Sahaya

Ini semacam Rosetta, ukiran diri

Bukan Sekedar Hitam  atau Putih

Ketakutan terbesar saya adalah menua dan mengalami dimensia. Tidak lagi mengingat hal-hal yang pernah saya lalui- lalu saya membawa penyesalan itu ke alam lain.

Saya mencoba mengingat harum persawahan di Sukoharjo sewaktu kecil, bagaimana saya bersama teman-teman mencari ikan sepat di terik matahari yang sama sekali tidak kami takuti, lumpur-lumpur yang saya injak dengan sedikit cemas karena mungkin ada ular kayu di dalamnya, cacing yang berusaha masuk ke kuku-kuku kaki dan tangan lalu berlabuh di dalam perut saya, juga enceng gondok yang berbentuk unik dan selalu berharap kelak ada bunga bakung yang tumbuh di atasnya.

Saya ingin mengingat setiap detailnya dan ingin menikmati setiap momentum yang pernah ada di hidup saya itu, namun sekuat apapun saya menghipnotis diri saya, saya tetap saja gagal. Masalahnya, yang muncul justru monster-monster mengerikan yang selalu mencoba untuk menguasai alam theta di otak saya. Sementara ingatan kolektif lain lenyap entah kemana.

Saya ingin berani mengungkapkan apa yang ada di kepala saya dengan sejujur-jujurnya. Meskipun terkadang saya harus sedikit berbohong, mengelabui dan menyelimuti beragam opini dengan cara naif dan sedikit munafik. Bisa disebut pengakuan dari upaya jujur untuk tidak jujur.

Saya berusaha untuk tidak menghakimi siapapun itu kecuali saya sendiri, menghindari sikap-sikap konklusi yang mengakibatkan kita terjerumus dalam sikap yang akhirnya hanya berujung pada “setuju atau tidak setuju”. Berusaha menghindari untuk melibatkan Anda agar tidak begitu saja- percaya dengan kenyataan yang dunia ini tunjukan; apa yang Anda alami dan juga apa yang saya pikirkan.

Saya ingin siapapun kita punya perspektif baru, bukan hitam dan putih, bukan juga abu-abu. Perspektif penuh kemungkinan yang ambigu.