling awal yang harus menjadi bahan baku perubahan. Kita harus meredefinisi segala hal, ya, segala hal yang ada di sekitar kita menjadi definisi yang lebih tepat lagi. Jika kita mendefinisikan hidup adalah hidup a la orang kebanyakan, maka sudah tentu kita tidak akan bisa mengubah hidup lebih baik. Redefinisi hidup bisa jadi berbeda-beda, yang pastinya hidup harus diredefinisi ke arah yang lebih baik. Sesuai dengan idealisme atau cita-cita masing-masing orang.

Satu hal yang paling penting setelah memahami redefinisi adalah mengaplikasikannya sebagai solusi suatu masalah. Masalah sering didefinisikan sebagai hal yang merepotkan, akibat dari kesalahan, dan  harus dihindari. Padahal jika kita meredefinisikan masalah ke arah yang lebih tepat. Maka masalah bisa didefinisikan sebagai sebuah kunci untuk menjadi lebih maju, tantangan, atau bahkan anugrah. Sehingga setiap masalah akan dijalani dengan semangat dan tanpa kegelisahan. Groge Bernard Shaw pernah bilang

“Life is like beautiful melody, only the lyrics are messed up”.

Shaw telah meredefinisi makna masalah kehidupan memahaminya sebagai sesuatu yang seindah melodi lagu yang meskipun liriknya amat sangat buruk tetapi musiknya bagus. Sehingga bagi Shaw, esensi hidup bukanlah segala masalah sehari-hari yang meskipun itu tidak menyenangkan tetapi ritme yang ia pandang indah. Dan tentang kehidupan, mari  mengacu pada proverb ini:

“life is never been easy, but always full of fun”.

Bahwa hidup memang tidak pernah mudah, tetapi selalu menyenangkan. Sehingga boleh jadi seperti kata orang  bijak bahwa

“Life is by problem, if there is no problem, there is no life”

Kalimat tadi harus menjadi pegangan kita, untuk meredefinisi kehidupan yang sudah ada menjadi lebih baik dan tepat, meskipun banyak tantangannya.

Jadi, mari kita meredefinisikan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, mulai dari yang paling penting seperti definisi “kehidupan” hingga yang berupa pemahaman-pemahaman seperti definisi “masalah”.

SEMANGAT PERUBAHAN!

Mencari Sebuah Nama

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

KehendakMu meliputi segala sesuatu

Tiada daya dan upaya

Selain kehendakMu

 

Engkau segala dari segala raya

Engkau sumber dari segala sumber

Engkau akhir dari segala yang tak pernah berakhir

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

Padamu aku memuji

Segala Nama dan Puji

Segala Sifat hakiki

Segala Kehendak

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

PadaMu cinta tiada sirna

Pedih duka tiada kurasa

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

Kuasamu meliputi segala

FirmanMu berat kurasa

Bahasamu bahasa Kuasa

tiada kuasa aku mendengarnya

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Sendiri aku mencari jawabnya,

Dalam riuh dunia

Dalam hening hati

Dalam Firman Abadi

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Tiada henti hingga Aku kembali