Redefinisi, dari Makna ke Praktek

MAKNA DAN FUNGSI REDEFINISI

“Makna Redefinisi adalah memikirkan kembali segala hal yang menurut kita sudah benar, ke arah yang lebih sesuai dengan semangat jaman dan cita-cita”

Akhir -akhir ini sering terdengar kata redefinisi di Iklan merek TV Sony yang menampilkan maksud redefinisi TV. Mengubah arti TV yang tadinya hanya media tontonan, menjadi Inernet TV yang juga menjadi media dengan penambahan feature internet. Maksud Iklan tersebut kurang tepat mengingat redefinisi sebetulnya hanya berlaku pada hal-hal yang maknanya saja berubah tetapi wujudnya sama. Maksud iklan tersebut adalah revolusi, karena perubahannya mencakup bentuk, fungsi, dan maknanya. Redefinisi  dimaknai sebagai memikirkan, mendefinisikan, mengartikan, memaknai, atau menafsirkan kembali pemahaman-pemahaman suatu hal yang telah ada, hingga memiliki arti yang lebih sesuai dengan kaidah waktu.

Redefinisi bukan hanya dalam penerapan ilmu pengetahuan yang sifatnya dinamis, berlaku pula pada penerapan agama dan norma-nilai yang selama ini kita anut. Segala yang ada di dunia ini bersifat tidak tetap secara definisi umum maupun pribadi. Segala sesuatu memang harus kita maknai esensinya, bukan hanya sekedar prakek saja. Sejalan dengan pemikiran filsafat untuk menggali  esensi dan ilmu pengetahuan untuk menguji kebenaran semua hal.

Saat ini makna redefinisi yang terpenting adalah penerapannya untuk mengubah mind-set kehidupan sehari-hari. Mulai dari prilaku, gaya hidup, kebiasaan, dan sudut pandang. Menjadi pemaknaan kembali yang lebih sesuai dengan konteks jaman selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup. Redefinisi kehidupan hanya bisa kita lakukan jika kita banyak menerima input dari luar dengan lebih banyak. Dengan kata lain, kita harus belajar tidak hanya dari yang ada di sekitar kita saja, kita harus belajar dengan menembus tembok dan sekat-sekat pemikiran sempit, dan membiarkannya melewati dimensi ruang dan waktu. Belajar dari masa lalu hingga masa kini, dan dari sekitar kita hingga ujung dunia. Sehingga kita bisa menemukan definisi-definisi lain.

REDEFINISI HIDUP, APA DASARNYA?

Semangat redefinisi memang sudah ada sejak zaman awal  filsafat yang mencoba membuka pemikiran terselubung manusia. Tetapi dalam kitab agama langit, redefinisi sudah ada sejak jaman Adam diciptakan. Buah yang konon menjadi sebab kesalahan Adam dan Hawa yang disebut buah terlarang/pengetahuan/Apel/Khuldi-lah yang membuat nenek moyang kita meredefinisikan tubuh vital mereka menjadi sesuatu yang sesuai dengan fungsi dan mungkin jaman atau waktunya.Hingga memang lebih tepat juga meredefinisikan nama buah yang dimakan Adam dan Hawa sebagai buah pengetahuan.

Sejarah tentang Adam dan Hawa tadi juga harus kita redefinisikan ke arah pemahaman yang lebih tepat. Tanpa Adam dan Hawa kita tidak mungkin hidup di bumi ini, jadi berterima kasih kepada Adam dan Hawa seharusnya menjadi kewajiban bagi semua penganut agama langit. Tanpanya, kita tidak akan pernah mengecap manisnya apel bumi.

Jika secara historis saja redefinisi memang sudah ada, apakah memang sifat dari redefinisi ini merupakan kehendak Tuhan bagi setiap manusia di bumi? Atau dalam konteks makna beragama, ini bisa jadi adalah Sunatullah yang berupa hikmah atau ilmu yang memang hanya bisa dipahami oleh orang yang mau berfikir. Karena makna redefinisi erat kaitannya dengan memikirkan kembali.

Coba kita meresapi ayat ini…
… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” QS.Ar Ra’d : 11

kata mengubah dalam ayat tersebut bisa kita maknai maksudnya menjadi “mengubah ke arah yang lebih tepat dan lebih baik” dari yang awalnya dianngap oleh “kaum” (orang kebanyakan) memang sudah benar. Jadi mungkinkah makna mengubah disini juga boleh diartikan untuk memikirkan kembali atau boleh jadi meredefinisi.

SEMANGAT REDEFINISI, AWAL DARI TINDAKAN DAN SOLUSI MASALAH

Redefinisi adalah hal yang paling awal yang harus menjadi bahan baku perubahan. Kita harus meredefinisi segala hal, ya, segala hal yang ada di sekitar kita menjadi definisi yang lebih tepat lagi. Jika kita mendefinisikan hidup adalah hidup a la orang kebanyakan, maka sudah tentu kita tidak akan bisa mengubah hidup lebih baik. Redefinisi hidup bisa jadi berbeda-beda, yang pastinya hidup harus diredefinisi ke arah yang lebih baik. Sesuai dengan idealisme atau cita-cita masing-masing orang.

Satu hal yang paling penting setelah memahami redefinisi adalah mengaplikasikannya sebagai solusi suatu masalah. Masalah sering didefinisikan sebagai hal yang merepotkan, akibat dari kesalahan, dan  harus dihindari. Padahal jika kita meredefinisikan masalah ke arah yang lebih tepat. Maka masalah bisa didefinisikan sebagai sebuah kunci untuk menjadi lebih maju, tantangan, atau bahkan anugrah. Sehingga setiap masalah akan dijalani dengan semangat dan tanpa kegelisahan. Groge Bernard Shaw pernah bilang

“Life is like beautiful melody, only the lyrics are messed up”.

Shaw telah meredefinisi makna masalah kehidupan memahaminya sebagai sesuatu yang seindah melodi lagu yang meskipun liriknya amat sangat buruk tetapi musiknya bagus. Sehingga bagi Shaw, esensi hidup bukanlah segala masalah sehari-hari yang meskipun itu tidak menyenangkan tetapi ritme yang ia pandang indah. Dan tentang kehidupan, mari  mengacu pada proverb ini:

“life is never been easy, but always full of fun”.

Bahwa hidup memang tidak pernah mudah, tetapi selalu menyenangkan. Sehingga boleh jadi seperti kata orang  bijak bahwa

“Life is by problem, if there is no problem, there is no life”

Kalimat tadi harus menjadi pegangan kita, untuk meredefinisi kehidupan yang sudah ada menjadi lebih baik dan tepat, meskipun banyak tantangannya.

Jadi, mari kita meredefinisikan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, mulai dari yang paling penting seperti definisi “kehidupan” hingga yang berupa pemahaman-pemahaman seperti definisi “masalah”.

SEMANGAT PERUBAHAN!

Mencari Sebuah Nama

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

KehendakMu meliputi segala sesuatu

Tiada daya dan upaya

Selain kehendakMu

 

Engkau segala dari segala raya

Engkau sumber dari segala sumber

Engkau akhir dari segala yang tak pernah berakhir

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

Padamu aku memuji

Segala Nama dan Puji

Segala Sifat hakiki

Segala Kehendak

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

PadaMu cinta tiada sirna

Pedih duka tiada kurasa

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

Kuasamu meliputi segala

FirmanMu berat kurasa

Bahasamu bahasa Kuasa

tiada kuasa aku mendengarnya

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Sendiri aku mencari jawabnya,

Dalam riuh dunia

Dalam hening hati

Dalam Firman Abadi

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Tiada henti hingga Aku kembali

Meluruskan Pikiran

“...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS.Ar Ra’d : 11)

Kita tidak boleh berfikir pesimis. Segala sesuatu hanyalah imajinasi visual kehidupan, atau fatamorgana, atau bayang-bayang yang semu dan maya saja. Yang paling penting adalah menyikapi segala hal dengan pikiran lurus, tetap optimis dengan diri kita sendiri. Dengan tetap Iman kepaa Allah. Kita tidak boleh menyerah dan takut dengan kehidupan, tetap semangat dan smile up dalam menghadapi masalah. Yakinlah bahwa segala sesuatu adalah ketetapan Allah yang terbaik bagi kita semua, apapun itu…

James Allen pernah bilang.” Segala sesuatu yang dilakukan seseorang adalah reasi langsung dari apa yang ada dipikirannya. Seseorang bisa bangkit dengan kdua kakinya dan beraktivitas. Hal itu karena faktor pikirannya. Begitu pula seseorang bisa sakit atau sembuh, itu karena faktor pikirannya.”

Jadi, sebetulnya pikiran hanyalah kumpulan syaraf-syaraf yang mengekspreikan diri kita, kita bisa menipu pikiran kita. Sebagai contoh, tersenyumlah ketika kita sedang bersedih, disana akan ada suatu keajaiban dan kedamaan yang nyata tentang kehidupan. Bahwa kehidupan itu tidak selalu mulus dilalui. Bila kita terbiasa, niscaya segala permasalahan akan mudah dihadapi. Ha Ha Ha…

Ada kisah tentang Ibnu Taimiyah yang berhasil mencapai kedamaian tingkat tinggi…
“Apa yang dilakukan oleh musush-musuhku? Tamanku dan surgaku berada dalam dadaku. Membunuhku sama halnya dengan mati syahid. Mengasingkanku sama halnya dengan bertamasya, dan memenjarakanku sama halnya berkhalawat ( Menyendiri dari kedamaian untuk mendekatkan diri kepada Allah).”

Patut di contoh kan…. kedamain letaknya di hati kita, meskipun uang kita berlimpah, mobil mewah, seribu rumah, berhektar sawah, kalai hati gundah, adanya cuma susah… Iya kah?

“Setiap satu menit kemarahan kita, kita telah menghabiskan 60 detik kebahagiaan.”
“Life is never been easy, but always full of fun.”

Waktu

Waktu masih berlalu, menyisakan memori tentang suka, duka, keingintahuan, rindu, bahkan kebencian. Terkadang kita sendiri begitu bingung degan makhluk Tuhan yang bernama waktu ini. Terkadang kita merindukan, terkadang aku juga amat membenci keberadaanya. Namun mengapa “Waktuka Hayatuka”( waktumu adalah hidupmu). Mungkin karena saksi abadi yang selalu lekat dengan perjalanan hidup kita selalu direkam oleh waktu. Rekaman ini yang nanti akan dibeberkan pada saat manusia diadili disisi Allah.

Waktu terkadang membuat kita merasa takut, karena waktu adalah sebuah pedang, yang suatu saat akan menibas kita secara beralahan-lahan, nanti atau dikemudian hari. Pedang itu sangat tajam, pedang yang akan bertambah tajam jika kita tidak segera menghargai waktu secepat mungkin. Jadi, tidak menghargai waktu diibaratkan seperti seseorang yang mengasah pedang untuk lehernya sediri.

Mungkin waktu adalah salah satu hamba Allah yang paling setia . Karena waktu tak pernah dusta kepada siapa saja. Waktu selalu mengungkapkan fakta. Waktu selalu memberi kita jawaban jika kita bertanya. Waktu selalu memberi jawaban atas apa yang terjadi sekarang dan yang akan terjadi di masa depan.

Terlalu naif untuk memahami hamba Allah yang satu ini, karena keberadaanya memang sangat tidak tersentuh oleh manusia, sehingga manusia lelah untuk terus menerus memikirkannya dan berhenti untuk mencoba mengubahnya. Manusia beralih untuk tidak memikirkan waktu kembali. Mereka lebih memilih untuk memikirkan apa yang bisa waktu lakukan untuk mereka, tanpa berfikir apa meraka bisa mengubah waktu.

Terkadang kita bingung mengapa hidup harus diukur dengan waktu, ada prasejarah dan sejarah, Ada waktu untuk hidup kemudian mati. Bahagia kemudian duka atau pun sebaliknya. Mengapa begitu? Apakah itu rahasia Allah, ataukah hanya suatu hal yang sebetulnya sangat mudah untuk difahami ?

Kita diberikan tugas berupa waktu untuk memanfaatkannya, dalam tugas itu ada deadline yang tidak diungkapkan kepada kita. Bukan karena Allah pelit, melainkan hanya hendak menguji siapa saja hamba-Nya yang bisa mengerjakan tugas sebaik-baik mungkin tanpa menatap deadlinenya. Cukuplah deadline yang sangat terjaga kerahasiaanya itu menjadi sebuah nasihat untuk kita, bahwa kita tidak mengetahui kapan deadline atau waktu akhir tugas kita di dunia itu, dan disaat kita diminta untuk mengumpulkan tugas itu, apakah kita siap dengan nilai yang Allah berikan kepada kita melalui koreksi waktu.

Waktu, suatu hal yang terkadang luput dari pandangan kita. Kita terkadang lupa dan selalu meremehkan akan keberadaannya, hingga saat nafas terakhir kita bertanya “Masihkah ada waktu untukku untuk menyelesaikan tugasku ?”. Malaikat pencabut nyawa menjawab, “Tidak, waktumu telah habis, tugasmu harus segera dikumpulkan”.