Per te

Kubuka sebuah kardus di gudang bawah rumahku, di dalamnya ada beberapa karya ilmiah dan sastra, serta kumpulan tesisku sewaktu di Indonesia yang belum sempat kupublikasikan. Tak sengaja terbaca olehku sebuah surat yang berisi sepenggal puisi , kembali kubaca dengan seksama penggalan puisi itu. Puisi tanpa judul itu malah mengingatkanku pada suatu mozaik di masa lalu yang sangat kusam, kiranya di buat oleh seseorang yang sempat membahagiakanku. Aku tersenyum rindu padanya, kini aku rindu sebagai sahabat, bukan yang terkasihnya lagi, pikirku.

“Kita ingin mencinta dan bersama

Namun tak bisa meskipun kita sama

Dan jika meskipun adalah karena

Maka kita tak bisa menentangnya

Karena takdir pisahkan kita

Selain kita,

Hanya Tuhanlah yang tahu”

XXX

Senja itu, dengan senyumnya yang khas dia datang lalu memeluk diriku yang masih merasakan rasa sakit di bagian pipi kiri, dia datang setelah ku kirimkan sebuah SMS padanya, karena hanya dialah yang bisa menyembuhkan luka dan sedihku selama ini, hanya dialah yang bisa menghidupkanku dari kematian dan keputus asaan ini. Hanya dengan datangnya dia, malakiat pencabut nyawa mungkin tak jadi mengambil ruhku yang telah merana ini.

“Kapankah kita bertemu pertama kali?” suaranya memecah suasana hening kamarku, dia berkata dengan nada serius sambil menyentuh luka di pipi kiriku dan mengoleskan sedikit obat merah.

“Saat aku memang mengharapkan dirimu hadir.” Seruku lirih padanya.

“Jadi, Tuhan kabulkan doamu.”

“Huh, ataukah setan yang memberi kesempatan ini?” tanyaku dengan nada tinggi.

“Mungkinkah?” jawabnya kembali bertanya padaku,“luakmu tak begitu parah, istirahatlah, matamu sayu, kau perlu tidur!”

“Maaf, Karena Tuhan tak mungkin berada dalam pihak kita.” Jawabku sambil tertunduk lesu, takut-takut melukai perasaanya, namun aku tak menghiraukan kata-katanya yang terakhir, tentang lukaku. Karena aku memang sudah tak peduli dengan lukaku ini, hanya dialah yang kukira masih peduli dengan luka yang terlalu sering hinggap di tubuhku ini. Lalu mengapa ku SMS dia, ah entahlah…

Selesai mengobatiku, dia duduk di sebuah kursi dekat jendela kamarku, memandang keluar jendela lalu mulai memetik gitarku dan menyanyikan sebuah lagu barat yang entah milik siapa, suaranya yang merdu terasa romantis di kamarku ini. Kupikir itu sebuah lagu Amerika latin yang sulit dihafal. Suaranya yang serak nan lembut membuatku sejenak merasa kedamaian hadir dalam hatiku. Lalu aku berbaring, mataku terasa berat dan sayup-sayup aku mendengar suara altonya yang merdu. Aku teringat Papah, lalu teringat luka di pipi kiriku, lalu aku pun tertidur.

Aku bangun dari tidur saat jam di dinding telah menunjukkan pukul 7.00 malam. Aku turun dari kamar, kudapati rumahku sudah tertutup, pintu, jendela, dan gordennya sudah ditutup. Lampu-lampu sudah dinyalakan, dalam benakku aku selalu berterima kasih padanya, atas segala bantuan, kasih, juga cinta tulusnya padaku. Dia begitu perhatian padaku, luka-lukaku selalu ia sembuhkan, dia selalu menghiburku saat aku sedih meratapi nasib, segala kebutuhanku ia yang cukupi, bahkan sekolah pun terkadang dia yang mencukupi. Entah dengan apa aku kan membalas budi baiknya, karena hanya dengan cintaku ini aku bisa membalasnya, itu pun hanya separuh hati, tak kan lebih.

Adzan Isya melantun lembut, segera aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya secara bersamaan. Menjamak Shalat memang kadang aku lakukan, mungkin karena aku itu pemalas, tapi kupikir ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Selesai Menjamak takhir Maghrib dan Isya, seperti biasa, setelah Shalat aku selalu berdoa pada Allah, aku memohon untuk kedua orang tuaku yang terpisah, untuk masa depanku yang aku risaukan, untuk kedamaaian hidup yang aku inginkan, untuk adikku yang aku rindukan, untuk dia yang mengasihiku, dan yang terakhir aku mohon ampun akan segala dosa-dosaku yang tak terampuni, mohon hidayah, dan agar aku tetap berada di jalan yang lurus, jalan yang diridhai, dan agar aku selalu ingat padaNya.

Aku berdoa tidak dengan bahasa Arab, hanya dalam bacaan Shalat. Dzikir, dan beberapa doa untuk orang tua dan kaum muslim dan muslimatlah aku berbahasa Arab. Untuk doa keluh kesahku, aku mengunakan bahasa Indonesia. Sehingga, ketika berdoa aku akan sangat lama, seolah-olah aku sedang berbincang-bincang dengan Allah secara langsung. Biasanya selesai Shalat aku, aku berdoa hingga 10an menit lamanya, namun jika aku sedang ada masalah, aku akan berdoa lebih lama sekali, aku akan berdzikir dan berdzikir, menyebut Asma Allah Yang Agung berulang-ulang baik dengan lisan maupun dalam hati.

Tepat selesai berdoa, Palm ku berdering mengalunkan lagu Star Light-nya Muse, tepat pukul 8.00 aku diingatkan untuk mengerjakan beberapa PR dari sekolah. Memang, aku sudah terbiasa mengatur alarm PDA untuk mengingatkanku beberapa hal yang penting, sepeti Shalat, mengerjakan PR, dan kegiatan-kegiatan lain. Namun, entah kenapa aku tadi tak mendengar Lantunan Adzan dari Masjid atau pun dari PDA, mungkin aku terlalu terlelap dalam tidur. Dan aku yakin, malam ini aku pasti terserang Insomnia, tak bisa tidur karena sorenya tidur terlalu lama.

Kubereskan perlengkapan Shalatku sambil mendengarkan lantunan alarm yang asyik, sengaja tak kumatikan karena lagunya memang merdu. “Star light… na na na na na….” aku lupa liriknya.

Kemudian aku mengerjakn PR yang tak terlalu banyak, Sastra Inggris dan Matematika yang tak terlalu sulit, hanya 20an menit saja. Setelah itu aku mencoba berbaring, Aku teringat akan adikku, Jasmine yang tinggaldengan Mamah di Bekasi. Kukirimkan sebuah SMS singkat padanya, ternyata dia juga belum tidur.

“Sdh tdr blm?”

“lom, np?”

“Kgen aja, kbr adk n ma2h gmn?”

“baek2 kuk”

“senin kk mo tanding lg, dtg ya!”

“ok, psti qt dtg ko”

“Ma2 diajk loh! dah y, met bo2, night!”

“yup, night”

Andai tiap hari aku bisa bertemu dengannya, namun inilah kehidupan yang kadang tak sempurna. Aku ingat kata-kata Mamah ‘Kesempurnaan terkadang lahir justru ketika manusia itu sendiri tidak sempurna’, katanya sambil membuka-buka majalah Fashion Weekly. Masih terngiang kata-kata Mamah itu, aku jadi sangat merindukannya. Sejak sepekan yang lalu aku memang tak berjumpa lagi dengannya. Aku ingin mengirim sebuah SMS selamat malam padanya. Tetapi…

Ah, biarkan saja, aku memang terkadang malas untuk menyapanya. Dulu, aku sangat sering mengirimkan ucapan selamat malam padanya meskipun tak pernah dibalas olehnya. Hingga aku jadi malas untuk buang-buang pulsa, untuk sesuatu yang tidak berguna, Jashmine pun kadang juga begitu. Dia jarang call atau bahkan SMS padaku. Kalau bukan aku yang SMS duluan. Mungkin watak Mamah memang sedikit menular padanya. Anak cewek yang innocence.

Aku merasa belum mengantuk, kuganti baju dengan Piyama lalu turun untuk membuat secangkir Java’s Tea, Tea kesukaan Papah yang tak pernah absen dari lemari dapur. Kupanaskan air dan kuracik sesendok kecil Java’s Tea dengan sesendok besar gula pasir. Lalu kudengar bunyi mobil menderu di halaman rumah. Aku yakin, itu mobil Papah yang baru pulang dari kantor.

Papah masuk rumah, dan langsung menuju dapur tempatku meracik tea, kusapa dia dengan penuh keikhlasan.

“Malam, Pah.” Sapaku dengan nada rendah seolah-olah sore tadi tak pernah terjadi apapun. “Mau Tea? Masih hangat, baru aku seduh.” Mencoba berbasa-basi.

Dia hanya menganguk dan mengambil secangkir Tea-ku yang baru aku buat.

“Buatkan aku satu lagi!” perintahnya sambil lalu, kemudian menuju ruang tamu.

Aku mengangguk, dan dengan sedikit kesal kubuat dua cangkir Tea lagi, satu untuknya dan satu untukku tentunya. Kusiapkan nampan lalu kuantar secangkir Tea ke depan, dan alangkah terkejutnya aku. Ada seorang wanita yang duduk bersanding dengan Papah. Wanita itu cantik dan muda, aku yakin, dia juga salah satu model Agency Papah. Wajah dan tubuhnya nampak asing untukku, kupikir dia adalah wanita Indo alias peranakan, yang pasti direkrut oleh Papah untuk jadi model baru. Kuhilangkan segala prasangka dalam benakku, kusuguhkan Tea padanya.

“Tea, Kak.” Sapaku.

“Siapa dia?” Tanya wanita itu pada Papah dengan nada heran. “Kau..”

“Dia, anakku, tahu kan? Roselean?.” Kata Papah menyela bicaranya dan menyebut nama Mamah.

“Oh, I think he life with his Mom, Hmm, Nice Guy.” Katanya sambil memandangku dengan pandangan menjijikkan.“Not like you Al, ha ha ha!” tawanya sendiri mengila.

Aku segera pergi ke atas menuju kamarku, aku tak tahu pembicaraan selanjutnya yang masih terdengar samar-samar. Yang kuingginkan hanya pergi dari ruang itu, untuk tak lagi mendengar kegilaan hidup. Aku berbaring dan menatap langit-langit kamar.

“Papah, tentu dia sudah lupa dengan Mamah!” Kataku lirih.”Tentu kesempatan untuk bersama sudah pupus, Papah tak akan pernah memaafkan kelakuan Mamah sampai kapanpun. Meskipun aku juga, aku masih mencoba berusaha mencari sela-sela kemungkinan untuk mereka bersatu kembali, aku menyerah, sudah habis kesempatanku untuk mereka.

Hidup-hidup, mengapakah kau serumit ini, Oh Allah…” seruku lirih.

Aku seperti ingin pergi dari sini, ingin berlari jauh dari dunia yang tak lagi pantas disebut sebagai dunia ini. Namun, aku tak ada daya, aku hanya lelaki kecil lemah yang selalu mencoba hal yang terbaik, meskipun sangat tak bisa aku melakukannya. Suara gelak tawa wanita itu terdengar hingga kamarku, kututup telinga dan mataku dengan bantal, aku mencoba untuk tidur dan melupakan semua, dan aku berhasil, aku tertidur pulas malam ini.

Subuh aku bangun untuk Shalat, saat melewati kamar Papah, kulihat kamarnya masih terkunci, mereka masih tertidur pulas pikirku. Aku Shalat Subuh tak terlalu lama, karena kurasa perutku melilit, aku merasa kelaparan karena semalam lupa makan. Akhirnya kuputuskan makan beberapa roti tawar di meja makan dengan lahap.

Kubuka Kulkas untuk mengambil air minum, dan kudapati Java’s Tea-ku yang kubuat semalam berada disana. Hmm, Papah, bagaimanapun kau tetap menyayangiku, meskipun dengan caranya sendiri. Aku tersenyum kecil…

Kuteruskan pagiku dengan jogging di sekitar komplek rumahku. Dari kejauhan kulihat sebuah Jaguar berhenti di depan rumahnya, kemudian menurunkan sesosok wanita cantik yang berpenampilan kacau. Dia pasti baru pulang dari Clubbing, setan wanita, bitch, tapi aku sapa juga dia ketika kumelewatinya.

“Pagi, Tante.” Sapaku mencoba beramah tamah.

“Oh, Boy, ganteng bener kau, pagi-pagi sudah berolahraga, pantas badanmu kekar seperti itu.” Katanya tersenyum nakal sambil membuka gerbang rumahnya. Artis murahan ini pasti masih terpengaruh alcohol, pikirku, kubiarkan kata-katanya meluncur tanpa ku jawab. Aku lihat sekeliling rumahnya, dan nampaknya dia masih tidur dengan kesendiriannya.

“Boy?” tanyanya padaku memperjelas.

“Ya, tante biar aku bisa berpikir normal.” Kataku sambil lalu, dan aku tak lihat ekspresi tante girang itu selanjutnya, karena aku terus melanjutkan jogingku.

XXX

Aku mencoba lagi menyatukan potongan-potongan peristiwa yang mungkin masih kuingat. Tentang kehidupan masa laluku yang sangat sulit di tanah air. Namun, memang antara ingin dan tak ingin aku mulai menghapusnya berlahan-lahan. Aku tak mau lagi mengingatnya, karena sungguh pedih untuk dikenang. Pikiranku buyar saat Stephanie memangilku dari atas.

“Daddy, are you there?” teriaknya di pintu gudang.

“Ya, honey, what’s going on?”

“Jasmine waits you on phone, Dad.”

“Your aunt, Jashmine?”

“Yes, I think!”

“Ya, wait a min!”

Segera ku bergegas ke atas dan kuangkat telepon dari Jashmine di Malaysia.

“Assalamu’alaikum, Jashmine?” sapaku.

“Wa’alaikum salam, ya ini aku Bang.”

“Ada apa tumben telephone?”

“Aku hanya mengabarkan padamu, jika tadi di infotaiment sini ada kabar kalau Dr.Sam, kau tahu?”

“Ya, Dr.Sam,” jantungku berdetak kencang mendengar namanya. “Ada apa?”

“Malam tadi beliau pulang ke Rahmatullah Bang. Berita itu juga ada di Malaysia, kau tahu kan, istrinya nan cantik itu orang Malaysia sini. Dan kupikir kau mau mengetahuinya? Dia kan akrab denganmu..”

Sejenak aku tak berucap apa-apa, aku memandang keluar jendela rumahku. Disana ada Jessica dan Stephanie. Dengan pakaian pantai, mereka bermandikan cahaya musim panas di halaman.

“Bang , kau masih di sana?” Tanya Jashmine.

“Oh, ya Jashmine, I am going to call you letter.”

“Ah, iya, Wasalamu’alaikum ya Bang.”

“Thank’s ya Jas, Wa’alaikumsalam.”

Kututup telepon dari Jashmine dengan sebuah perasaan yang tak mudah di ungkapkan.Kuputuskan untuk keluar menuju halaman dan bergabung dengan anak dan istriku untuk mandi cahaya. Kubuka bajuku dan saat itu Jessica bertanya padaku.

“Jashmine? is not Ied Mubarok, And?” tanyanya sedikit heran.

“Nope, Ied mubarok still three mounts again, she just say hello to me and you all.”

“Oh, not like ordinary days.”

“Humm…” kataku sambil tidur di samping Jessica.

Summer di California memang menyenangkan, tak akan kupikirkan lagi masa-masa lalu itu. Seperti artis-artis Indonesia yang bilang ‘hidup bagai air yang terus mengalir’. Aku tersenyum sendiri mengingat polah artis Indonesia di zamanku dulu. Hingga aku tak sadar jika Jess menatapku.

“And?” tanyanya dengan sedikit curiga.

“Nothing, Jess.” Kataku sambil mencium bibir manisnya. Lama sekali kucium bibir Jess, karena memang tak akan pernah puas aku mencium bibir wanita Columbia

ini. Lalu ciumanku berhenti saat Stephanie menyalakan radionya, dan radio itu menyanyikan sebuah tembang yang aku ingat.

“Per’te, per te vivro

L’amore vincera

Con’te, con’te avero

Mille giorni di felcita

…” *

Aku merinding mendengarkan lagu Amerika Latin itu, seolah dia sedang ada di sini sekarang. Memandang diriku dengan anak dan istriku, dan hampir aku bisa merasakan kesendiriannya di alam sana.

“Inna’ilaihi Wa Inna Ilaihi Raji’un.” seruku lirih.

“Dad, who die?” Tanya Jessy dan Stephy bersamaan.

*Per te (separate)

Marco Marinageli song.

Gadis

Langkahnya dipercepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi. Dia menyusuri sepanjang Jalan Nestville dengan terburu-buru. Dia sedang menuju ke ujung pertigaan Jalan Nestville yang letaknya masih jauh terlihat di depan, disana sesorang telah menunggunya untuk berjumpa. Dia melihat ke arah barat, matahari mulai kembali ke peraduannya. Sebuah senyum mengambang di bibir seksinya.

Saat pertigaan Nestville tampak jelas di depan matanya, dia tersenyum. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, karena dia terlihat bahagia sekaligus misterius. Padahal kekasihnya yang sedang menunggunya di seberang jalan itu terlihat bermuka masam.

Sekelompok preman dan pengamen jalanan bergerombol di sudut perempatan jalan. Salah seorang diantaranya adalah kekasih si gadis tadi, kekasihnya pun seorang preman. Kekasih yang baru dikenal sebulan itu memiliki badan gagah, tegap, dan bermuka tampan, namun preman tetaplah preman. Dengan dandanannya yang kumal dan tidak sedap dipandang mata itu. Sungguh sangat beruntung jika salah satu wanitanya adalah seorang gadis kelas 1 SMA, anak seorang pekerja tambang di Neoport.

Saat melihat kedatangan gadisnya, perasaan preman itu sangat campur aduk. Dia sangat marah karena sudah lebih dari seperempat jam dia telah menunggu di seberang jalan itu. Dan dengan muka yang cemberut ala preman, dia menyebrangi Jalan Nestville. Dia menyabrang tanpa memperhatikan jalan yang ramai. Sampai-sampai hampir saja dia tertabrak sebuah Baleno hitam yang melintas di pertigaan jalan dengan ngebut.

“Setan, punya mata ngak sih!” teriak pengemudi mobil itu ketika tepat merem mobilnya di depan tubuh si preman.

“Fuck!!!” jawab si preman tanpa ada rasa bersalah sambil mengacungkan jari tengahnya.

Si gadis yang melihat kekasihnya yang hampir tertabrak itu menjerit. Dia menjerit aneh, entah apa yang ia jeritkan. Karena saat dia sudah tersadar dari suatu hal yang lewat tadi. Kekasihnya sudah sampai di hadapannya. Bau alchohol bercampur rokok menusuk hidung gadis itu. Sebetulnya itulah yang amat dia sukai. Karena menurutnya, lelaki yang gagah itu ya seperti itu, suka minum-minum, merokok dan main… Yang itu dia paling membencinya.

Si Gadis langsung menciumnya dan tersenyum, dan bagai panas di musim kemarau yang diguyur gerimis. Kemarahan preman pun seolah-olah mereda dengan sendirinya. Gadis itu sangat pandai merayu, hanya dengan sebuah ciuman saja, seorang lelaki yang sangat ditakuti di Wall Nest takluk padanya.

“Kenapa kau terlambat?” Tanya si preman dengan nada tinggi.
“Ummm… Baby, sorry, lama yah? Aku tadi kesiangan, di sekolah banyak PR.” Rayu si gadis.
“Ya udah, sabtu depan kalau ga mau pulang malam. Pulang sekolah langsung kesini! Ga usah sliweran lagi”

“tenang Baby, besok khan minggu.” Jawab gadis sambil menggandeng si preman berjalan menuju ke utara.
“tunggu!” sela si preman.
“Apa bab?” Tanya si gadis.
Si preman melirik dan berkata “Apa kau lupa?”
“Oh iya.” Gadis itu ingat sesuatu. “Ini Baby.” Kata gadis itu sambil mengeluarkan sebungkus rokok Marlioboro dari tas punggungnya. “Dan aku juga bawa ini,” katanya sambil memperlihatkan sebotol Jack Daniel.

Kemudian mereka berdua berjalan ke utara menuju Nest Garden. Bergandengan tangan dan sesekali berciuman. Matahari malu-malu mulai kembali ke peraduannya. Langit sore Nest City terlihat indah sekaligus misterius untuk dipandang.

Malam hari di Imperium Apartement, 4’th Floor, 11.45 pm.

Si gadis membuka pintu apartemennya, lalu menghidupkan lampu ruang tamu.

“click” bunyi saklar memecah keheningan.
“Dari mana saja kau?” Tanya seseorang yang duduk di sebuah sofa.
Si gadis tersentak kaget, tetapi dengan sigap dia berteriak kegirangan.
“Daddy, kapan pulang?”
“Dari-Mana-Saja-Kau?” kata ayahnya dengan tegas.
“Umm, maaf, Dad,” Gadis itu berfikir mencari sebuah alasan. “Tadi sore aku pikir akan menginap di rumah Angeline, tapi hingga jam ini aku rindu untuk tidur di rumah sendiri.”
Ayahnya diam, namun tetap menatapnya dengan pandangan tajam.
“Mungkin aku sudah ada firasat kalau Dady pulang hari ini.” Katanya sambil tersenyum. “Aku mau tidur, Dad. Night.” Katanya sambil menuju ke kamar.

Ayahnya hanya diam, dia pikir kata-kata anaknya memang masuk akal. Lalu dia menuju ke minibarnya untuk menenagkan pikirannya, lalu dia mengambil sebotol Jack Daniel dan meneguknya. Di tegukan kedua, dia berhenti meneguk Birnya, lalu menghitung jumlah Jack Daniel di rak.

“Tujuh, kupikir kemarin ada sembilan. Satu dua… tujuh dan delapan dengan yang kuminum ini. Kemana yang satunya lagi?” Pikirnya dengan penuh prasangka.

“Apakah anakku? dia gadis Bung.” Pikirnya membantah prasangka. Dia lalu menuju kamar anak gadisnya untuk menannyakan minumannya, dan saat hendak mengetuk pintu kamar anaknya itu dia berhenti sejenak, dia mengurungkan niatnya setelah sadar kalau jam di dinding sudah menujukkan pukul 12 malam.

“Besok saja.” Pikirnya. Dan dia melanjutkan minum-minumnya di meja minibar.

Si gadis dengan dada berkecamuk berdiri di balik pintu kamarnya. Dia pikir ayahnya sadar jika sebotol minumannya lenyap dari rak minibar. Namun ia sedikit lega, karena ayahnya tak jadi mengetuk pintu kamarnya. Setidaknya untuk sementara, hingga ia bisa mencari alasan yang masuk akal untuk esoknya.

***

Esok paginya di meja makan, si ayah mencoba berbicara dengan anak gadisnya. Sambil makan mereka meyaksikan Nesty News di channel 7.

“Nat, aku tahu kamu merasa sendiri di sini.” Kata ayahnya bersaing dengan suara TV. “Apa kau betul-betul merasa sendirian di sini, Nat?” Tanya ayah si gadis. Namun tak dijawab oleh anaknya itu.

“Pemirsa.” Suara wanita penyiar berita memecah keheningan mereka.”Sesosok mayat ditemukan di Nest Garden pagi ini. Mayat seorang pria ini diduga mati karena diracuni oleh seseoarang, malam tadi. Mayat pria yang diduga preman dari pertigaan Nestville St ini kemungkinan besar mati diracun, karena tubuhnya membiru dan mulutnya berbusa, kemungkinan tersangka adalah salah satu pacarnya. Ya, preman ini, menurut masyarakat setempat adalah seorang playboy, kini tersangka.”

“Click…” TV dimatikan oleh ayah si gadis.

“Nat?” Tanya ayah si gadis.

“Iya ayah.” Si gadis terlihat menenangkan dirinya. “Yah, bila kau tanyakan itu, harus kujawab apa. Aku takut melukaimu jika aku berkata jujur.” Jawab si gadis dengan cepat.

“Itu, sudah menjawab, Nat?”

Tak berselang lama, Ketukan keras menghentak pintu apartemen mereka, memecah keheningan sarapan pagi yang tegang itu.

“Buka pintu, ini Polisi Nestville!” teriak seseorang dari luar.

“Ya, tunggu!” jawab si ayah sambil memandang anak gadisnya yang tiba-tiba berwajah ketakutan.

Semuanya berjalan dengan cepat, si gadis ditangkap oleh polisi dengan tuduhan sebuah pembunuhan berencana. Dengan korbannya seorang preman, malam tadi di Nest Garden. Ayah si gadis terlihat sangat syok berat, dia tak menyangka jika anak semata wayangnya dijadikan tersangka oleh polisi.

***

Hari demi hari telah berlalu, proses pemeriksaan, reka ulang, dan persidanggan berjalan dengan apa adanya. Pidana yang dituduhkan pada si gadis hanyalah pidana ringan, dengan motif cemburu buta, karena si gadis dianggap masih berada di bawah umur, si gadis tidak dimasukkan ke penjara. Si gadis hanya dimasukkan ke panti rehabilitasi khusus remaja selama beberapa bulan, setelah itu dikembalikan lagi ke orang tuanya, tepatnya ke ayahnya.

Si gadis nampak begitu murung, matanya sayu dan badannya kurus kering. Ayahnya berulang kali menyemangatinya untuk melupakan masa lalunya. Meeskipun begitu, kondisinya tidak banyak berubah, Si gadis malah sering diserang berbagai penyakit, badannya sangat tidak stabil. Dia yang dulu terlihat sebagai gadis cantik dan enerjik, kini terlihat seperti gadis berpenyakit yang lemah.

Suatu hari ayahnya membawa si gadis ke rumah sakit untuk diperiksa,

“Ny.Natalie Anderson.” Panggil seoarang suster.

Si gadis yang lemah itu kemudian masuk dan diperiksa oleh dokter. Setelah diperiksa, ayah si gadis diberitahu penyakit apa yang menimpa putri semata wayangnya itu. Namun entah kenapa, si gadis tidak pernah diberitajukan apa penyakit yang menimpanya. Yang ia tahu, setiap hari ia harus menelan banyak obat dan harus rutin check kesehatan tiap bulannya di rumah sakit.

Hingga saat ulang tahun ke-20 tahun, si gadis tidak pernah diberitahu, si gadis juga tak pernah bertanya pada ayahnya, prihal penyakit apa yang menyerangnya. Hari berlalu dan berganti, namun obat dan check ke dokter tak pernah berhenti. Si gadis menjadi gadis yang sangat pendiam, hingga suatu hari ayahnya telah siap memberitahukan prihal penyakit putrinya pada putri tercintanaya itu.

“Nat, kau telah dewasa, kini saatnya kau tahu apa penyakitmu itu.” Kata ayahnya lirih pada si gadis yang berbaring lesu di tempat tidurnya. “Kau siap?”
“Yah,” Kata si gadis pelan. “Aku sudah tahu, yah, tak perlu kau katakana padakau prihal penyakit ini,”
“Jadi kau sudah tahu, Nat? tabahlah anakku, aku ada di sini bersamamu.”
“Iya, Yah, itulah kenapa aku membunuh preman brengsek itu! Karena dialah yang menularkannya.” Kata si gadis dengan nada menggebu-gebu.

“Oh, anakku…” Kata ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Yah, aku sayang padamu yah, maafkan semua dosaku padamu, yah.” Kata si gadis sambil menangis.

Ayahnya tidak menjawab, karena menangis tersedu-sedu meratapi nasib anaknya. Kemudian tak ada suara percakapan diantara mereka, hanya suara tangis ayah si gadis yang terdengar di kamar itu. Kemudian semua terasa hening, lalu tiba-tiba si ayah berteriak sekeras-kerasnya sambil memeluk anak gadisnya, ayahnya berteriak dan berteriak hingga seluruh gedung apartemen bisa mendengar dan merasakan sakit hati yang dirasakannya, tangisan dan teriakkan begitu mengiris nurani, karena kini si gadis, putri tercintanya dan satu-satunya telah menyusul ibunya di suatu tempat yang jauh dari ayahnya itu.

Wedding

Pagi itu, aku bangun dari tidur dengan perasaan bahagia. Hatiku terasa meledak membentur cakrawala, lalau terbang melayang tinggi ke angkasa. Hari ini adalah hari istimewa yang belum pernah kubayangkan akan terjadi. Tepat tengah hari nanti, aku akan menikah di Gereja St.Paulo Brazil. Dan malamnya high wedding di Ritz Carlton Hotel. Waaaa….

Esok paginya, aku dan Leo akan bulan madu ke Rio de Jeneiro, menengok dasyatnya air terjun tenggorokan setan yang paling indah sedunia. Sungguh kesempurnaan hidup yang unbelievable. Membuat hidupku ini seolah-olah berada dalam sebuah dunia novel yang kata-katanya penuh dengan imaji yang membahagiakan. Tak pernah kubayangkan, diriku, gadis kecil yang dua puluh tahun lalu masih berlarian di pinggir sungai Mahakam. Kini berada di sebuah tempat nan jauh dari Borneo sana. Di sebuah hotel berbintang 6, kamar no 239 Suit President, Ritz Carlton Hotel, Brasília!

“Kring… Kring… .”Suara telepon kamar membuyarkan lamunanku.

“Hai, Nan, How are you, dare?” sapa calon suamiku dari balik telepon.

“Leo, umm, entahlah, perasaanku hari ini agak berbeda.” Kataku memanja.

“Nan, why? You sick, Nan?” Tanyanya dengan nada ketakutan.

“Oh, dare, aku hanya bercanda. Memang perasaanku agak berbeda dari hari-hari yang lain.”

“Ow, shit! Kalau tak sakit, so why?” tanyanya lagi dengan nada serius..

“Kau tak ingat jika hari ini kita akan menikah, tentulah perasaanku akan lebih berbeda dari hari-hari lain.” Jawabku sambil tertawa.” Jangan-jangan kau lupa ya?”.

“Oh…” jawabnya terasa lega bercampur kesal.

“Kau pasti semalam teler dengan pesta bujangmu, kan?” tanyaku dengan curiga yang kubuat-buat.

“Dare, Kinanti, my lovely honey, yang kucintai sampai die. Aku telepon kau untuk tanya, sudahkah kau breakfast? Bukan untuk fight, not know ya, tonight!.” Rayunya.

“Leonard, Pangeranku yang kujanjikan cintaku sampai mati. Aku tahu kok, aku cuma bercanda, he he he.” Tawaku setengah meghina, “Oke, aku mau telepon layanan kamar dulu ya, nanti setelah makan, ku telepon balik.”

“Ok, Nan, see you, love you honey!”

“Bye, Leo, love you too.”

Kututup telepon darinya, lalu kutekan nomer layanan kamar. Aku memesan sarapan pagi dengan menu bubur Oat, secangkir kopi, Orange Juice, dan buah apel. Sarapan pagi yang amat kusukai dari hotel ini sejak seminggu yang lalu. Tentu karena Oat-nya sangat khas dan berbeda di lidah. Leo pasti menghinaku, bila tahu kalau aku makan sarapan oat lagi.

“Jika hanya ingin makan Oat, kenapa harus ke Brazil?!”. Ejeknya padaku kemarin pagi. “lain kali, kita ke Dubai saja”. Katanya dengan nada penuh sombong, seolah-olah uang tak akan pernah habis dari kantungnya.

Sambil menunggu datangnya sarapan, kupencet tombol remote TV. Lalu hadirlah saluran no 24, BBC London, dengan berita hangatnya dari penjuru planet bumi ini.

“Next, news from Indonesia.” Kata Antonio Ardian seolah-olah memang bicara padaku, “Mahakam’s river in Borneo, Indonesia. Now flooded in some area in side of Mahakam. Million people evacuated from there because the height of water until roof of house. It caused by big rain as long as three days in middle of Borneo Forest, plus, so much trees in forest which cut by civilian made water can’t longer resistant in Borneo Forest.”

Mahakam, ayah, dadaku berdebar-debar. Jantungku serasa akan copot. Bagaimana kabarmu disana yah, pikirku tiba-tiba dengan dada berdebar-debar. Yang kutahu dari berita itu, Mahakam memang meluap begitu hebat, dari gambar satelit menunjukkan bahwa air meluap hingga mencapai atap rumah. Bahkan banjir kali ini pasti lebih hebat dari banjir tahun 2009 lalu. Namun, melihat berita di BBC ini, mungkin banjir itu memang sudah sampai di rumah ayah di Samarinda, dan dengan kapasitas yang jauh lebih besar pula.

Kuambil segera I-Phone dari Bivalgri maskawin-ku, dengan Call Net Phone kutekan nomer Andy, adikku yang kini kuliah di Universitas Hasanudin, Mangkasar. Lama aku menunggu untuk tersambung ke ponsel adikku itu. Lalu dari telepon via internet itu, akhirnya mulai kudengarkan nada tunggu handphone-nya. Tak berselang lama Andy mengangkat teleponku dan terdengarlah suara jernih dari cellular-ku.

“Andy, aku lihat berita di TV…” kataku langsung pada ke pokok masalah.

“Oh, Kak Nanti, ya?” jawabnya datar.

“Ya, bagaimana Ayah, Andy?” tanyaku sungguh-sungguh.

“Entahlah, Kak, aku juga tak tahu.” Jawabnya innocent.

“Ah, apa kau tak lihat berita di TV?” aku sedikit marah.

“Oh, memang Kak, tak pa lah, Ayah pasti bisa survive, kok.”

“Maksudmu?” aku bertanya penuh curiga.

“Banjir kemarin juga Ayah tak kenapa-napa?”

“Andy?” Aku sedikit merasa sedih. “Bukankah banjir kali ini lebih parah dari tahun kemarin!”

“Ya…” jawabnya datar-datar saja. “Tapi ayah pasti selamat, aku yang menjamin.” Katanya mantab.

“Sungguhkah?”

“Tak usah kau khawatir, Kak, bagaimana dengan pernikahanmu esok?”

“Ya, aku akan menikah 5 jam lagi.”

“Selamat ya, maaf kami tak bisa datang, dan jangan lupa upload video ke facebook!”

“Sure, see you Andy, morning.”

“Selamat tengah malam, Kak!”

Aku sedikit lega mendengarkan perkataan Andy, adik satu-satunya yang amat aku cintai. Perkataannya membuat perasaanku kembali tentram. Sedih rasanya menikmati keindahan Brazil tanpa mereka, tanpa Ayah dan adikku tercinta. Tak kubayangkan aku menikah disini dengan mewahnya, sedang ayahku kebanjiran di Indonesia. Dan bahwa hampir sebagian besar diplomat Amerika dan teman-temanku dan Leo dari American Ambassador Amerika hadir, dan mereka sudah ada di hotel ini. Ironi dengan tak satupun keluargaku dari Indonesia yang hadir…

Ayah berkata, “Buat apa kawin jauh-jauh di Brazil, toh kawin itu di KUA cuma habis 300 ribu saja!” Hardiknya padaku ketika aku mengutarakan pernikahku di Brazil. Tapi, aku nekat juga, toh aku sama sekali tak mengeluarkan uang sedikitpun. Bagiku, semua ini hitung-hitung sebagai piknik ke luar negeri. Kapan lagi coba? Calon suami seorang Diplomat Amerika yang mau dengan gadis Mahakam sepertiku ini, plus menawari pernikahan nan mewah di Brazil lagi.

Andy pun begitu, penyelesaian puncak tesis S2 menjadikan alasan kenapa ia tak mau menghadiri acara nikahku di sini. Pupus sudah rencana pernikahan dengan dihadiri dua orang tercinta itu. Dua orang keluargaku satu-satunya semenjak 10 tahun yang lalu, setelah mendiang Ibuku pamit ke Rahmatullah, tak mau mereka hadir di sini. Tapi itu bukan masalah, aku sudah berencana akan ada resepsi di Hotel Hilton Jakarta bulan depan, jadi resepsi di sana akan menjadi bayaran atas hutang-hutang ketidak setujuan mereka. Ha…

Aku kembali berfikir tentang Ayah, sedang apa Ayah di Samarinda sana. Kedinginankah Ayahku tercinta? karena banjir besar itu meneggelamkan rumah kami. Ayah yang sendirian di tanah kelahiranku, tak mau dia angkat kaki dari sana. Ayah juga tak mau ku boyong ke Jakarta, hidup enak di Pondok Indah bersama denganku yang sudah menjadi wanita karir sukses.

Beliau beralasan, bahwa makam mendiang ibuku masih harus di rawat. Dan ia tak mau meninggalkan Ibuku sendirian di Samarinda. Bahwa rumah yang besar dan kebun berhektar-hektar komplit beserta babunya masih harus di tunggu. Mubadzir jika harus diserahkan pada penyewa, atau bahkan dijual. Karena semua itu hasil jerih payah Ayah dan Ibu dulu. Dan aku pun hanya sedikit banyak bisa memakluminya.

Tak mau juga dia ikut Andy untuk pindah ke Mangkasar. Tentang Andy, Andy sudah jadi dosen Antropology di Universitas Hasanudin Mangkasar, hidupnya tentu sudah kecukupan, tinggal istri yang katanya tahun depan akan dipersuntingnya. Dia adikku satu-satunya yang tentunya amat kucintai, sebagai kakak perempuan tunggalnya, tentu aku sangat memanjakannya. Ayah pun begitu memanjakan Andy, maklumlah, anak lelaki sendiri. Aku tak jealous jika semua permintaan Andy diturutinya, toh aku ini memang hanya wanita. Namun, pada akhirnya aku memang lebih beruntung dari Andy juga.

Ah, kenapa aku jadi ngelantur begini. Bukankah hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi diriku. Beberapa jam lagi aku akan menjadi Ny. Leonard Lasey. Tak perlu aku berfikir macam-macam dalam kondisi bahagia ini. Mungkin Andy memang benar, Ayah bisa survive di sana seperti yang dulu-dulu. Dan mungkin pem-format-an berita di BBC itu canggih. Kata-katanya dibuat sedemikian rupa, dengan membuat banjir selokan menjadi seolah-olah banjir besar, dan banjir besar seolah-olah banjir bandang, dan banjir bandang seolah-olah tsunami. Dan tsunami… entahlah!

Jujur, yang kusuka dari BBC morning adalah wajah Antonio Ardian yang memang sangat tampan dan elegan. Bahkan lebih tampan dari Leo, bujang peranakan France dan Jawa itu sungguh menarik. Mungkin aku tersihir dengan wajah tampannya itu. Sehingga berita banjir biasa di Mahakam bisa berubah jadi banjirnya Nuh. Hah…!

Oat-ku menjadi dingin, membuat aku tak berselera untuk memakannya lagi. Kuminum secangkir coffee sambil keluar ke balkon hotel, kunikmati pemandangan indah Brazil yang mirip dengan Indonesia, begitu tropis dan sejuk di pagi hari. Polusi di sini hampir hilang, penggunaan bio etanol tebu untuk kendaraan berjalan sukses. Tidak dengan Jakarta, bila pagi menjelang, akan riuh seperti arena pasar demit! Siangnya jadi arena neraka demit, malamnya jadi pusat industri malam yang banyak dinikmati dedemit bangsat pula.

Dari lantai duabelas ini, aku bisa lihat hamparan luas hutan tropis Amazon di kejauhan sana. Dan semut-semut kecil manusia yang ramai di bawah hotel, juga hijaunya taman kota-kota Brazil yang memikat. Hijau di tengah kota, bagaikan zamrud di tengah padang pasir. Tetapi, tiba-tiba angin menghempas balkon kamarku dengan keras. Bisa kurasakan kerasnya angin seperti angin yang keluar dari turbin pesawat. Kembali aku masuk ke kamar, dan kulihat di kejauhan. Mendung mendadak menyelimuti Brasilia.

Kupandang langit mendung dari balik jendela kamarku, kuteguk kopi yang mulai dingin. Kursakan sesuatu berbisik di telingaku, sesuatu yang dingin, yang membuat bulu kudukku bergidik. Kupegang tengkuk leherku yang terasa dingin dan bergetar lembut, bagai dibelai angin pagi yang mengalun pelan. Entah apa, aku juga tak tahu, lagi, kupandang langit pagi yang mendung. Langit yang tiba-tiba membisikkan padaku tentang sesuatu, bisikan yang jauh melewati hamparan samudra pasifik.

Tiba-tiba aku merasa lebih kedinginan lagi, kopi yang hangat tak lagi terasa nikmat. Kuputuskan untuk berendam air hangat di Jacuzzi, sambil menunggu datangnya team tata rias pengantin tiba di kamarku…

…..

Ferrari yang kutumpangi mulai menembus pusat keramaian kota Brasilia menuju Gereja St.Paulo. Aku bahagia, aku nyaman dan anggun bak Cinderella yang banyak dipuja. Gaun ratusan dolarku begitu pas di tubuh, dan lagi, sopirku bilang “You are so so beautiful, you make me want to marriage with Asian girl madam.”

Aku tersenyum puas, tibalah mobil antik ini di gerbang St.Paulo. Banyak tamu yang sudah datang, pendampingku, Yohanna, anak tante Melissa membukakan pintu. Keluarga Yohanna memang tinggal di Buanos Aires. Sehingga, mereka satu-satunya keluargaku yang kupaksakan hadir, paman Yudha dan tante Melissa, orang tua dai Yohanna tentu hadir di pestaku ini. Tapi mereka menginap di Tropiz Hotel dengan Leo. Sungguh adat yang aneh, di Indonesia, sebelum kawin pengantinnya sibuk sendiri mempersiapkan tetek bengek. Tapi di sini, kami dijadikan raja dan ratu, segala sesuatu dipersiapkan keluarga, tapi tak boleh bertemu dahulu selama sehari. Hanya sehari, it’s Okay lah…

Aku tersenyum puas, dua anak kecil yang entah anak siapa tersenyum padaku dan menggandeng tanganku. Semua sempurna, tanpa suara mereka memandangiku, mereka hanya tersenyum, begitu sacral dan indah seperti gladi bersih kemarin. Aku masuk ke aula St.Paulo yang besar. Saking besarnya, hampir tak ada seperempat pengunjung dalam pestaku ini. Jadi aku harus berjalan jauh menuju altar.

Di tengah-tengah perjalanan, aku memandang Leo yang sudah ada di altar dengan pendeta, mataku lembut menghujam memandang calon suamiku itu. Tetapi aku merasakan sesuatu getaran yang aneh, sesuatu yang memaksaku untuk menangis dan berteriak. Aku ingat Mahakam, ayah, almarhumah ibuku, Andy, dan aku seperti merasa tak kuasa akan badanku sendiri.

Aku tercengang saat aku mulai mendekati altar. Tubuhku bergejolak, ada sesuatu yang membuatku ingin berlari lagi, ada sesuatu yang membuatku ingin kembali, entah kenapa tiba-tiba angin keras menghempasku lagi, angin yang sama kerasnya seperti yang di balkon pagi tadi. Aku tersentak, lalu berlari menuju Ferari. Meskipun semua mata memandangku dengan heran, aku tetap berlari dari gereja ini. Aku keluar,

Kutekan tombl-tombol Call Net Phone dari I-Phone

“Andy…” Kataku.

“Kak …” jawabnya resah. “Kau benar, aku baru akan naik kapal ke Samarinda dan…” Dia diam sejenak.

“ Kak, Tak tersisa, banjir bandang, maafkan aku.”

“Andy,…” Aku lemas, aku belum sarapan dan mandi terlalu lama. Badanku kedinginan dan menggigil demam. Jantunggku berpacu membuat darahku melonjak, bulir air mata mengalir di atas pipiku, bedakku luntur. Aku menarik nafas, aku lemas, lunglai, lalu berucap lirih Inailahi wa Inna Ilaihi Ra’jiun, namun tak sempurana mulut ini berucap, karena kurasakan tubuhku berada di pangkuan Leo, aku pingsan.

Kulihat deburan air yang menerjang penuh dengan amarah, aku tak tahu itu apa apakah itu keindahan air terjun Rio de Janeiro, ataukah banjir yang ada di Samarinda yang meluluh lantahkan ayah dan kampungku. Aku tak tahu dengan apa yang kulihat ini. Tapi aku hanya setengah sadar, karena aku masih pingsan. Lama, sangat lama, ada Ibu dan ayah disana, dibalik deburan dasyat air beriak…