Meluruskan Pikiran

“...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS.Ar Ra’d : 11)

Kita tidak boleh berfikir pesimis. Segala sesuatu hanyalah imajinasi visual kehidupan, atau fatamorgana, atau bayang-bayang yang semu dan maya saja. Yang paling penting adalah menyikapi segala hal dengan pikiran lurus, tetap optimis dengan diri kita sendiri. Dengan tetap Iman kepaa Allah. Kita tidak boleh menyerah dan takut dengan kehidupan, tetap semangat dan smile up dalam menghadapi masalah. Yakinlah bahwa segala sesuatu adalah ketetapan Allah yang terbaik bagi kita semua, apapun itu…

James Allen pernah bilang.” Segala sesuatu yang dilakukan seseorang adalah reasi langsung dari apa yang ada dipikirannya. Seseorang bisa bangkit dengan kdua kakinya dan beraktivitas. Hal itu karena faktor pikirannya. Begitu pula seseorang bisa sakit atau sembuh, itu karena faktor pikirannya.”

Jadi, sebetulnya pikiran hanyalah kumpulan syaraf-syaraf yang mengekspreikan diri kita, kita bisa menipu pikiran kita. Sebagai contoh, tersenyumlah ketika kita sedang bersedih, disana akan ada suatu keajaiban dan kedamaan yang nyata tentang kehidupan. Bahwa kehidupan itu tidak selalu mulus dilalui. Bila kita terbiasa, niscaya segala permasalahan akan mudah dihadapi. Ha Ha Ha…

Ada kisah tentang Ibnu Taimiyah yang berhasil mencapai kedamaian tingkat tinggi…
“Apa yang dilakukan oleh musush-musuhku? Tamanku dan surgaku berada dalam dadaku. Membunuhku sama halnya dengan mati syahid. Mengasingkanku sama halnya dengan bertamasya, dan memenjarakanku sama halnya berkhalawat ( Menyendiri dari kedamaian untuk mendekatkan diri kepada Allah).”

Patut di contoh kan…. kedamain letaknya di hati kita, meskipun uang kita berlimpah, mobil mewah, seribu rumah, berhektar sawah, kalai hati gundah, adanya cuma susah… Iya kah?

“Setiap satu menit kemarahan kita, kita telah menghabiskan 60 detik kebahagiaan.”
“Life is never been easy, but always full of fun.”

Waktu

Waktu masih berlalu, menyisakan memori tentang suka, duka, keingintahuan, rindu, bahkan kebencian. Terkadang kita sendiri begitu bingung degan makhluk Tuhan yang bernama waktu ini. Terkadang kita merindukan, terkadang aku juga amat membenci keberadaanya. Namun mengapa “Waktuka Hayatuka”( waktumu adalah hidupmu). Mungkin karena saksi abadi yang selalu lekat dengan perjalanan hidup kita selalu direkam oleh waktu. Rekaman ini yang nanti akan dibeberkan pada saat manusia diadili disisi Allah.

Waktu terkadang membuat kita merasa takut, karena waktu adalah sebuah pedang, yang suatu saat akan menibas kita secara beralahan-lahan, nanti atau dikemudian hari. Pedang itu sangat tajam, pedang yang akan bertambah tajam jika kita tidak segera menghargai waktu secepat mungkin. Jadi, tidak menghargai waktu diibaratkan seperti seseorang yang mengasah pedang untuk lehernya sediri.

Mungkin waktu adalah salah satu hamba Allah yang paling setia . Karena waktu tak pernah dusta kepada siapa saja. Waktu selalu mengungkapkan fakta. Waktu selalu memberi kita jawaban jika kita bertanya. Waktu selalu memberi jawaban atas apa yang terjadi sekarang dan yang akan terjadi di masa depan.

Terlalu naif untuk memahami hamba Allah yang satu ini, karena keberadaanya memang sangat tidak tersentuh oleh manusia, sehingga manusia lelah untuk terus menerus memikirkannya dan berhenti untuk mencoba mengubahnya. Manusia beralih untuk tidak memikirkan waktu kembali. Mereka lebih memilih untuk memikirkan apa yang bisa waktu lakukan untuk mereka, tanpa berfikir apa meraka bisa mengubah waktu.

Terkadang kita bingung mengapa hidup harus diukur dengan waktu, ada prasejarah dan sejarah, Ada waktu untuk hidup kemudian mati. Bahagia kemudian duka atau pun sebaliknya. Mengapa begitu? Apakah itu rahasia Allah, ataukah hanya suatu hal yang sebetulnya sangat mudah untuk difahami ?

Kita diberikan tugas berupa waktu untuk memanfaatkannya, dalam tugas itu ada deadline yang tidak diungkapkan kepada kita. Bukan karena Allah pelit, melainkan hanya hendak menguji siapa saja hamba-Nya yang bisa mengerjakan tugas sebaik-baik mungkin tanpa menatap deadlinenya. Cukuplah deadline yang sangat terjaga kerahasiaanya itu menjadi sebuah nasihat untuk kita, bahwa kita tidak mengetahui kapan deadline atau waktu akhir tugas kita di dunia itu, dan disaat kita diminta untuk mengumpulkan tugas itu, apakah kita siap dengan nilai yang Allah berikan kepada kita melalui koreksi waktu.

Waktu, suatu hal yang terkadang luput dari pandangan kita. Kita terkadang lupa dan selalu meremehkan akan keberadaannya, hingga saat nafas terakhir kita bertanya “Masihkah ada waktu untukku untuk menyelesaikan tugasku ?”. Malaikat pencabut nyawa menjawab, “Tidak, waktumu telah habis, tugasmu harus segera dikumpulkan”.