Ambiguitas adalah Kunci

Upside Down

Saya termasuk yang skeptis dengan masa depan setelah dunia menunjukkan anomali yang membingungkan. Bagaimana Trump bisa menang di Amerika, Suu Kyi yang bungkam, Justin Trudeau yang menyembunyikan harta atau bagaimana manusia harus menghadapi anomali lainnya dari politik, ekonomi, sains dan alam raya. Saya pikir, membawa jiwa ke dunia digital adalah satu-satunya kunci menuju kedamaian hakiki dari segala polemik.

 

Kemungkinan, Alam yang Belum Terjangkau

Namun semua itu buyar saat saya mengikuti pidato kebudayaan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2017. Penyajinya, Roby Muhamad, memaparkan cara pandang dunia yang lebih elegan, anggun dan penuh kepercayaan. Saya tersentak dengan tesisnya, resep cara pandang generalis yang mampu mengobati kebimbangan saya.

Anda dapat berpikir runtut dengan membaca naskah pidato aslinya atau menghadiri ceramahnya. Roby Muhamad, ilmuwan cum enterpreneur peraih pelbagai gelar doktor di ilmu fisika, statistic dan sosial ini memberikan pidato bertajuk “Nostalgia Masa Depan Manusia“. Dia memberi cara pandang baru dan unik soal politik, ekonomi, kebudayaan dan posisi manusia bahkan Indonesia di semesta raya ini.

NOSTALGIA MASA DEPAN MANUSIA

Roby menunjukkan bahwa dunia yang sebelumnya saya pahami dan begitu kusut ini, sebetulnya hanyalah hal sederhana yang tak perlu sungguh-sungguh dipusingkan. Ya, kita menghadapai gejolak anomali yang luar biasa. Namun di situ justru kita punya kesempatan untuk bercermin pada diri yang baru. Saya bahkan sempat mati rasa untuk memahaminya dan kemudian bisa jadi, kini saya terlahir kembali.

Dunia Yang Berpolar

Kita terlalu sering memberi jargon-jargon pada hal-hal yang berbeda, mengkotak-kotakkan segala sesuatu sesuai dengan selera kita. Dalam ilmu pengetahuan kita mengenalnya dengan madzhab / paradigma, dalam konsep lain kita mengenal konservatif hingga liberal, ada yang sangat religius ada pula yang atheis serta mungkin polaritas dalam sudut pandang lainnya.

Pentingkah? Ya, cara pandang kita memang penting untuk menunjukkan landasan pikir atau kepercayaan kita. Namun yang jadi masalah adalah keinginan kita untuk memaksakan cara pandang kita, norma yang kita ikuti hingga kepercayaan yang kita imani kepada orang lain yang telah hidup dengan sudut pandang berbeda. Di sinilah segala sumbu yang membuat dunia ini menjadi berpolar dan gaduh perlu kita pahami kembali.

Ambiguitas

Roby memberi contoh wangsa Medici di Florensia pada zaman awal pencerahan. Keluarga tersebut menjadi kuat justru karena sikap ambiguitasnya. Mereka bisa berteman dan berkongsi dengan wangsa lainnya karena Medici sendiri tak pernah secara terang terangan menunjukkan keberpihakkan. Sejarah mencatat, Wangsa Medici-lah yang kelak menjadi besar dan mampu menyatukan wangsa-wangsa di Eropa hingga membawa mereka ke Abad Pencerahan.

Jokowi

Saya jadi teringat dengan Jokowi. Bisa jadi dia adalah manusia yang pandai menggunakan ambiguitas dalam politiknya. Susah ditebak dan tak pernah terang-terangan melawan atau membela satu pihak sehingga dia mampu berkongsi dengan banyak pihak yang bahkan saling bertentangan. Cara pandang seperti ini, adalah tesis baru yang bisa kita kebangkan!

Dalam konsep ambiguitas, tak soal dan tak harus setuju dengan pemahaman orang lain, karena yang jadi soal adalah memastikan kita memahami diri kita sendiri dan mau mengupayakan untuk memahami orang lain. Ambiguitas mencoba memahami dunia yang pada hakikatnya memang beragam dan penuh ketidakpastian.

Roby memberi tesis bahwa dalam strategi budaya, justru bukan yang terencana matang dan rasional yang sering sukses membawa kemajuan. Namun, kreativitas dalam mengelola segala kemungkinan, improvisasi dan adaptasi adalah kunci strategi utama kemajuan.

Pada poin utama ambiguitas, segala sesuatu layak dicoba dan dijalani, karena toh segala sesuatu yang paling rasional dan terencana sekalipun selalu ada resikonya. Ambigutas berusaha mengubah dunia yang kini bercorak kompetitif menjadi lebih kolaboratif. Menerima kenyataan sudut pandang liyan adalah keniscayaan.

Dalam penutupnya Roby menyampaikan begini:

“jadi untuk engkau Indonesia
Tidak perlu engkau kembali ke abad silam.
Tidak perlu engkau menjadi raksasa ekonomi.
Tidak perlu engkau menjadi pemimpin teknologi.
Dalami dan perluas saja keahlianmu mengelola ambigutas
sehingga menghasilkan kreativitas dan keragaman
Lalu tunjukkan pada dunia
bagaimana memasuki gelombang pencerahan ketiga
di mana kreativitas dan keberagaman menjadi panglima.”

 

Untuk diketahui: Tulisan ini adalah pendapat pribadi, sama dengan tulisan lain dalam museuz.com yang penuh tafsir dan ambigu, tidak mencerminkan pidato atau tesis Roby Muhamad yang menyeluruh.