Islam Sebagai Konsep Agama Open Source

Era milenium dimana kita berbaur dalam globalisasi seperti sekarang membuat paham konservatif-radikal cukup mudah menyebar dan memengaruhi banyak orang. Elemen berbahaya paham ini adalah sifatnya yang eksklusif, menutup diri serta penolakan keras eksistensi kebenaran di luar pemahaman mereka. Kemenangan Donald Trump merupakan contoh nyata gejala konservatisme kulit putih yang menguat di Amerika Serikat. Konservatisme dan radikalisme sesungguhnya tak melulu soal agama.

Isu soal ISIS bisa dijadiakan ulasan lebih dalam soal konservatisme-radikalisme dalam Islam. ISIS kini tak hanya menjadi fokus di wilayah Irak, Suriah atau Timur Tengah, namun telah menjadi isu global yang berdampak pada propaganda negara Islam ke seluruh dunia. Di Indonesia, suka tidak suka bahwa demam negara khilafah adalah bagian dari euphoria ide-ide negara Islam seperti yang digaungkan ISIS. Sekalipun pengusung Khilafah berkilah bahwa ide mereka lebih benar, otentik dan original dibanding ISIS, konsep mereka sejatinya sama.

Ideologi agama, bagaimanapun tidak bisa dilarang. Termasuk mereka yang menginginkan negara makmur dengan jalan ideologi agama. Tetapi ada pertanyaan besar yang bergelayut untuk mereka yang berfikir bahwa hanya dengan menjadikan bumi bulat ini menjadi negara agama, maka dunia akan makmur. Pertanyaan yang justru belum menyentuh pokok negara agama, melainkan soal definisi mendasar dari “agama” itu sendiri.

Memahami Antropologi Lahirnya Agama Islam

Tidak bisa dipungkiri bahwa agama adalah sebuah produk peradaban manusia. Tidak ada hewan yang memiliki agama atau kepercayaan dengan ritual-ritual tertentu. Jika agama merupakan produk peradaban manusia maka sudah dipastikan agama memiliki sejarah atau akar tumbuhnya. Untuk itu sangat penting bagi kita membaca berbagai rujukan tentang sejarah agama

Agama Islam tumbuh dalam lingkungan mayoritas pagan atau penyembah berhala. Pun pada masanya ummat beragama seperti Yahudi dan Kristen sudah ada sekalipun lingkup sosial mereka di masyarakat Mekah terhitung minoritas. Muhammad, pada awalnya mengenalkan Islam kepada masyarakat Mekah dengan penjelasan bahwa agama Islam bukan merupakan agama baru, melainkan warisan dari Ibrahim.

Kabah yang tadinya merupakan titik pusat peribadatan kaum pagan, dijelaskan oleh Muhammad sebagai warisan Ibrahim dan sang putra Ismail yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Mekah. Muhammad menekankan bahwa Ibrahim adalah penyembah satu Tuhan, bukan banyak tuhan atau banyak berhala. Konsep yang tentunya menaikkan harkat masyarakat Mekah yang tadinya penyembah berhala dan berkelakuan jahiliyah-barbar, menjadi konsep identitas yang tinggi, maju dan setara dengan konsep penganut Kristen dan Yahudi.

Muhammad pada dasarnya tidak mengubah konsep identitas warga Mekah. Dia hanya menyatukan kembali suku-suku yang menjadi momok perpecahan bangsa Arab menjadi satu kesatuan identitas yang kelak disebut sebagai Islam. Muhammad terbukti mampu membuat pondasi kokoh untuk menyatukan masyarakat gurun Arab yang gemar bertikai karena kesukuan menjadi masyarakat yang satu dalam identitas Islam. Konsep Islam dalam banyak rujukan, terbukti diterima oleh banyak golongan di Arab bahkan oleh Kristen dan Yahudi pada massanya.

Sayangnya sejarah membuktikan bahwa bangsa Arab memang tidak gemar dengan kebhinekaan dan condong pada pola pikir kesukuan yang tinggi. Boleh dibilang pun agama Islam dianggap gagal menyatukan bangsa Arab modern. Paska runtuhnya Ottoman dan penjajahan barat, Arab kembali terpecah ke dalam konsep negara, kesukuan bahkan ada perpecahan yang lebih modern yang konon sudah diperkirakan oleh Muhammad sendiri. Perpecahan tersebut mencakup pola tafsir yang kini kita kenal dengan madzhab atau aliran-aliran. Mengembalikan bangsa Arab ke zaman jahiliyah-barbar yang saling bermusuhan.

Islam Sebagai Agama Open Source

Memahami kesuksesan Muhammad yang mampu menyatukan Arab harus dilihat kembali secara rasional. Muhammad pada awalnya menekankan bahwa Islam bukanlah agama baru. Islam adalah agama penyembah satu Tuhan yang bahkan sudah ada sejak zaman Ibrahim. Konsep mengambil jalan agama Ibrahim merupakan konsep yang brilian karena Ibrahim sendiri juga diakui sebagai pendahulu oleh Yahudi dan Kristen. Konsep Islam yang menggunakan jalan Ibrahim sesungguhnya konsep terbuka atau meminjam istilah dunia teknologi bisa disebut open source. Muhammad tak hanya ingin merangkul golongan pagan di Mekah. Islam ingin menjadi agama universal, agama yang diterima seluruh manusia bahkan oleh Yahudi dan Kristen.

Konsep Islam sebagai Open Source memang agak naif, mengingat mungkin seluruh agama di dunia menganut konsep universal. Poin tambahan yang sering luput dipahami bahwa sejak awal Muhammad memberi nama agama warisan Ibrahim sebagai agama Islam, kata Islam selain merujuk pada padanan kata berserah diri juga merujuk pada makna kedamaian. Jadi banyak perlu dicermati bahwa Muslim yang menggunakan jalan-jalan kekerasan untuk mewujudkan impian dunia Islam (damai) adalah Muslim yang justru belum menjumpai akar Islam sendiri.

Menyadari bahwa konsep Islam sebagai open source sebetulnya menandakan Islam yang terbuka dan dinamis, Islam yang menerima dan mampu mengembangkan kritik dan modernitas dunia saat ini. Belajar dari cara dakwah Muhammad, Islam diajarkan untuk terbuka, menjalin silaturahmi hingga mencari titik temu agar menerima golongan lain. Islam dengan tafsir eksklusif adalah kemunduran ke zaman jahiliyah-barbar. Isu-isu seperti pandangan demokrasi yang ternyata bisa sangat Islami, konsep eknomi kapitalis yang bisa disyariahkan, hukum modern yang selaras taqiyyah, hingga pandangan-pandangan soal kesadaran gender hanya akan hadir dalam Islam yang Open Source, yang terbuka, runtut dan ilmiah.

Seorang yang mendaku diri sebagai Muslim seharusnya tidak menutup diri pada konsep persatuan dalam kebhinekaan. Jika seorang Muslim merasa resah tidak diterima atau memiliki pemikiran negatif pada unsur kebhinekaan, ia harus berkaca diri bahwa jangan-jangan justru dalam praktek kesehariannya, ia menjauhi konsep persatuan seperti yang Muhammad ajarkan. Banyak rujukan yang bisa disandarkan bahwa Muhammad sukses menjembatani perbedaan pendapat dan golongan di lingkungannya dengan cara-cara yang demokratis.

Konsep keterbukaan dalam kebhinekaan dalam diri Muslim Indonesia seharusnya mencontoh konsep Raden Said atau Sunan Kalijaga yang mampu membaurkan selaras antara identitas budaya Jawa dan konsep Open Source Islam. Hasilnya, Islam Demak-Mataram dapat diterima dengan baik hampir tanpa perlu banyak revolusi paska runtuhnya Majapahit. Islam yang berkemang di Jawa bahkan konon memiliki konsep sendiri yang disebut Islam Kejawen.

Satu hal yang kontras dari kemunduran Islam Kejawen bisa kita cermati bersama dalam konsep penampilan perempuan muslim. Dahulu sangat tidak masalah seorang perempuan muslim memakai sanggul dan kebaya terbuka dalam acara-acara publik. Namun dalam tempo singkat saat tafsir konserfatisme Islam menyeruak. Mayoritas muslim menilai bahwa hanya perempuan muslim yang menutup rambut dan tubuh dalam segala acara adalah perempuan muslim yang taat.

Uniknya, jiwa kebinekaan dan keterbukaan sebetulnya telah mengalir di dalam nadi kita. Kita tak pernah mau benar-benar menelan konsep konserfatisme Islam yang menyebar. Kita mampu memahami konsep Islam yang Open Source tadi untuk diselaraskan kemudian memodifikasinya sesuai identitas kita sendiri. Kini perempuan muslim masih bisa berkebaya dan bersanggul dengan tetap menjaga standar menutup rambut. Modifikasi baju-baju muslim yang tetap Jawa bahkan modern terus berkembang menyeimbangkan konsep konserfatif-radikal Islam.

Muslim sejatinya harus memahami pokok-pokok keterbukaan dan kesuksesan Islam merangkul golongan lain. Bahwa Muhammad tak hanya sekedar ingin mengenalkan konsep Tuhan Yang Satu. Tapi juga konsep bahwa persatuan hanya dapat diwujudkan dengan konsep Islam (damai) bukan dengan kekerasan. Di Indonesia, kesadaran akan konsep open source Islam dan menjaga identitas lokal harus selalu dipupuk kuat melawan konserfatisme.

Satu kesimpulan lebih maju dan bisa kita raih ke masa depan dari konsep Open Source Islam adalah harapan bahwa siapapun Anda baik kelahiran Jawa, China, Batak, Ethiophia, Eropa dsb; penganut Budhis, Yahudi, Kristen, Kong Hu Chu dsb; pemikiran Sosialisme, Komunisme, Liberalisme dsb; Jika Anda memahami makna perdamaian dalam persatuan dan kebhinekaan. Selamat, Anda adalah seorang Muslim.

 

Konflik, Identitas, dan Agama

Diversity and Unity
Di Indonesia sering terjadi konflik baik antar golongan, etnis, suku, agama, pemahaman dsb. Karena tidak adanya pembelajaran tentang manajemen konfilk, sering kali konflik selalu berakhir dengan ricuh, kekerasan, bahkan memakan korban jiwa. Tengok saja tragediAmbon, Sampit, Cikeusik, Sampang, GKI Yasmin dll yang menimbulkan kerusakan baik fisik maupun jiwa. Permasalahan ini umumnya disebabkan oleh ketimpangan sosial atau perbedaan pemahaman.

Konflik atau permasalahan yang tidak disikapi dengan pemikiran sehat dan terbuka tentunya akan berlarut-larut hingga menimbulkan banyak permasalahan baik kini maupun nanti. Padahal Bangsa ini adalah bangsa yang majemuk. Bayangkan saja, Bangsa ini punya ratusan ragam budaya yang berbeda. Hal ini mengakibatkan gesekan-gesekan pemahaman memang sering menjadi akar masalah konflik. Kemajemukan bangsa ini telah dijadikan kaum kolonial untuk memecah belah bangsa melalui devide et empera atau politik adu domba.

Saya kira, kini konflik digunakan oleh orang-orang tertentu untuk memecah belah atau mengalihkan isu di masyaralat. Ketidakhadiran peran masyarakat yang mau berfikir untuk benar-benar memajukan bangsa tanpa embel-embel kepentingan tertentu menjadi salah satu penyebabnya.

Tak jauh-jauh soal bangsa, di kampus saja sering kita jumpai prihal perseturuan antar organisasi yang berbeda. Merah, kuning, hijau, biru dsb. Banyak yang memahami perbedaan organisasi berarti harus bertentangan baik pemikiran maupun fisik. Mahasiswa yang pada umur-umur rentan ini memang sedang dalam proses pencarian jati dirinya, sering kali terjebak pada identifikasi diri dalam pemaknaan yang keliru.

Ini terjadi di kampus yang notabene menjadi teladan bagi masyarakat, karena dipandang sebagai ranah berkembangnya intelektualitas. Inilah bukti jika manajemen konflik belum menjadi perhatian yang serius bagi kalangan intelektual sendiri. Baik pengajar maupun mahasiswa kerap kali abai terhadap permasalahan ini. Tenggelam dalam pikiran menuhankan pemahaman sendiri.

Akar permasalahan dalam konflik antar golongan ini adalah egoisme individu dan ekslusifitas golongan (penuhanan pemahaman). Individu yang merasa telah melakukan yang paling baik dan benar, lantas memiliki kepentingan (interest) masing-masing yang menisbikan kepentingan kelompok lain karena dianggap salah, menyimpang, atau kafir dalam konteks agama. Akibatnya terbentuklah apa yang disebut politik identitas. Diamana manusia menjadikan dirinya bukan sebagai manusia, tetapi identitas kolektif berdasar kepercayaan, agama, pemahaman, ras, suku, golongan, umur, dan gender.

Padahal sejatinya manusia lahir dengan identitas tunggal, sebagai manusia sutuhnya tanpa embel-embel lain, identitas manusia adalah manusia itu sendiri. Inilah mengapa seharusnya yang kita junjung sebagai manusia sejati adalah aspek kemanusiaan (humanism) dimana hak-hak asasi manusia harus terjamin keberadaannya. Hak untuk hidup dengan aman dan damai, kesehatan terjamin, pendidikan terpenuhi, menyatakan pemikiran, memilih penghidupan, menentukan masa depan dll. Aspek-aspek inilah yang harusnya kita perjuangkan bersama-sama tanpa menilik darimana kita terlahir dan pilihan berpolitik dalam sekat-sekat golongan apa yang telah kita pilih.

Menganalisa permasalahan konflik ini bisa juga melalui pemahaman akan politik identitas itu sendiri. Analisa politik identitas dikenalkan oleh L.A. Kauffman ketika membentuk SNCC (The Student Nonviolance coordinating Commite) atau perkumpulan mahasiswa anti kekerasan di tahun 1960an di Amerika. Dia menulis dan mengkritik dengan sebuah esai berjudul The Anti Politic of Identity. Tulisan inilah yang menyingkap tabir kegelisahan gejolak konflik kulit putih dengan bangsa lain baik kulit hitam dan hispanik di Amerika.

Tulisan Kauffman menjadi kunci tentang berkembangnya pemahaman kesetaraan hak asasi di Amerika, hingga muncullah orang-orang seperti Martin L. King Jr. dan Barcak Obama. Padahal sebelumnya golongan kulit hitam hanya dianggap sebagai budak atau kelas pekerja saja. Kini, Amerika memang tengah berbangga dengan konsep perbedaan yang baru berproses kurang dari seabad ini. Amerika bisa menjadi contoh terkini, tapi bukan contoh mutlak, karena banyak warga negaranya sendiri yang belum memaknai diversity ini. Khususnya warga negara yang konservatif.

Dalam pemahaman agama Islam, bisa dikatakan jika Islam telah hadir dalam memberikan solusi permasalahan politik identitas ini sejak Nabi Muhammad menyampaikan petuah-petuah Illahi. Islam hadir untuk manusia alias rahmatan lil alamain, bukan untuk golongan tertentu. Nabi mengajarkan untuk menghormati perbedaan. Menyamakan hak-hak antara lelaki dan perempuan. Mengkampanyekan pembebasan budak. Dan menyatukan golongan-golongan untuk sama-sama meninggalkan zaman kebodohan menjadi zaman penuh intelektualitas. Mengajarkan Ketauhidan untuk meninggalkan egosentrisme golongan.

Sebelum Barat tumbuh memperjuangkan apa yang disebut liberte, egalite, freternite atau asas kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan saat revolusi Prancis, atau bahkan declarataion of human rights yang baru hadir tahun1950an. Nabi Muhammad telah mengajarkan arti untuk menisbikan identitas manusia selain hakikat manusia itu sendiri yang bertanggung jawab secara langsung kepada Penciptanya. Yang dinilai oleh Tuhan bukan harta, jabatan, ras, golongan dan gender, tetapi adalah perbuatan baik-buruk masing-masing.

Nabi hadir dengan contoh-contoh universal seperti tertuang dalam piagam Madinah yang menghargai hak-hak golongan lain, Dakwah Islam hadir untuk memperjuangkan nilai-nilai humanisme atau kemanusiaan, bukan lagi sekedar nilai-nilai golongan dan etnis tertentu atau bahkan golongan mukminin pada waktu itu saja. Inilah yang layak dicontoh bagi kita generasi muda intelektual Indonesia. Jangan sampai hanya terjebak dengan politik identitas yang hanya memperjuangkan pemahaman dan hak-hak golongan kita sendiri. Tetapi mari bersama-sama memperjuangkan kepentingan bangsa yang majemuk ini.

Namun sangat miris jika bangsa ini, khususnya umat Muslim yang mayoritas kini terjebak dalam pemahaman hidup yang keliru. Mereka memaknai agama seagai identitas luar saja. Dimana mereka mendefinisikan agama sebagi jubah-jubah dan pakaian-pakaian saja dengan dalih sunah Nabi tanpa memahami maknanya. Tengoklah mereka yang menggunakan jubah-jubah dan berdandan ala Arab yang tersesat di kampung-kampung. Pemaknaan akan Islam atau dalam agama-agama lain pun masih banyak yang terjebak dalam aspek luar (pakaian dan aksesoris) dan ritual-ritual keagamaan tanpa disertai pemaknaan. Singkatnya, bergaya tanpa mau berpikir!

Maka tak heran, umat Islam kini jatuh pada jurang yang kembali kepada aspek zaman jahiliyiah yakni berpecah-pecah dalam sukuiseme dan pemahaman. Lebih tidak heran karena konon Nabi memang telah meramalkan umatnya terpecah menjadi puluhan golongan dengan pemahaman yang berbeda. Ah, saya memang skeptis tentang Muslim atau agama-agama dimana saja.

Sebagai Muslim yang baik dan benar-benar menjalankan perintah Nabi. Harusnya seorang Muslim tak lagi memaknai identitas dirinya hanya sebagai seorang Muslim yang menyemabah Allah menjalankan perintah-perintahnya (teks) tanpa disertai pemahaman yang benar (konteks). Karena sejatinya Islam mengajarkan jika manusia awalnya lahir tanpa identitas apapun selain diri MANUSIA itu. Islam juga percaya jika Tuhan Maha Hadir dimana saja (Omnipresent), jadi menghargai, menghormati, dan melindungi hak-hak orang lain  yang berbeda adalah suatu keniscayaan perintah Tuhan. Jalan hidup masing-masing adalah Tuhan yang menentukan.

Ah, kenapa saya juga malah repot-repot memikirkan orang yang bangga menuhankan pemikirannya?

Demokrasi atau Negara Islam?

Men behind the gun
Men behind the gun

Memahami Islam bukan hanya memahami sebuah agama dengan ritual-ritualnya. Melainkan memahami kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Memahaminya bukan sekedar doktrin atau dogma. Islam adalah the way of life. Bukan hanya sebatas agama dengan ritual-ritual sempit, melainkan sebuah gaya hidup yang kompleks. Siapa saja sejatinya bisa mengamalkan ajaran nabi Muhammad ini. Bukan hanya Anda atau saya pemegang KTP Islam dan pengucap syahadat sekaligus hanya penghafal ayat ini.

Agama pada dasarnya bukanlah laku jasmani yang bisa dilihat dengan indra, melainkan laku jiwa yang bisa pasang surut. Agama adalah proses seumur hidup dimana seseorang menemukan siapa sejatinya Dia Sang Pencipta dan siapa dirinya seutuhnya. Tidak ada yang bisa mencapai tingkat ”ahli” dalam bidang Ketuhanan. Semua sarjana bergelar agama bisa dikatakan sarjana palsu dan  mengada-ada. Semua kiai, alim ulama, pendeta, dan gelar-gelar petinggi agama lain tak menjamin seorang itu betul-betul paham beragama, karena masing-masing telah menafsirkan sesuai kemampuannya. Karena sifat agama bersumber dari teks sehingga harus ditafsirkan, ilmu agama- saya tekankan- bukanlah ilmu empiris seperti sains.

Karena orang bisa mengaku-aku beragama seperti Islam, tapi hatinya bisa saja sedang menolaknya atau hanya beragama demi sisi politik hidupnya saja, alias mencari titik nyaman hidup. Inilah sisi gelap politisasi agama yang makin nampak pada pamflet-pamfelt selebaran, mereka yang beragama dan berbicara tentang kebenaran agama demi mengejar kuasa, sadar atau tanpa mereka sadari.

Apalagi di tengah kerusakan yang menimpa bangsa ini. Yang sebagian besar mengartikannya sebagai krisis agama. Padahal jelas jika dipahami secara rasional, ini adalah krisis pendidikan, hukum, kemiskinan, yang bersumber dari krisis kepedulian dan kepemimpinan.

Konsekuensinya telah terlihat sangat besar karena kita menafsirkan kerusakan bangsa ini sebagai krisis agama. Bagaimana mungkin seorang Gayus Tambunan, misalnya, mengkorupsi hak rakyat dengan masih melekatkan identitas agamanya. Tetapi dia tidak dibenci dan dibakar rumahnya (saya tidak bermaksud menyarankan tingkah seperti ini). Bahkan konon hanya dihukum tujuh tahun penjara?

Sedang di suatu tempat nan terpinggirkan, seseorang yang tak berbuat aniaya (kriminal), hanya yakin jika ada pembawa pesan selain Muhammad yang dia percaya, harus kehilangan jiwanya dan hangus segala hartanya? Lalu dituduh ”menodai” agama? Dan banyak orang rame-rame menghujatnya tanpa malu-malu. Ini benar-benar krisis moral yang kritis sekaligus menjijikkan.

Dan isu agama ini selalu menjadi komoditi perbincangan yang menarik di kalangan mayoritas bangsa ini yang cinderung lebih mementingkan identitas. Kemudian menjadi isu-isu menarik yang ditampilkan di media massa yang hanya sekedar menebar sensasi, lalu mengambil opini-opini manusia jago bicara tanpa jago pikir. Lebih-lebih lagi opini pemimpin yang partisan ckckck

Sadar tak sadar mereka malah meracuni masyarakat dengan sosialisasi agama yang makin menyimpang dan tidak toleran. Maka isu-isu yang lebih penting tentang bagaimana membangun bangsa ini kedepannya pun terpinggirkan. Masyarakat lebih suka menonton ceramah hahahihi orang di televisi daripada diajak berfikir dan membaca buku untuk mentadzaburi ilmu agama. Bravo Media Massa! Hell…

Meski demikian, kita semua harus tetap optimis. Dalam demokrasi, jika kita mau mencoba mengkaji lebih dalam. Bisa lebih Islami dari sistem di negeri Arab asal agama ini lahir. Bayangkan saja, penelitian terbaru malah mencatatkan jika Selandia Baru yang mayoritas non Muslim, bisa dikatakan sebagai negara dengan prinsip-prinsip paling Islami di seluruh dunia. Bukan Saudi, Malaysia, atau Indonesia yang jauh diatas peringkat seratus. Apakah orang ber-KTP Islam seperti kita tidak malu?

Sedang disisi lain, penganut buta demokrasi di Indonesia pun malah berbangga dengan puja-puji Amerika jika kita adalah negara yang lebih demokrasi dari Amerika. Go hell with your prises! Banyak dari kita sekarang hanya dengan dipuji sudah besar kepala. Padahal Pak Karno yang hendak diberi bantuan Amerika saja berani bilang ”Go hell with your aid!” Demokrasi kita masih jauh dari harapan jika dipimpin pemimpin yang belum memahami demokrasi!

Karena final demokrasi memang buka puji-pujian. Melainkan proses yang terus berubah, pembeljaran dari satu masa ke masa. Ada check and trial yang terus menerus sesuai dinamika masyarakat. Demokrasi di Amerika, tentu beda dengan model demokrasi di Inggris, Swedia, Islandia, Selandia Baru bahkan dengan demokrasi di negeri ini. Orang sering menganggap konsep demokrasi sudah final, akibatnya, demokrasi sering disejajarkan dengan konsep final Islam, sehingga sering orang diharuskan memilih antara Islam atau demokrasi?

Padahal demokrasi bisa sangat Islami, toh sudah seharusnya demokrasi mengakomdasi semua kepentingan rakyatnya agar berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat. Jika masyarakat memang meinginginkan konsep Islami hadir dalam ranah demokrasi, itu sah-sah saja. Asalkan Islam memang benar-benar ditegakkan seperti dalam Piagam Madinah yang Nabi contohkan, bukan Islam politis seperti paham mayoritas pemimpin kita.

Karena menurut saya demokrasi tidak melulu harus sekuler. Masalahnya adalah manusia indonesia selalu mengaitkan agama dengan politik, akibatnya mau tak mau banyak yang hanya beragama karena faktor politik. Padahal politik itu masih berdimensi ganda, bisa murni untuk kepentingan rakyat atau hanya kepentingan tertentu kan?

Beginilah jika bangsa telah dikuasai agamawan sok negarawan. Selain ada manusia-manusia busuk lain seperti pengusaha sok negarawan, militer sok negarawan, mahasiswa sok negarawan, dan sosok-sosok yang sok lainnya. Mereka yang sok ini adalah mereka yang bekerja bukan karena memang ingin memajukan bangsa, tapi karena tergiur dengan uang, kekuasaan, dan nafsu berkuasa golongan, kemalasan, ketimpangan berpikir, dan yang paling berbahaya adalah terjebak dalam politik identitas. Akhirnya lingkaran setan korupsi pun tak terakhiri karena politik identitas ini.

Akar masalah kisruh berbangsa ini adalah kakunya pendidikan demokrasi di Indonesia yang kini miskin wacana dan tidak berkembang. Siapa yang mengkaji permasalahan demokrasi di Indonesia lebih serius. Para ilmuwan dan pemikir lebih suka, atau lebih laku tepatnya, jika mengkaji sebab-sebab dan saling tuduh-menuduh tanpa mau bertindak untuk sebuah solusi nyata.

Tak heran wacana negara berbasis ideologi Islam kini kembali laku di tengah gonjang-ganjing politik. Dari yang malu-malu seperti partai-partai berbasis Agama (kaum munafik). Lalu organisasi yang dengan berani dan konsep penafsiran tentang negara Khilafah seperti HTI. Hingga yang paling menyimpang dan disisipi oknum seperti NII.

Tak heran, agama selalu laku di kalangan orang yang berfikir praktis. Agama dianggap menawarkan penyelesaian masalah seperti “sim salabim abra kadabra” Seolah olah jika sudah berbau dalil ayat pasti benar dengan kerangka pikir penafsiran yang pendek tanpa kajian mendalam serta kecenderungan eksklusif.

Ya beginilah mayoritas bangsa ini, malas berfikir dan bertindak. Apa? Oh ya benar… Omdong alias omong doang, kaya saya ya? Malu ah 🙁

Menyentil Ideologi…

“Terlalu mahal dan akan banyak menelan korban untuk mengganti ideologi…”

kata Rektor UIN Jakarta, Komarudin Hidayat beberapa waktu lalu di account twitter @komar_hidayat miliknya, menanggapi kasus NII yang merebak di masyarakat belakangan ini, dan juga cukup menggoyang kampus tercinta.

Kebetulan di kesempatan lain saya juga mendengar perkataan beliau tentang ideologi, kurang lebih seperti ini, “Mahasiswa, silahkan mencari ideologi sesuai dengan kemampuannya, terserah mana yang mau dianut, toh mereka juga akan sadar akan realitanya…” katanya saat mengisi sebuah seminar tentang organisasi kampus beberapa hari lalu. Hal itu yang membuat saya berpikir dan terus berpikir, lantas mencoba mengurai benang merah persoalan bangsa ini, ideologi.

Saya pun terhenyak, sama terhenyaknya saat heboh soal definisi identitas yang menyeruak beberapa tahun silam. Nyatanya, saya, atau beberapa dari kita memang belum paham benar definisi ideologi. Bahwa memang sejak kecil kita telah terdoktrinasi dengan ideologi Pancasila, hingga kita hapal di luar kepala namun minim penggejawantahan di lapangan.

Buktinya? Saya coba tanyakan kepada beberapa mahasiswa berbagai semester dan nyatanya memang mereka tidak terlalu kenal dengan istilah fundamental ini. Maklum, saat ini mayoritas dari kami adalah penganut hedonisme yang disarikan secara keliru dari makna kebebasan, yang memang banyak disuarakan tanpa pemahaman. Inilah realita gagalnya pembentukan karakter. Ah, harapku ini hanya asumsi belaka, karena realitanya lebih menggerikan. ?

Pembelajaran Ideologi: Indoktrinasi yang Keliru

Ideologi selalu berhimpitan dengan idealis. Ideologi adalah sebuah cita-cita besar, sedang idealis adalah sikapnya. Kita selalu mengenang ideologi dengan pancasila, komunis, demokrasi, ekstrim kanan-kiri, agama, dlsb. Semua itu hanya sebagai wacana bahwa ideologi memang sudah di patenkan oleh beberapa pemikir barat. Sehingga saat ini, kajian teori ideologi bangsa ini ”lagi-lagi” nyontek pemikiran mereka tanpa sedikitpun improvisasi. Kenyataannya, tata ideologi dunia memang tidak bisa disatukan hingga tak mungkin disamakan.

Sukarno, pencetus Pancasila adalah orang yang Idealis. Baginya ideologi Pancasia yang ia kenalkan pada bangsa ini adalah sebuah pemikiran yang mampu meraup banyak massa tanpa ada pertumpahan darah. Karena Pancasila memiliki jiwa yang selaras dengan nafas kedepan bangsa yang multikultural.

Tapi kini apa hasilnya? Korupsi, Terorisme, Cikeusik, Depok, NII, dlsb. Adalah buah dari penerapan dan penjagaan ideologi yang nyata-nyata telah gagal dalam prakteknya. Lemahnya pemimpin dalam menggelola dan menjaga ideologi membuat banyak dari kita mencari-cari alternatif ideologi. Dari sekedar coba-coba dan kecil-kecilan setingkat mahasiswa (tidak terekspos) dan radikalisme-radikalisme semu hingga yang sering dibilang ekstrem seperti ideologi berbasis agama seperti NII.

Pembelajaran ideologi di ranah pendidikan sangat miskin praktik, pelajar dijejali teori dan teori yang pasti tidak akan berguna tanpa dipraktikkan. Ideologi pancasila dikenalkan kepada pelajar sekolah sebagai dasar negara yang wajib dihormati dengan taat pada guru dan rajin belajar. Ideologi dikenalkan pada bahan ajar Kewarganegaraan dengan hapalan-hapalan tekstual yang seringnya sangat menjemukan.

Akhirnya, tanpa penekanan pada aspek praktikum, cukup memberi hormat pada bendera merah putih saat upacara pun sudah dianggap sebagai praktik ideologi. Hingga saatnya mereka keluar dari ranah pendidikam sekolah, mayoritas dari mereka shock dengan bebasnya ideologi yang ada. Hasilnya, pembentukan ideologi mayoritas memang baru dicari dan terbentuk saat berada di dunia kampus, atau saat seorang manusia kini telah menemui kondisi lingkungan yang sebenarnya di luar lingkungan sekolah atau kampus.

Ideologi personal lebih penting dari ideologi kelompok.

Maksudnya bahwa tiap-tiap kita wajib punya ideologi. Akademisi, politisi, peneliti dlsb sejatinya adalah orang yang pertama-tama punya ideologi personal yang jelas bagi masa depannya. Sayang, idelogi personal saat ini tergerus oleh ideologi partial kelompok. Walhasil perasaan ideologi personal yang kadang dipupuk sendiri harus tergerus saat menemui kondisi lapangan yang mengaharuskan taat pada ideologi kelompok, yang pastinya belum tentu on the track.

Pembentukan mental atau character building sangat diperlukan dalam pembentukan ideologi personal yang kokoh, kuat, dan tahan banting. Seeorang yang punya karakter kuat sudah tentu memiliki ideologi yang mantap. Inilah keyword dalam regenerasi ideologi anak bangsa kedepanya.

Minimnya praktik ideologi digunakan oleh beberapa pihak untuk meraup keuntungan. Dengan dalih mendirikan bangsa yang lebih maju, kuat, sehat dlsb, praktik-praktik ideologi dengan pemahaman yang boleh dikatakan ”menyimpang” pun akhirnya disebarkan benih-benihnya. Dan kini tumbuh subur di negeri ini. Baik yang sembunyi-sembunyi, malu-malu kucing hingga yang dengan bangganya memerkan ideologi di jalanan-jalanan, mengobral murah dengan iming-iming kekuasaan. Atas nama rakyat, atas nama Tuhan, sigh!

Tidak salah memang, mengingat manusai dilahirkan untuk bebas dan tanpa paksaan dalam hal apapun, tetapi lagi-lagi harus on the right track. Ideologi bukan sekedar permainan, kita harus mendiskusikan, berbagi, dan mengkaji. Ideologi dalam hemat saya, kelak yang akan ditanyakan pertama kali oleh Malaikat saat kita mati. Karena ideologi mengantar kita sebagai manusia yang benar-benar manusia, baik mengakui Tuhan atau tidak bisa tercermin dalam ideologinya.

Misal, seorang komunis yang meninginkan kesetaraan pun boleh jadi lebih manusia daripada seorang Imam yang menginginkan kekuasaan. Karena ideologi sejatinya terletak pada diri pribadi masing-masing. Dan terlihat dan tercermin dalam segala ”tindakannya”.

Perang Ideologi, Masihkah ada?

Ideologi personal, ya saya yakin masing-masing dari kita punya, hanya saja terkadang tidak menyadari keberadaannya. Namun ideologi kelompok, siapa kira setelah komunis berhasil tersingkirkan dari bangsa ini beberapa waktu silam, perang ideologi tak kunjung berakhir.

Lagi-lagi dari kajian sejarah, Sukarno adalah salah satu orang yang paham dengan multikultural dan multi-ideologi bangsa yang sejatinya sulit untuk dipersatukan ini. Konsep integrasi dalam nasakom yang ia buat adalah bagian penting dari pemikiran Sukarno dalam mengintegrasikan bangsa ini. Meski belakangan kita tahu konsep itu justru memecah belah bangsa saat orde lama.

Hingga hukum alam pun berlaku dalam perang ideologi. Siapa kuat, siapa lebih banyak pengikut, siapa lebih pandai; dialah pemenang dalam perang idelogi, dan ideologi kelompok yang kini telah menjelama menjadi ideologi bangsa ini adalah hasil dari pertumpahan darah juataan manusia yang mati tanpa nama dan kubur.

Siapa kira, pertikaian ideologi bisa lebih jahanam dari penjajahan. Ini terbukti tak hanya di negeri garuda ini, berbagai negara dan bangsa pun mengalaminya. Banyak bangsa yang rela membunuh saudaranya sendiri hanya karena perbedaan ideologi. Inilah titik “kesakralan” ideologi…

Dan kini seperti kata Komarudin Hidayat di atas, terlalu mahal untuk mengganti ideologi. Tetapi, terlalu sulit juga untuk mempertahankannya, disaat ideologi semu berlahan-lahan mengahncurkan ideologi bangsa ini lewat korupsi, keyakinan membabi buta, kapitalisme a la rimba, dan nafsu-nafsu ideologi semu lainnya yang sudah sepatutnya diperangi bersama.

Dari mana kita mulai…

Ingat bahwa demokrasi yang menjadi basis Ideologi Pancasila pun juga masih mengalami trial and error. Karena ini juga hasil pemikirian alamiah manusia akan kondisi dunia yang dinamis. ”Ideologi Demokrasi Pancasila saat ini memang bukan yang sempurna, tapi paling tidak inilah yang terbaik untuk saat ini” kata Study Rizal, dosen civic education saya semester lalu yang selalu saya ingat.

Siapa duga, pikir saya, kelak akan ada geombang dunia ke berapa yang lebih nyata tentang ideologi tata kehidupan dunia yang satu padu dibawah sistem yang entah apa namanya.

Tapi sayangnya, dalam praktik beragama saya, hal itu hanya dijanjikan kelak di surga. Jadi memang ironi bahwa Tuhan sendiri tidak menjanjikan kedamaian yang satu padu di dunia ini. Tapi saya yakin, Tuhan beserta sifat-sifatnya senantiasa memberi banyak anugrah bagi hambanya yang senantiasa mencoba menginginkan tata hidup yang lebih baik seperti nabi-nabi. Sayangnya lagi, konon nabi sudah berakhir, dan ini membuat saya agak pesimis tentang kenyataan yang mungkinkah akan berubah. Who is the saviour?

Janji tentang ratu adil, mesias, dan imam terakhir menjadikan manusia kerap lupa bahwa sebenarnya saviour mereka terletak pada diri kita sendiri, kitalah yang bisa menyelamatkan kita, apa yang telah dan akan kita lakukan kelak akan dipertanggungjawabkan. Maka, sudah pasti, marilah memulai hidup kedepan dengan ideologi yang jelas, dan semua itu berpangkal dari nurani masing-masing,

Selamat menjadi manusia yang idelis…

Sastrawan

Apa Tugas sastrawan sebagai Khalifah Allah

Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang update pada perkembangan zaman. Karena contain Al Qur’an sangat lengkap di bandingkan kitab-kitab sebelumnya. Satu hal yang menarik saya adalah ayat tentang Sastrawan yang merupakan salah satu pekerjaan mulia jika ditekuni secara mendalam dengan konsep yang baik menurut Islam (Islami). Berikut QS.Asy Syu’ara ayat 224-227 yang bila diterjemahkan secara puitis oleh Ali  Hasjmy dalam bukunya

“Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah?”

Para Sastrawan,

Pengikut mereka bandit dan petualang,
Berdiwana dari lembah ke lembah,
Bicara tanpa kerja,

Kecuali sastrawan beriman,
Yang beramal bakti,
Senantiasa Ingat kan Ilahi
Mereka bebas setelah
tertindas
QS. Asy Syu’ara 224-227

Buku Ali  Hasjmy itu tidak sengaja saya temukan di tumpukan perpustakaan SMA N 3 Sukoharjo dengan kondisi tidak terawat. Saya hanya sempat membaca dan belum sempat meresensinya. Di Amazon.com bisa kita lihat cover-nya. Namun sayangnya tidak ada yang meresensi dan saya juga belum punya uang untuk membelinya…

Berikut link di Goodreads.com mengenai buku tsb:Goodreads.com