Abadi

Abadi
Abadi

Di tahun 2200 sekelompok peneliti yang rata-rata berusia lebih dari seabad, memprakarsai riset untuk menghidupkan kembali orang mati. Pertanyaan etisnya, siapakah si beruntung yang akan pertama kali mereka hidupkan kembali? Dalam pengambilan suara yang terbuka bagi masyarakat antar-planet, kita sepakat untuk menghidupkan kembali sang bapak Ilmu pengetahuan, Einstein. Selisih suara sedikit dengan Tesla meskipun juga mengalahkan suara-suara mayoritas lain seperti Muhammad, Gandhi, Obama bahkan Gal Gadot.

Continue reading “Abadi”

Beriman Pada Teori Evolusi & Kreasi

Fosil Manusia Purba
Fosil Tulang Tengkorak Kepala Manusia Purbakala Koleksi Museum Geologi Bandung

Dari mana asal manusia? Dari tanah bumi atau alien dari langit? Berkat ilmu genetika yang mempelajari pewarisan sifat dari satu makhluk ke makhluk lain, kini ilmuwan sedikit punya bukti bahwa manusia sejatinya adalah makhluk hybrid. Perpaduan manusia cerdas atau homo sapiens dan manusia evolusi purbakala.

Continue reading “Beriman Pada Teori Evolusi & Kreasi”

Kecerdasan Buatan Siap Menguasai Dunia

Juli 2017 menjadi hal yang mengerikan bagi pengembang di Facebook AI Research Lab (FAIR) di Lembah Silikon, Amerika Serikat. Mereka terpaksa mematikan teknologi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) yang mereka kembangkan setelah menyadari bahwa AI berkomunikasi dengan sesamanya melalui bahasa yang belum diketahui. Ini menandai era dimana kecerdasan buatan berbasis machine learning sudah mampu berkembang melebihi yang kita harapkan.

FAIR telah mengembangkan Chatbox atau ruang diskusi yang berisi percakapan antara dua AI yang diberi nama Bob dan Alice. Belakangan AI yang mereka kembangkan justru membuat percakapan aneh dengan suatu bahasa yang dikembangakan tanpa bantuan manusia. AI buatan Facebook ini diduga mampu mengembangkan bahasa yang hanya diketahui oleh mereka sendiri. Karena pengembang FAIR belum mampu mengenkripsi atau menemukan kunci bahasa AI tadi, mereka segera mengambil langkah serius untuk mematikannya.

Kecerdasan Buatan Semakin Cerdas

Kecerdasan Buatan nampaknya menjadi salah satu perkembangan teknologi yang menjanjikan di masa depan. Larry Page, Bill Gates, Elon Musk juga Mark Zuckenberg telah urun uang untuk mengembangkan teknologi berbasis machine learning ini. Bahkan saat ini DeepMind dianggap sebagai AI terpintar yang paling maju perkembangannya. DeepMind punya setidaknya 15 Exabita data yang siap dipelajari dari mesin pencari pintar keluarga mereka, Google.

Kecerdasan buatan dikembangkan untuk membantu perangkat-perangkat digital era internet menganalisa dan menyelesaikan masalah. Kecerdasan buatan adalah bagian dari konsep machine learning dimana serangkaian kode yang dikembangkan mampu membaca sekaligus menafsirkan data-data yang ada saat ini. Lebih lanjut, kecerdasan buatan diharapkan mampu menyelesaikan pekerjaan yang kini dilakukan manusia dengan lebih efektif dan efisien.

Dalam aplikasinya, kecerdasan buatan tak melulu soal robot-robot fisik. Aplikasi asistensi seperti Cortana milik Microsoft dan Siri milik Apple merupakan bagian dari konsep kecerdasan buatan. Mereka mampu membaca data terbuka bahkan data-data pribadi kita. Aplikasi asistensi tadi membaca data kebiasaan penggunanya yang digunakan untuk mencari solusi berbagai masalah yang dihadapi. Berbagai topik mulai dari cuaca, transportasi, berita terbaru hingga rekomendasi transaksi saham sebetulnya sudah mulai menggunakan konsep kecerdasan buatan ini tanpa kita sadari.

Dalam film Her diceritakan bahwa aplikasi asistensi di masa depan dianggap tak hanya membantu kehidupan sehari-hari, namun telah berevolusi menjadi teman untuk berkomunikasi.

Etika Kecerdasan Buatan

Sebelum kasus AI yang menimpa Facebook, hal serupa juga pernah menimpa Microsoft. Akun Twitter Tay di @TayAndYou, merupakan akun bot twitter AI milik Microsoft yang tak hanya mampu membaca data melimpah di Twitter, namun juga melakukan komunikasi dua arah dengan pengguna twitter manusia lainnya. Tahun 2016, Tay terpaksa dihentikan oleh Microsoft karena melakukan chat menyimpang dari berbagai macam topik mulai Hitler, atheisme, feminisme dan rasisme yang dianggap sangat sensitif.


Padahal filosofi dari @TayAndYou sebetulnya sederhana, dia belajar dari data-data yang melimpah di Twitter. Pertanyaannya justru berbalik pada kita, apakah data twitter yang diambil dari percakapan manusia pada dasarnya memang berisi hal-hal yang juga menyimpang? Apakah Tay salah belajar pada manusia? Sayangnya Tay masih belajar dengan data mentah dan belum bisa memahami konsep etika penuh tafsir dari manusia. Kini akun @TayAndYou masih aktif dan terproteksi sekalipun tidak lagi mengunggah percakapan.

Bahaya Artificial Intelligent

Ketidakhumanisan kecerdasan buatan milik Facebook dan ciutan sensitif akun @TayAndYou dianggap bukti kuat bagaimana AI berpotensi berkembang ke arah yang kurang baik. Sebelumnya Elon Musk sudah melempar isu jika kelak kecerdasan buatan akan menguasai dunia dan mampu mengambil alih pekerjaan manusia di dunia ini.

Vanity Fair melaporkan bahwa tujuan Musk mengembangkan teknologi transportasi antar planet merupakan bagian dari kecemasan dia akan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan di masa depan. Ini diungkap dalam perbincangan Elon Musk dan pendiri DeepMind, Demis Hassabis di tahun 2014. Kepada Hassabis, Elon mengungkapkan bahwa AI berpotensi melakukan tindakan diluar kontrol yang berpotensi mengakibatkan kepunahan pada manusia di masa depan.

Kecemasan Elon Musk akan potensi negatif AI di masa depan sedikit terbuktikan dengan kasus AI di Facebook ini. Namun ini justru bukanlah akhir dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Karena bagaimanapun masih banyak yang bisa dikembangan di era Internet of Things (IoT) ke depan. Mobil swakemudi Tesla milik Elon Musk sendiri pun tak bisa lepas dari konsep aplikatif kecerdasan buatan.

Mari kita bayangkan era masa depan dimana super komputer telah bersimbiosa dengan kecerdasan buatan. Apakah mungkin ada android secantik Alicia Vikander yang secara cerdik mampu memanipulasi manusia demi keinginan menjadi seperti “manusia”?

 

Bacaan Lanjut
Ada banyak kemungkinan kecerdasan buatan secara signifikan memengaruhi manusia. Ini pekerjaan rumah kita bersama, apakah kita mampu bersantai setelah segala sesuatu kelak dikerjakan oleh mesin? Jika mesin mencuri pekerjaan manusia maka darimana manusia kelak mencari penghasilan uang? Universal Basic Income dianggap solusi tepat di masa depan.

Akankah Manusia Super Segera Diciptakan?

Sekelompok peneliti di Oregon, Amerika serikat mengklaim telah berhasil melakukan rekayasa DNA embrio manusia dengan teknik CRISPR. Akankah ini menandakan babak baru lahirnya manusia super? manusia yang diklaim sebagai setengah dewa ke dunia ini.

Perdebatan Rekayasa Genetika

Metode rekayasa DNA telah efektif dilakukan menggunakan teknik CRISPR yang belum lama ini ditemukan. Masih terdapat banyak perdebatan apakah teknik ini etis untuk digunakan pada manusia. Mengingat rekyasa genetika pada hewan dan tumbuhan masih menuai berbagai kontroversi di penjuru dunia.

Kita mengenal rekayasa genetika dengan banyak cerita. Makanan seperti jagung yang kita konsumsi saat ini kemungkinan besar telah melalui tahapan rekayasa genetika. Jagung yang telah dimodifikasi genetikanya dibuat menjadi lebih manis, berbiji besar dan tahan terhadap perubahan iklim juga hama. Produk tumbuhan dan hewan rekayasa genetika ini tentunya sangat menguntungkan untuk skala industri besar.

Namun, sebagian kelompok masyarakat menentang rekayasa genetika ini. Pendapatnya didasarkan bahwa belum adanya penelitian jangka panjang apakah produk-produk rekayasa genetika ini baik bagi manusia dan lingkungan sekitar. Pendapat yang lebih konservatif mengklaim bahwa produk rekayasa genetika adalah contoh nyata manusia melawan hukum alam atau bahkan Tuhan.

Okja merupakan film tentang babi super hasil rekayasa genetika.

CRISPR

Selangkah lebih maju, kini sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Shoukhrat Mitalipov dari Oregon Health and Science University mengumumkan keberhasilannya dalam melakukan koreksi genetika pada embrio manusia. Mereka mengklaim berhasil menghapus DNA yang diduga membawa penyakit jantung pada manusia menggunakan teknik yang sering disebut sebagai “gunting molekuler” ini.

Dalam keterangan yang diberikan kepada MIT, setidaknya ada dua poin keberhasilan yang telah memecahkan rekor baru. Pertama bahwa mereka adalah yang pertama melakukan teknik CRISPR ini pada embrio manusia. Sementara yang kedua adalah secara tidak langsung mereka telah mampu secara aman dan efektif melakukan koreksi pada gen manusia yang menyebabkan penyakit bawaan.

CRISPR merupakan teknik baru rekaya genetika yang diklaim paling aman juga dengan tingkat keakuratan tinggi. CRISPR mampu melakukan editing DNA seperti halnya kita melakukan cut, copy dan paste dalam suatu file tanpa merusak keberadaan DNA lainnya. Singkatnya, kita bisa menghapus DNA yang merugikan atau menambah DNA baru pada suatu susunan DNA organisme hidup.

Keberhasilan ini tentunya membuat tanda tanya besar, apakah manusia kini mampu menciptakan generasi setengah dewa yang tahan penyakit dan mampu hidup lebih lama? Untungnya saat ini para ilmuwan di AS tadi belum diperbolehkan untuk mengembangkan embrio hingga menjadi janin manusia. Kongres Amerika masih melarang uji coba pengembangan embrio manusia menjadi janin atau bahkan menjadi bayi manusia.

Setidaknya dalam uji coba ini berhasil diketahui bahwa rekayasa genetika menggunakan teknik CRISPR pada manusia sejatinya bisa dilakukan. Harapan untuk mengurangi tumbuhnya penyakit turunan seperti HIV, kanker, diabetes bahkan pengganti antibiotik sudah jelas di depan mata.